For the Love of Books

Antropologi

Antara Konservatisme dan Beragama à la Bandit Saints

OLEH TAUFIQ RAHMAN
Pemimpin Redaksi the Jakarta Post; editor jalankaji.net
taufiq.rahman@jalankaji.net

banditsaints
Sudah banyak pihak yang menyalakan tanda bahaya tentang “Islamist turn”, bahwa Indonesia kini sudah menjadi tempat yang konservatif, puritan dan tempat yang tidak ramah bagi kalangan minoritas. Apalagi jika Anda membaca pemberitaan media massa atau doomscrolling di media sosial, di mana kolom berita dan linimasa penuh riuh rendah kemarahan dan keputusasaan soal merajalelanya tindakan intoleransi, penutupan tempat ibadah agama minoritas dan pelarangan hal-hal yang berwarna tradisi atau yang terlalu Barat.

Obsesi pemerintah dan masyarakat terhadap Front Pembela Islam (FPI) beberapa bulan ini bisa menjadi semacam indikasi bagi adanya kekhawatiran soal meluasnya pengaruh Islam yang puritan, Islam “Timur Tengah,” atau gerakan Islam konservatif yang bisa menisbikan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Read More…

Mematahkan Mitos Pribumi Malas

OLEH PURI K.P
Bekerja di Accenture Kuala Lumpur; editor jalankaji
puri.kp@jalankaji.net


| |



the myth of lazy native
Februari 2020, sepekan setelah saya menetap di Kuala Lumpur, saya bertanya kepada salah satu teman asli kota ini, “What is the best book that I can read to understand better this country?” Dengan mantap ia menjawab, “You should read the book of Syed Hussein Alatas, The Myth of the Lazy Native. The book is old, yet still important to be highlighted until now.” Ia berusaha meyakinkan saya untuk membaca buku itu, karena the Myth akan membawa banyak pemahaman penting tentang persepsi bangsa non Asia – semenjak masa kolonial hingga sekarang, khususnya mengapa cap pemalas selalu diberikan sebagai karakteristik tiga ras serumpun: Melayu, Jawa, dan Filipina – yang sebenarnya amat bisa dipatahkan, dan yang terpenting – mengapa sulit bagi Malaysia untuk membangun identitas ke-Malaysiaan-nya.

The Myth of the Lazy Native terhitung buku langka dan sulit ditemukan di toko buku utama di Malaysia. Tapi seperti laiknya benda-benda lama yang kembali populer sekarang, saya kembali menemukannya di sebuah toko buku indie di Kuala Lumpur.

Pada 12 babnya, Syed Hussein Alatas memberikan kritik meluas terkait konstruksi dan praktik kolonial kepada suku Melayu, Jawa, dan Filipina. Kritik utamanya diberikan kepada bentuk kapitalisme kolonial yang coba dirancang dan dibangun serta realitanya diberikan kepada wilayah jajahan mereka. Tentu saja, dengan intensi agar kepentingan kolonial dalam roda-roda kapitalisme terus bertahan, dan relasi kuasa antara penjajah dan jajahannya langgeng. Read More…

Sabda dari Surga

OLEH ERWINTON SIMATUPANG
Peneliti Populi Center




| |

hata ni debata
Beberapa dekade selepas Nommensen mengabarkan Injil di Tanah Batak, Sitor Situmorang menulis cerpen "Ibu Pergi ke Sorga". Di dalamnya, kita bersua dengan satu keluarga Batak Kristen, akan tetapi memiliki pandangan yang berbeda terhadap agama itu: seorang anak lelaki yang sudah enggan bersentuhan dengan agama; ibu yang rutin ke gereja dan mengikuti kegiatan agama; dan bapak yang tampaknya belum beranjak dari praktik Parmalim, sekalipun sudah dibaptis menjadi seorang Kristen.

Jika Sitor Situmorang secara terang benderang menggambarkan sikap si anak dan ibu terhadap agama, ia justru secara samar-samar, atau tidak terlalu gamblang, mengilustrasikan keyakinan si bapak. Dalam benak orang Batak (Toba), khususnya mereka yang sudah berafiliasi dengan agama di luar Parmalim, (penganut) agama Parmalim acap kali digambarkan dengan takhayul, mantra, dan makan sirih. Dan Sitor Situmorang mendeskripsikan si bapak persis seperti itu:

"Ia (baca: bapak) masih mengucapkan mantera kalau ada kejadian istimewa dengan diri atau keluarganya... Ia duduk sendirian di sudut ruangan dalam yang besar sambil menumbuk sirihnya di lesung kecil dibuat dari perak".
Read More…

Pakta Pertanian: Perjanjian Dengan "Setan"

OLEH HATIB ABDUL KADIR
Dosen Antropologi, Universitas Brawijaya Malang
Meraih gelar Ph.D di UC Santa Cruz, Amerika Serikat.



| |



the_devil
Michael Taussig dalam karya babonnya, The Devil Commodity Fethisism in South America menggambarkan ketergantungan petani tembakau, kina, kopi, karet di Lembah Cauca, Kolombia terhadap uang tunia. Ketergantungan terhadap uang tunai ini digambarkan dengan penuh metaforis. Para buruh upahan di perkebunan Kolumbia melakukan kontrak dengan setan agar dapat meningkatkan produktivitas mereka. Uang dipercaya bersifat gersang (tidak subur) tidak dialokasikan untuk menjadi modal dan dikembangkan melalui bunga. Karena sifat tandusnya, uang yang diinvestasikan ke tanah, maka tanah tersebut tidak akan menghasilkan buah. Jika ia dibelanjakan hewan, ia akan tidak akan gemuk, namun mengalami kematian. Para pekerja di perkebunan mengalokasikan uang mereka dengan konsumsi foya-foya.

Namun, secara moral, uang dapat dikembangkan menjadi subur dengan cara ditransferkan melalui ritual. Ritual baptisme di perkebunan Kolombia merupakan aksi untuk mengubah sifat uang yang tandus menjadi subur. Ritual baptis menyembah Tuhan merupakan antitesis dari sifat setan yang ada dalam karakter bunga uang yang menjadi modal (interest bearing capital).   Read More…