For the Love of Books

February 2021

Cari Buku

OLEH YOSHI ANDRIAN
Editor Jalankaji.net, illustrator
yoshi.andrian@jalankaji.net

yoshi4

Buku Kedua Dibawa ke Mars

OLEH DWINITA LARASATI
Dosen Desain Produk Industri FSRD ITB, Ketua Bandung Creative City Forum; pembuat dan penerbit graphic diary
tita.larasati@jalankaji.net

tita3

Dari Krisis ke Krisis: Membandingkan Indonesia, Burma, dan Thailand

OLEH WAHYU SUSILO
Direktur Eksekutif Migrant CARE, pernah sebentar belajar perbandingan politik di UI

Pertikaian politik kembali menyeruak ketika kalangan militer Myanmar meragukan keabsahan Pemilu Myanmar yang menghasilkan kemenangan mutlak partai pimpinan Aung San Suu Kyi (National League of Democracy/NLD) dan menyingkirkan partai-partai bentukan militer. Keraguan militer dilancarkan dalam statemen pimpinannya yang menuntut adanya penyelidikan atas kecurangan politik.

Pertikaian ini kemudian mengarah pada krisis politik yang akhirnya berujung pada kudeta yang dilancarkan militer Myanmar ditandai dengan penangkapan Aung San Suu Kyi dan para pemimpin sipil lainnya. Langkah itu diambil tepat pada tanggal 1 Februari 2021, saat dimana seharusnya para anggota parlemen terpilih pada Pemilu November 2020 memulai kerja legislasinya.

Sembari menyiapkan langkah-langkah solidaritas menyikapi tindakan anti demokrasi di Myanmar bersama para pembela hak asasi manusia dan demokrasi di Asia Tenggara, saya kembali mencari buku lawas karya Priyambudi Sulistiyanto ini dari rak buku perpustakaan.

Sebelumnya, pada bulan September-Oktober 2020, saya juga membaca lembar-lembar buku ini terutama di bagian Thailand ketika terjadi krisis politik di Thailand. Ribuan kaum muda turun ke jalan menentang dominasi militer dan melabrak tabu monarki. Tuntutan demokrasi dan menolak dominasi militer tentu hal yang wajar karena Thailand juga beberapa kali diguncang kudeta militer. Namun keberanian kaum muda melabrak tabu monarki ini hal yang baru. Fenomena inilah yang perlu dilihat kembali dari bagian pembahasan tentang Thailand dalam buku ini. Read More…

Penasaran Baca Buku

OLEH YOSHI ANDRIAN
Editor Jalankaji.net, illustrator
yoshi.andrian@jalankaji.net

yoshi3

Laurie Garrett, Ebola dan Pulitzer

OLEH IRWAN JULIANTO
Pensiunan wartawan Harian Kompas (1981-2013)


garrett
Motaba. Anda tak dapat melihatnya. Tapi Anda dapat mati karenanya. Dan amat cepat. Karena Motaba adalah virus paling mematikan yang pernah dikenal oleh sains. Jauh lebih ganas ketimbang virus Ebola yang menimbulkan kematian akut dalam seminggu dan tahun lalu menimbulkan wabah di Zaire, apalagi virus HIV penyebab AIDS kronis tapi kini menjadi momok dunia.

Laboratorium USAMRIID (United States Army Medical Research Institute of Infectious Diseases) di Frederick, Maryland, meneliti HIV-1 di lab dengan tingkat bahaya penyakit menular kedua atau biosafety level-2 (BL-2), HIV-2 di BL-3, sedang virus Ebola di BL-4, tingkat yang paling tinggi. Tak mengherankan jika kepanikan terjadi ketika tahun lalu diketahui bahwa virus Motaba menjalar dari pedalaman Zaire di Afrika ke Cedar Creek, sebuah kota kecil di California. Kota itu nyaris dimusnahkan dengan bom agar virus Motaba tidak menjalar ke seluruh Amerika.

Read More…

Tiga Buku Dibawa Ke Mars

OLEH DWINITA LARASATI
Dosen Desain Produk Industri FSRD ITB, Ketua Bandung Creative City Forum; pembuat dan penerbit graphic diary
tita.larasati@jalankaji.net


tita02

Memahami Mosaik Intoleransi Kontemporer di Indonesia

OLEH ALIF SATRIA
Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS

intoleransi
Semenjak istilah conservative turn dipopulerkan oleh van Bruinessen pada tahun 2013, isu intoleransi di Indonesia telah menjadi fokus besar dari banyak studi. Berbagai penulis telah mencoba untuk meneliti beragam dimensi intoleransi –– baik dari tren tindakan intoleransi (Wahid Foundation, 2016), proses penetapan peraturan daerah syariah yang intoleran (Pisani and Buehler, 2016), respon aparat pemerintah terhadap tindakan intoleran (Fauzi dan Panggabean, 2015), maupun dinamika interaksi antara struktur politik negara dengan tindakan intoleran (Ahnaf et. al., 2015).

Namun terlepas dari kayanya studi-studi ini, sesungguhnya belum ada konsensus konkrit terkait sebab peningkatan intoleransi di Indonesia. Bahkan, merespon serangkaian demonstrasi Aksi Bela Islam (ABI) pada akhir tahun 2016, berbagai pemerhati masih memperdebatkan apakah demonstrasi tersebut merupakan manifestasi meningkatnya intoleransi di Indonesia.

Saat Assyaukanie (2017) melihat fenomena tersebut sebagai tip-of-the-iceberg peningkatan konservatisme masyarakat Indonesia, studi Meitzner dan Muhtadi (2018) justru menemukan sikap konservatif masyarakat Indonesia menurun sebelum terjadinya rangkaian demonstrasi tersebut.

Para penulis buku Intoleransi dan Politik Identitas Kontemporer di Indonesia memiliki proposisi yang berbeda dalam diskusi ini –– bahwa sesungguhnya karakteristik intoleransi di Indonesia tidaklah monolitik dan terlalu kompleks untuk disimpulkan secara nasional. Read More…