For the Love of Books

Berburu Makanan Jepang Yang Otentik


OLEH NURAN WIBISONO
Editor jalankaji.net
nuran.wibisono@jalankaji.net

Tahun 2020 akan segera berakhir. Beberapa hari ke depan, kami akan memuat tulisan-tulisan ringkas dari para editor di jalankaji.net mengenai buku favorit yang mereka baca selama tahun 2020 di tengah masa pandemi ini.

Redaksi Jalankaji.net

| |
sushi_and_beyond
Ada banyak buku menarik yang saya baca tahun ini, baik buku terbitan 2020 (This Album Could Be Your Life terbitan Elevation Books, atau Babat Alas Dangdut Anyar bikinan Michael H.B Raditya, misalkan) ataupun yang sudah terbit bertahun, bahkan berdekade, lampau. Di kategori ini, membaca ulang buku Balada Si Roy —untuk memperingati pembuatan filmnya— masih memberikan api yang sama seperti ketika membacanya beberapa belas tahun lalu.

Namun dari buku kategori lama yang saya baca tahun ini, tak ada yang mengalahkan kesenangan saya ketika membaca Sushi & Beyond: What Japanese Know About Cooking yang ditulis Michael Booth dan diterbitkan pada 2009. Ini buku yang saya beli sewaktu residensi setahun silam. Saya sempat skimming buku ini jelang pulang, Desember 2019 hingga awal Januari 2020. Saya baru membaca secara “serius” buku ini sekitar bulan April-Mei 2020, ketika kejenuhan di rumah mencapai titik kulminasi dan butuh bacaan yang menghibur.

Buku ini mengisahkan Booth, penulis Inggris, yang pergi ke Jepang dengan motivasi mencari makanan Jepang otentik karena gojekan dengan karibnya, Katsotoshi Kondo, pria campuran Jepang dan Korea, yang (dalam derajat tertentu memang sangat diperlukan) amat memuja makanan Jepang dan meremehkan kuliner Eropa.

Suatu hari, Toshi memberi buku Japanese Cooking: A Simple Art (Shizuo Toji, 1979) pada Booth. Buku itu, ujar penulis kuliner Ruth Reichl, bukan sekadar buku masak, melainkan “sebuah risalah filsafat (tentang masakan Jepang).”

Di buku itu, pandangan Booth terhadap masakan Jepang mulai berubah. Ia amat mengagumi falsafah memasak Jepang: dari pandangan orang Jepang terhadap nasi, pentingnya alat makan, hingga makanan yang menyesuaikan musim. Kemudian Booth membandingkan buku Toji dengan buku-buku memasak hidangan Jepang yang membanjiri toko buku sekarang. Bahkan, menurut Booth, sejak diterbitkan lebih dari empat dekade lalu, buku Toji adalah yang paling otoritatif perihal memasak hidangan Jepang. “Buku ini adalah awal mula sekaligus akhir,” begitu Booth menulis.

Satu sisi, semakin banyaknya buku tentang masakan Jepang menandakan popularitasnya yang terus naik. Di sisi lain, nyaris nihil buku yang membahas dalam tentang makanan Jepang sekarang: seperti apa keadaannya, apa yang disantap di Jepang, dan bagaimana masa depan makanan Jepang yang makin terkomodifikasi.

Pertanyaan Booth itu sudah dijawab Toji pada empat dekade lalu,

Maaf, tapi kuliner kami sudah tak lagi otentik. Ia sudah dipenuhi makanan beku.”

Kalimat Toji itu membuat Booth penasaran dan terus bertanya-tanya: "apakah iya sudah tak ada lagi makanan Jepang otentik, bahkan di Jepang sendiri?"

Untuk mencari jawaban itu, Booth merencanakan perjalanan ke Jepang. Dari Hokkaido yang paling utara, Booth berencana pergi ke Tokyo. Lalu ke Kyoto, Osaka, Fukuoka, dan Okinawa. Dalam bayangan ambisius Booth, ia akan mencicipi bahan baku lokal, belajar tentang filosofinya, teknik pembuatan, dan soal kesehatan.

"Satu sisi, semakin banyaknya buku tentang masakan Jepang menandakan popularitasnya yang terus naik. Di sisi lain, nyaris nihil buku yang membahas dalam tentang makanan Jepang sekarang: seperti apa keadaannya, apa yang disantap di Jepang, dan bagaimana masa depan makanan Jepang yang makin terkomodifikasi"


Lalu sampailah Booth ke permasalahan krusial: izin ke istri.

Istrinya salah paham dan mengira Booth mengajak keluarganya turut serta. Jadilah, perjalanan ambisius yang direncanakan bisa memberikan pengalaman dan pelajaran tentang kuliner Jepang, menjadi perjalanan keluarga.

Booth, dengan gaya penulisan penuh humor dan detail, membawa saya menyusuri Shonben Yokocho untuk makan di izakaya bareng para salary man, merasakan sengatan wasabi di lereng gunung Amagi, membayangkan Jepang yang kemungkinan akan mengalami krisis sake, dan terkekeh membaca percakapan Booth dengan pria Jepang bernama Haruki (yang tak tahu siapa itu Haruki Murakami) tentang “rub Hello Kitty” sebelum masuk ke perkara sushi.

Beyond Sushi adalah buku bersenang-senang yang komplit. Booth menunjukkan kelihaiannya sebagai penulis perjalanan yang doyan makan. Mungkin agar ia tak dianggap sebagai penulis mbanyol penuh waktu, Booth melengkapi buku ini dengan beberapa data dan kisah sejarah. Cukup berhasil memberikan kesan sebagai penulis serius dengan riset yang cukup oke.

Meski sudah 11 tahun berlalu, buku Booth masih terasa menyenangkan dibaca. Beberapa kisahnya bahkan makin terasa relevan, termasuk krisis sake di Jepang karena banyak faktor. Mulai dari berkurangnya sake master, citra sake yang dianggap minuman om dan tante, hingga kalah saing dengan bir.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Cara bertutur Booth sederhana, tak banyak akrobat, membuat buku ini cocok menemani masa-masa kelabu tahun ini. Sembari membayangkan tahun depan akan lebih baik, dan bisa mengunjungi Jepang: jajan enak sambil berburu piringan hitam bekas.
Info Buku:


Judul: Sushi & Beyond: What the Japanese Know about Cooking
Penulis: Michael Booth
Penerbit: Vintage, 2010
Tebal : 336 halaman
ISBN: 978-0-0995-1644-6