For the Love of Books

Jurnalistik

Laurie Garrett, Ebola dan Pulitzer

OLEH IRWAN JULIANTO
Pensiunan wartawan Harian Kompas (1981-2013)


garrett
Motaba. Anda tak dapat melihatnya. Tapi Anda dapat mati karenanya. Dan amat cepat. Karena Motaba adalah virus paling mematikan yang pernah dikenal oleh sains. Jauh lebih ganas ketimbang virus Ebola yang menimbulkan kematian akut dalam seminggu dan tahun lalu menimbulkan wabah di Zaire, apalagi virus HIV penyebab AIDS kronis tapi kini menjadi momok dunia.

Laboratorium USAMRIID (United States Army Medical Research Institute of Infectious Diseases) di Frederick, Maryland, meneliti HIV-1 di lab dengan tingkat bahaya penyakit menular kedua atau biosafety level-2 (BL-2), HIV-2 di BL-3, sedang virus Ebola di BL-4, tingkat yang paling tinggi. Tak mengherankan jika kepanikan terjadi ketika tahun lalu diketahui bahwa virus Motaba menjalar dari pedalaman Zaire di Afrika ke Cedar Creek, sebuah kota kecil di California. Kota itu nyaris dimusnahkan dengan bom agar virus Motaba tidak menjalar ke seluruh Amerika.

Read More…

100%BBC, 100% Indonesia?

OLEH IGNATIUS HARYANTO
Pengamat media, pengajar jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang


| |


londoncallingBBC
Umat Katolik pasti ingat adagium yang pernah diucapkan Mgr. Albertus Soegijapranata: "100% Katolik, 100% Indonesia." Dalam pengertian Uskup yang kisah hidupnya pernah diangkat ke layar lebar tersebut, 100% Katolik, 100% Indonesia mau menunjuk pada loyalitas yang harus ditunjukkan warga Katolik di Indonesia, dan walaupun secara matematis rasanya tak mungkin perhitungan di atas, tetapi yang utama hendak ditunjukkan di sini, pada diri seseorang tersebut adalah loyalitas pada bangsa dan loyalitas pada kepercayaannya. Tak perlu dipertentangkan.

Entah kenapa saya teringat dengan adagium ini setelah menyimak buku London Calling ini, tetapi dengan penulisan berbeda: 100% BBC, 100% Indonesia? Kita tahu BBC adalah salah satu organisasi media besar dan tertua di dunia, dengan standar jurnalistik yang tinggi, dengan prinsip imparsialitas yang sangat terkenal, bahkan kerap berseberangan jalan dengan pemerintah Inggris yang sebenarnya membiayai operasi kantor BBC lewat pajak dan iuran para pendengar.

Buku ini memuat kisah 35 orang Indonesia yang terpilih menjadi bagian dari organisasi media besar tersebut, tetapi ketika menjadi bagian dari BBC, bahkan BBC Seksi / Siaran Indonesia, nasionalitas mereka semua terpaksa harus dibekukan terlebih dahulu. Sederhana: karena prinsip imparsialitas itulah yang mereka junjung tinggi. Bahkan kepada pemerintah Indonesia, para jurnalis ini tak memosisikan mereka adalah bagian dari “kita” dan “tanah air kita.” Prinsip imparsialitas BBC yang mengemuka dan tak ada urusan dengan kewarganegaraan jurnalisnya. Read More…

David Streidfeld Bertemu Gabriel Garcia Marquez

OLEH NEZAR PATRIA
Direktur PT. Pos Indonesia
nezar.patria@jalankaji.net



| |

streidfeld
David Streidfeld adalah seorang wartawan yang beruntung. Sewaktu masih menjadi koresponden sastra untuk The Washington Post, David mencoba mengejar sastrawan kondang Gabriel Garcia Marquez, yang akrab dipanggil Gabo untuk sebuah wawancara. Pada 1993, Gabo berada pada puncak ketenaran, karyanya “Seratus Tahun Kesunyian” telah menjadi salah satu ikon sastra Amerika Latin. David, mengutip seorang kritikus sastra, mengatakan karya itu mirip “batu bata yang memecahkan kaca jendela, dan membawa masuk kehidupan nyata jalanan, bunyi, warna dan sensasinya. Peristiwa magis—jejak darah yang mengaliri kota dan masuk ke dalam rumah, dan secara cermat menghindari menodai karpetnya: kembang-kembang surgawi—amat lugas sampai-sampai terasa masuk akal”.


Tapi David tak gampang bertemu Gabo. Sastrawan itu suka menghindar, dan tentu saja makin sulit dikejar terasa makin setengah-dewa dan legendaris Tuan Gabo itu. Bagi David, dia seperti mendapat lotere ketika Gabo mengundang datang ke rumahnya di Kota Meksiko, dan itu terjadi setelah dia mengirimkan puluhan kali surat permohonan wawancara. Dan Gabo memang luar biasa simpatik saat menyambutnya siang itu di bungalow belakang rumahnya, yang juga menjadi kantor si penerima Nobel Sastra itu. Read More…

Pilihan Berkelahi di Fifth Avenue, New York

OLEH TRI JOKO HER RIADI
Redaktur Pelaksana di ayobandung.com, meraih MA dari Ateneo de Manila University


| |

PHOTO-2020-11-10-20-58-55
Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan perbincangan, dan kadang perkelahian, yang tak habis-habis. Pada tahun 1954, di bawah guyuran hujan di kota New York, wartawan Mochtar Lubis dan pemuda Hasan Tiro dengan serius memperbincangkannya.

Perbincangan itu dituliskan Mochtar dalam buku kumpulan catatan perjalanan jurnalistiknya “Indonesia di Mata Dunia”. Saya memiliki cetakan pertama yang diterbitkan oleh National Publishing House, Jakarta, tanpa keterangan tahun. Yang jelas, cetakan kedua buku ini diterbitkan oleh Tintamas pada 1960.

“Indonesia di Mata Dunia” berisi olok-olok dan kritik Mochtar Lubis untuk diplomasi luar negeri Indonesia. Ia menceritakan bagaimana buruknya strategi Indonesia dalam pembahasan masalah Irian Barat (sekarang Papua) dalam sidang Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di New York. Tanda-tanda kegagalan sudah terlihat jauh-jauh hari.

Mochtar Lubis juga menyajikan banyak cerita satir, seperti hobi belanja Menteri Luar Negeri Sunaryo. Datang ke Amerika Serikat dengan menenteng dua koper, Sang Menteri pulang ke Indonesia mengangkut puluhan koper. Ada juga cerita tentang hobi pelesir Duta Besar Helmi, yang bertugas untuk Swiss dan Vatikan, yang dengan cerdik ia bebankan seluruh pembiayaannya ke negara. Read More…