For the Love of Books

Antara Konservatisme dan Beragama à la Bandit Saints

OLEH TAUFIQ RAHMAN
Pemimpin Redaksi the Jakarta Post; editor jalankaji.net
taufiq.rahman@jalankaji.net

banditsaints
Sudah banyak pihak yang menyalakan tanda bahaya tentang “Islamist turn”, bahwa Indonesia kini sudah menjadi tempat yang konservatif, puritan dan tempat yang tidak ramah bagi kalangan minoritas. Apalagi jika Anda membaca pemberitaan media massa atau doomscrolling di media sosial, di mana kolom berita dan linimasa penuh riuh rendah kemarahan dan keputusasaan soal merajalelanya tindakan intoleransi, penutupan tempat ibadah agama minoritas dan pelarangan hal-hal yang berwarna tradisi atau yang terlalu Barat.

Obsesi pemerintah dan masyarakat terhadap Front Pembela Islam (FPI) beberapa bulan ini bisa menjadi semacam indikasi bagi adanya kekhawatiran soal meluasnya pengaruh Islam yang puritan, Islam “Timur Tengah,” atau gerakan Islam konservatif yang bisa menisbikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Juga, ketika Gerakan 212 berhasil memasung karir politik Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan menjebloskannya ke penjara, kita dihadapkan kepada kenyataan bahwa “conservative turn” di Indonesia telah menjadi kekuatan politik yang sangat menakutkan. Koran Inggris The Guardian bahkan menulis refleksi tentang perkembangan tersebut dengan judu “How Saudi Arabia’s religious project transformed Indonesia,” pada edisi 16 April tahun lalu. Sebentar lagi kita bisa jadi Saudi!

Tidak hanya media saja yang rajin membunyikan alarm. Beberapa akademisi dan peneliti politik yang rajin meneliti Indonesia juga mengikuti alur pemikiran yang sama, bahwa demi political expediency, politisi di tingkat lokal dan nasional, dengan motivasi untuk memenangkan kursi eksekutif atau legislatif, memilih untuk mengakomodasi tuntuntan figure-figur Islam konservatif hanya demi mendapatkan suara umat Muslim. Menulis di The Conversation, Alexander R Arifianto pada tahun 2018 bahwa “‘Conservative turn’ will continue in Indonesian presidential election next year”. Martin van Bruinessen bahkan punya satu buku tentang subyek ini, Contemporary Development in Indonesian Islam, Explaining the “Conservative Turn”.

Dengan semua yang telah ditulis tersebut, apakah kelompok muslim nominal, liberal dan merasa toleran cukup punya alasan untuk khawatir dengan masa depan Indonesia, atau apakah “if you tolerate this your children will be next?

Setelah membaca buku karya antropolog Australia yang fasih berbahasa Jawa halus George Quinn berjudul Bandit Saints of Java: How Java’s Eccentric Saints Are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia, saya cukup punya alasan untuk tidak usah terlalu khawatir.

Sebelum bicara banyak soal kontribusi buku ini dalam perdebatan ‘conservative turn’, saya akan bercerita soal betapa bahagia bisa menemukan buku ini. Bagi orang Jawa dari kampung yang kebetulan dibesarkan dengan tradisi Nahdlatul Ulama (NU), buku ini, dengan gaya penulisan travelogue yang ringan dan penuh humor, membawa saya ke perjalanan masa lalu ketika Bapak membawa saya ziarah ke makam-makam keramat yang 30 tahun lalu saya lakoni tanpa pernah tahu konteks sejarahnya.

Orang Jawa mengerti benar soal ini. Setiap kampung di pedalaman Jawa punya babadnya sendiri dan ada sunan atau wali dengan begitu banyak makam dengan legendanya sendiri-sendiri dari yang bertarung melawan ular raksasa sampai bersetubuh dengan jin dan Nyai Roro Kidul.

Kisah Para Sunan


Buku ini bisa menjelaskan begitu banyak makam dan pohon keramat di Jawa, yang seharusnya sudah lenyap dengan masuknya Islam. Dengan sangat brilian buku ini memberi deskrispi detail soal bagaimana orang Jawa punya caranya sendiri untuk membuat Islam dari Timur Tengah menjadi masuk akal dan tepat sasaran di tanah jin, dedemit dan genderuwo.

Juga bagi mereka yang begitu sadar akan sejarah dan bagaimana perjalanan waktu akan memberi keputusan akhir soal baik buruk, kalah menang dan kasih dan kejam, buku ini sekali lagi mendedahkan bahwa akumulasi bulan, tahun dan warsa akan punya caranya sendiri untuk menciptakan pahlawan (heroes) dan penjahat (villain). Yang awalnya bandit, dua ratus tahun kemudian, ketika ingatan masa lalu pudar ditelan hiruk-pikuk roda zaman, bisa berubah menjadi santo, wali dan nabi, dan satu-satunya peninggalan mereka dalam bentuk makam, pohon keramat atau artefak seni, menjelma menjadi sarana dan tujuan ziarah. Biarkan bandit merajalela di masanya dan beberapa abad kemudian masyarakat akan punya mitosnya sendiri.

Salah satu yang pertama saya baca di buku ini adalah bab 10 “In the Forest of the Future: Erucakra, the Coming of Muslim Messiah,” menulis laporan perjalanan ziarah ke makam Sunan Pojok di Blora, locus yang begitu akrab dengan masa kecil saya di pedalaman Jawa Tengah bagian utara, di kegelapan hutan jati dan topografi lansekap kapur Pengunungan Kendeng. Ini mungkin bab yang paling spektakuler di buku yang penuh dengan cerita-cerita yang mengagumkan. Hanya dalam satu bab tidak lebih dari 50 halaman, Quinn mampu menganyam begitu banyak kisah dari personal history penjaga makam, mendedahkan speculative history soal Jawa dari masa seribu tahun yang lalu ketika masih ditumbuhi hutan lebat yang menjadi latar bagi kisah Ramayana versi Jawa sebelum habis digunduli dan hanya meninggalkan sisa di Ujung Kulon dan Baluran.

"Orang Jawa mengerti benar soal ini. Setiap kampung di pedalaman Jawa punya babadnya sendiri dan ada sunan atau wali dengan begitu banyak makam dengan legendanya sendiri-sendiri dari yang bertarung melawan ular raksasa sampai bersetubuh dengan jin dan Nyai Roro Kidul"



Sebagai figur sejarah Sunan Pojok adalah seorang perwira tentara Sultan Agung bernama Surabahu yang sempat bertarung melawan tentara Belanda kira-kira tahun 1626 dan kemudian ditunjuk menjadi bupati wilayah Tuban. Seorang figur kabur dalam sejarah faktual, namun Surabahu menjadi Wali karena meninggal mendadak ketika melewati hutan jati Blora. Kewingitan hutan jati dan kegagahan Surabahu-lah yang kemudian membentuk mitos seorang Sunan, Quinn menjelaskan.

Dan figur seperti Surabahu-lah yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan mode produksi yang bergantung kepada hutan jati. Makam Sunan Pojok, yang bertatahkan ayat-ayat Surat Fussilat Ayat 30-32, adalah medium bagi orang Jawa untuk menghubungkan mereka dengan memori dari masa sebelum hutan-hutan primordial Jawa, yang digambarkan begitu megah dengan hewan dan tanaman eksotik di Babad Ramayana versi Jawa, dibabat habis oleh industri perkapalan dari era kedatangan Portugis dan lebih luas lagi digunduli pada era pasca Perang Diponegoro ketika Belanda melakukan proyek intensifikasi pertanian.

Di tempat lain, ingatan akan hutan primordial dengan binatang buas, terutama harimau Jawa, menciptakan tempat-tempat keramatnya sendiri. Salah satu tempat itu ada di Lodoyo, Blitar. Di tempat ini, gong Kyai Macan atau Kyai Pradah terbungkus rapi oleh kain kafan putih di pojok alun-alun kota. Dua tahun sekali, digelar arak-arakan besar untuk memandikan gong keramat ini, sebuah artefak sejarah yang keberadaannya bisa dirunut ke belakang dari saat ketika instrumen ini dipakai oleh Sunan Kudus, salah satu dari Wali Songo, sewaktu tentara Demak Islam berperang melawan kekuatan Majapahit.

Tentu saja pemain-pemain figuran seperti Sunan Pojok atau prop semacam Kyai Macan merupakan pelengkap bagi ensemble cast utama buku ini, Sembilan Wali atau Wali Songo, dengan eksistensi yand ada di persimpangan antara fiksi dan realitas.

Figur yang paling legendaris dari Wali Songo, Sunan Bonang, dengan makam yang paling banyak diziarahi di Tuban, memiliki sejarah hidup yang cukup bisa mewakili realisme magis khas Jawa. Terlahir mungkin dari keluarga China dari Lasem, Makdum Ibrahim, berkehendak menuntut ilmu ke Mekkah namun mungkin hanya sampai ke Malaka sebelum kembali ke Jawa dan mendarat di Surabaya. Dari Surabaya, Makdum berkeliling Jawa tanpa makan dan minum sampai menemukan pohon kemuning di daerah Bonang dan memutuskan untuk menetap di sana, berdasarkan petunjuk dari Nabi Khidir yang muncul secara ghaib. Dari Bonang inilah Makdum Ibrahim menjadi figur sentral bagi kemunculan Kerajaan Demak.

Sebagai figur sentral dalam mengislamkan Jawa, Sunan Bonang memiliki begitu banyak mitos, yang salah satunya baru saya baca melalui penuturan ulang George Quinn di buku ini. Dalam perjalanannya untuk mengislamkan Kerajaan Kediri, Sunan Bonang harus berhadapan dengan raksasa Buta Locaya dan dalam pertarungannya dengan demit ini, dia sempat membelokkan aliran Sungai Brantas agar tidak mengalir melewati wilayah yang ditinggali orang non-Islam (atau disebut Buda, dari nama agama Budha. Dan saya masih ingat dari masa kecil ketika Ibu saya menggunakan kata ‘Buda” untuk menyebut tetangga yang tidak menjalankan shalat lima waktu, pilar utama agama Islam).

Tentu saja bandit par excellence di buku ini adalah Sunan Kalijaga, dengan kisah hidup yang bisa menjadi alegori bagi masuknya Islam ke Jawa. Dengan baju tradisional Jawa, beskap, blangkon dan lurik, Kalijaga adalah simbolisasi tentang bagaimana Islam pada akhirnya dijinakkan oleh Jawa dan bukan sebalikanya. Setelah Sunan Bonang, Kalijaga adalah figur yang paling sentral dalam Islam Jawa, peran yang dimainkan ketika menentukan arah kiblat untuk Masjid Demak, yang meskipun pada akhirnya salah arah menurut hitungan matematika modern, namun bertahan ratusan tahun dan menjadi pedoman arah bagi pembangunan masjid di Jawa. Bahkan ketika ada fatwa MUI untuk mengubah arah sholat dari Masjid Demak pada tahun 2010 berdasarkan kalkulasi paling mutakhir, warga tetap tidak bergeming dan memakai standar lama.

Penolakan kiblat baru a la MUI adalah juga simbolisme yang kuat bagi upaya purifikasi Islam a la Timur Tengah atau apa yang ditulis peneliti sebagai “conservative turn”. Menurut Quinn, mayoritas orang Jawa masih menerima cerita-cerita magis itu sebagai realitas batinnya, sebuah ingatan kolektif atas Jawa pra-Islam dan mereka tetap memelihara ingatan itu dengan mengunjungi tempat-tempat perziarahan, makam sunan dan wali, pohon tua, memandikan gamelan dan hewan yang disucikan. Cirebon, Demak sampai Tuban, di situs-situs keramat tersebut Umat Islam Jawa, yang dipersepsikan menjadi semakin taat beragama, tetap bertahan dengan ritual itu, memanjatkan doa-doa dari Qur’an bagi keselamatan dunia dan akhir melalui perantara para Wali dan pembantunya.

Jika begini, sepertinya Indonesia akan terus baik-baik saja.

Info Buku:


Judul: Bandit Saints of Java: How Java's Eccentric Saints Are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia
Penulis: George Quinn
Penerbit: Monsoon Books Ltd, Leicestershire; 2019
Tebal : 435 halaman
ISBN: 978-191-2049-44-8