For the Love of Books

Boyd Compton dan Studi Indonesia

OLEH HAMID BASYAIB
Penulis dan Komisaris Utama PT Balai Pustaka



| |
kemelut demokrasi_liberal
Bang Fachry Ali menulis tentang surat-surat yang saya terjemahkan hampir 30 tahun lalu dan diberi judul Kemelut Demokrasi Liberal: Surat-surat Rahasia Boyd R. Compton (LP3ES, Jakarta 1993). Cerita Bang Fachry kontan mengingatkan saya pada kisah dan proses di balik penerjemahan buku itu. Saya mendapatkan surat-surat itu ketika masih tinggal di Jogja, dari almarhum Dr Afan Gaffar, yang mendapatkannya dari gurunya di Ohio State University, Profesor R. Wiliam Liddle, yang kami panggil "Pak Bill."

Bentuknya surat ketikan biasa, dan rata-rata terdiri dari 5 sampai 10 halaman. Belum terjilid, belum tersusun. Surat-surat Compton itu ditujukan kepada direktur sebuah lembaga di Amerika, kalau tak salah bernama Institute of World of Affairs, yang membiayainya tinggal di Indonesia, mulai 1952 (hingga 1957). Compton pergi ke beberapa daerah, di terutama Jawa, meskipun dia berbasis di Jakarta.

Ia bahkan sampai ke Aceh untuk menemui Tengku Daud Beureuh, pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang, menurut Compton, sempat "ditendang ke atas" dengan diberi jabatan penasihat Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, agar terpisah dari pengikutnya yang bisa mengobarkan pemberontakan.

Dalam salah satu suratnya, Compton menyalin surat lain, katanya dari seorang peneliti Barat, yang dengan sangat halus memperingatkan rekan-rekannya sesama peneliti untuk tidak memperlakukan Indonesia sebagai kelinci percobaan, hanya karena merupakan negara baru.

Rupanya surat-surat Compton beredar luas di kalangan para Indonesianis pada masa itu. Kita tahu waktu itu belum banyak Indonesianis yang datang untuk meneliti Indonesia; mungkin pionir utamanya adalah George McTurnan Kahin dari Universitas Cornell, yang datang sekitar 1947 dan menjalin persahabatan pribadi dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Haji Agus Salim, Mohamad Roem, Hamid Algadri, dan lain-lain.

Compton menyalin surat lain, katanya dari seorang peneliti Barat, yang dengan sangat halus memperingatkan rekan-rekannya sesama peneliti untuk tidak memperlakukan Indonesia sebagai kelinci percobaan, hanya karena merupakan negara baru.



Kahin kemudian (1954) mendirikan Modern Indonesia Project di Cornell; lembaga yang diabdikan untuk mengikuti perjalanan bangsa Indonesia sejak berusia sembilan tahun. Lembaga itu melahirkan jurnal enam bulanan bernama "Indonesia", yang sampulnya selalu bergambar tokoh wayang, dan kemudian dikelola oleh Indonesianis generasi berikutnya seperti Benedict Anderson dan kawan-kawan. Berkat perantara Kahin juga maka, misalnya, The Grand Old Man Haji Agus Salim menjadi dosen tamu di Cornell.

Compton hadir di Indonesia beberapa bulan sebelum kedatangan rombongan peneliti muda dari MIT yang dipimpin oleh antropolog yang kemudian sangat masyhur, Clifford Geertz. Dalam sebuah suratnya ia menyinggung tim MIT ini tanpa menyebut nama; dia tidak pernah bertemu mereka tapi, katanya, ia dengar mereka adalah peneliti-peneliti muda yang cemerlang. Compton berharap mereka akan memberi sumbangan penting bagi studi Indonesia kelak.

Harapannya terwujud. Geertz dan kawan-kawan yang berbasis di "Mojokuto" itu kemudian melahirkan banyak karya penting antropologi, selain karya seminal Geertz sendiri, "The Religion of Java", yang telah menjadi klasik dalam studi antropologi di dunia, bukan hanya Indonesia. Pemilahan orientasi politik di kalangan santri, abangan dan priayi -- yang sampai hari ini masih sering disebut -- adalah temuan Geertz yang cemerlang.

***

Tugas saya untuk surat-surat Boyd Compton itu melampaui penerjemahan. Saya meredaksi surat-surat itu, mengelompokkan mereka menjadi bab-bab, dengan pendekatan tematis, bukan kronologis. Beberapa surat dari 50-an pucuk itu tidak saya terjemahkan karena pertimbangan relevansi.

Compton menulis dengan sangat baik dan rapi. Dia tidak menoleransi satu pun kata atau huruf yang salah, dan selalu memberi koreksi dengan pulpen untuk surat yang telanjur jadi dan akan merepotkan jika harus menulis ulang.

Gaya literernya pun luar biasa. Ia menulis laporan politik dengan imajinatif, menjadikan prosanya indah dan kuat. Penulis ilmu-ilmu sosial perlu belajar dari laporan-laporan semacam ini, agar tulisan mereka tidak "kering" dan tanpa warna, hanya karena bidang mereka "tidak indah" atau memang dianggap tidak boleh ditulis dengan imajinatif.

Saya sendiri banyak belajar dari proses menerjemahkan karya Compton, seorang master dalam studi Cina lulusan Universitas Yale, yang kala itu berusia 26.

Karya yang baik selalu membekas dalam ingatan kita. Meski telah berlalu hampir 30 tahun, saya masih ingat cukup banyak surat Compton itu dan juga sudut-pandang atau pokok-pokok bahasannya.

Misalnya, dia mengulas kata "segan" dalam bahasa Indonesia. Kata ini tidak ada dalam bahasa Inggris. Dia sering bingung mendengar "segan" diucapkan dalam berbagai konteks, termasuk dalam konteks politik di tingkat tertinggi atau dalam kaitan dengan Presiden Sukarno. Ia kemudian tertarik untuk mendalami apa sesungguhnya makna kata ini dalam suatu hubungan sosial di Indonesia.

Ia juga bercerita tentang Tarian Muda-mudi, ciptaan koreografer keraton Jogjakarta, yang tampaknya pesanan Bung Karno, untuk mengimbangi kegandrungan kaum muda Indonesia terhadap dansa foxtrot Barat, yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran. Maka, peluncuran "Muda-mudi" dilakukan di Istana Negara, dihadiri oleh Presiden, yang menyaksikan demonstrasinya dengan gembira.

Beberapa pasang muda-mudi menari di lantai dansa; jarak mereka sangat dekat, tapi tidak sampai bersentuhan -- inilah yang dimaksud "sesuai dengan adat ketimuran." Compton mencantumkan foto sepasang penari, dan membuka suratnya dengan kalimat, "Anak muda bertampang sedih ini adalah....." Ia benar. Tiada keceriaan apapun di wajah sang pemuda penari, meski nama tariannya menjanjikan keriangan hidup.

***

Compton heran mendapati begitu banyak orang bicara dengan berteriak di jalan-jalan Jakarta, sebagaimana dia tak mengerti kenapa begitu sering truk-truk mengangkut banyak orang untuk berjalan keliling kota tanpa tujuan yang jelas. Barangkali ini bagian dari euforia sebuah masyarakat yang telah terlalu lama tidak mendapat kebebasan karena kolonialisme.

Ia menceritakan jatuh-bangunnya kabinet-kabinet parlementer di awal 1950-an, dengan segala keganjilannya dari segi politik. Misalnya, ada kabinet yang hanya berusia tiga bulan dan mereka ikut dijatuhkan oleh partainya sendiri. Tampaknya yang retak internalnya paling parah adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), tempat bernaung Ali Sastroamidjojo dan Wilopo, dua orang yang pernah menjabat perdana menteri.

Semuanya memang masih dalam fase belajar bernegara dan berdemokrasi, sebagai negara baru. Tapi "kabinet pagi-sore" inilah yang kemudian dianggap sebagai kelemahan atau kegagalan besar sistem parlementer dan periode itu mendapat stigma "demokrasi liberal" yang dipastikan tidak cocok untuk Indonesia -- sampai hari ini.

Dalam studi tentang isu ini, Compton terhitung pelopor sebab dia melihatnya dari dekat dan menuliskannya di saat krisis-krisis kabinet semacam itu sedang berlangsung. Ia juga meliput ke beberapa daerah saat Pemilu 1955, pemilu yang dianggap demokratis. Ia melampirkan foto-foto suasana pemilu itu dalam suratnya, dan dari situ kita tahu betapa sederhananya bilik pencoblosan di masa; rata-rata terbuat dari hanya anyaman bambu atau geribik (gedek) seadanya. Betapa mengharukan melihat bagaimana sebuah bangsa baru berusaha sebisa-bisanya, dengan perangkat seadanya, mengikuti norma-norma modern untuk membangun sebuah masyarakat beradab dan demokratis.

Compton tidak mengabaikan sisi-sisi sosiologis atau antropologis dari negeri baru yang sedang dikunjungi dan dijajakinya sebagai calon tema disertasinya. Ia mengunjungi seorang bekas anak buah kapal yang dikenalnya di San Francisco, yang tinggal di Pasar Kemis, Jakarta, yang waktu itu dikenal sebagai sarang copet.

Suatu pagi ia bersepeda ke rumah sang kawan, dan segera menjadi tontonan -- seorang bule jangkung yang mungkin baru kali itu terlihat di tengah kampung -- dan diajak terlibat dalam obrolan genit, terutama oleh seorang gadis yang tak henti cekikikan sambil mengajarinya beberapa kata berkonotasi seksual. Mereka makan siang dengan ayam goreng yang sebelumnya harus dikejar-kejar dulu untuk disembelih.

Compton menceritakan bagaimana sang kawan, yang terlihat berperan sebagai intelektual di Pasar Kemis, mengeluhkan kondisi di kampungnya yang sangat berbeda dari kehidupannya sebagai kelasi kapal, yang sering berpergian ke tempat-tempat nyaman di banyak negara. Ia kesal melihat banyak orang berludah sembarangan. Ia rindu berlayar lagi. Tapi tak bisa meninggalkan Mien, isterinya.

Bagi dia, yang terpenting untuk masyarakatnya adalah pendidikan. Dia juga memelihara dua ekor sapi yang, menurut Compton, "dengan tepat dinamai 'Merdeka' dan 'Sekolah'."

Silaturahmi yang mengesankan itu berakhir sesudah magrib. Dalam keremangan senja, Compton menyusuri gang-gang kecil, dan ketika tiba di dekat jalan raya menuju pasar, sebelum mengayuh sepedanya, ia meraba dompetnya, memastikan benda itu akan tetap di situ.


Setelah hampir lima tahun berkeliling ke banyak daerah di Indonesia, ia melanjutkan perjalanan ke Belanda dengan niat studi doktoral di Universitas Leiden. Ia menganggap Belanda sangat penting untuk keperluan studinya karena negeri itu menjajah Indonesia begitu lama. Ia kemudian membatalkan niatnya tanpa alasan jelas, kembali ke Amerika dan memasuki bisnis energi angin. Namanya tak pernah terdengar lagi sebagai peneliti atau akademisi.

Fachry Ali menulis pengantar panjang yang sangat baik untuk Kemelut Demokrasi Liberal. Ketika Compton sendiri diminta oleh penerbit LP3ES untuk menulis pengantar atau semacam postschrift atas kumpulan surat-suratnya, ia mengatakan ia harus datang lagi ke Indonesia selama sekian waktu untuk keperluan itu. Untuk itu ia harus mengeluarkan biaya tidak sedikit. LP3ES rupanya tidak sanggup memenuhi persyaratan yang mahal itu.

Saya yakin, jika saja Compton menuntaskan studi doktoralnya, ia akan menjadi salah satu sarjana besar dalam studi Indonesia, setara dengan George Kahin, Daniel Lev, Ben Anderson, Herbert Feith dan Bill Liddle. Ia meninggal beberapa tahun lalu; infonya saya ketahui dari situs alumni Universitas Yale.

Bagi para peminat studi Indonesia, saya rasa buku Compton bisa menjadi sumber berharga, khususnya untuk masa formatif negeri ini, meski hanya berupa kumpulan surat yang ditulis dengan gaya yang kurang-lebih personal. Saya sendiri berusaha menerjemahkannya dengan sebisa-bisanya menyesuaikannya dengan idiom Indonesia dalam ragam lisan.

Misalnya, jika Compton mengutip langsung ucapan ucapan para tokoh politik, terutama Bung Karno, saya mencoba membayangkan caranya bicara, lengkap dengan fraseologi dan gramatikal yang masih sangat terpengaruh oleh gramatika Belanda. Bung Karno, umpamanya, sangat mungkin menggunakan "kau" atau "engkau" atau "saudara" dalam pidato atau percakapan personalnya. Dalam bahasa Inggris semuanya adalah "you" -- dan saya tidak menerjemahkannya menjadi "Anda".

Dalam pidato Bung Karno yang terkenal di Amuntai misalnya, Compton menyalin dan menginggriskan pidato itu cukup panjang. Dan saya tidak menemukan teks aslinya dari sumber Indonesia. Karena itu saya menerjemahkannya dari teks terjemahan Compton itu -- sebuah teks Indonesia yang diterjemahkan ke Inggris dan harus dikembalikan ke Indonesia.

Di situ saya mencoba mengerahkan seluruh imajinasi dan membayangkan bagaimana kira-kira bahasa pidato Bung Karno. Tidak mudah, tapi ikhtiar ini menarik dan memaksa saya belajar.

Info Buku:


Judul: Kemelut Demokrasi Liberal: Surat-Surat Rahasia Boyd R. Compton
Judul asli: Onna no inai Otokotachi, (2014)
Penulis: Boyd R. Compton
Penerjemah: Hamid Basyaib
Penerbit: LP3ES, Jakarta; 1993
Tebal : 506 halaman
ISBN: 9798-0-15819