For the Love of Books

Sosok

Sherpa Hebat Bernama Tenzing

OLEH PHILIPS VERMONTE
Direktur Eksekutif CSIS, pendiri Jalankaji.net
philips.vermonte@jalankaji.net

tenzing
Sejak tahun 1865, nama yang digunakan untuk menyebut puncak tertinggi di dunia adalah Puncak Everest, yang diambil dari nama seorang geographer berkebangsaan Inggris Sir George Everest. Penggunaan nama seorang saintis ini sedikit banyak menunjukkan bahwa bagi orang Barat, daerah yang jauh adalah daerah eksotik dan harus ditaklukan. Sebagaimana sejarah panjang rasionalisme Barat yang menghidupkan sains dalam rangka menaklukan alam raya.

Sir George Everest mungkin belum pernah sampai ke kaki gunung ini. Adalah Andrew Scott Waugh, seorang geographer yang merupakan murid Sir George Everest, yang memulai observasi pertama terhadap gunung ini dan menemukan cara untuk menduga ketinggiannya. Ia kemudian bisa menyimpulkan bahwa puncak gunung ini, yang hingga waktu itu hanya disebut sebagai Puncak XV, adalah puncak gunung tertinggi di dunia. Pada Maret 1856, ia mengusulkan kepada Royal Geographical Society agar puncak itu diberi nama Puncak Everest karena dua alasan. Pertama adalah untuk menghormati gurunya itu; kedua karena ia tidak bisa menemukan nama lokal bagi puncak tersebut.

Tentu saja alasan kedua adalah buah dari penarikan kesimpulan yang tergesa-gesa. Ada banyak nama yang diberikan oleh penduduk lokal yang tinggal di daerah-daerah yang mengelilingi rantai pegunungan Himalaya ini. Mereka mengenalnya dengan banyak nama lain, di antaranya adalah Chomolungma, nama yang dikenal oleh Tenzing Norgay, seorang sherpa hebat yang bersama Edmund Hillary menjadi orang-orang pertama yang mencapai Puncak Everest pada 29 Mei 1953.
Read More…

Sejarah Intelektual, Membaca Ignas Kleden

OLEH RIWANTO TIRTOSUDARMO
Peneliti independen

ignaskleden
Ignas Kleden adalah seorang sosiolog yang sejak sangat muda terdidik dalam filsafat. Sosiologinya karena itu bukanlah yang berurusan dengan penelitian empiris tapi dengan dunia pemikiran yang hampir selalu filosofis. Sosiologi dan filsafatnya bukan sebagai vokasi (keahlian) tetapi sebagai alatnya untuk memahami sejarah pemikiran yang berkembang di dunia dan bangsanya.

Melihat riwayat pendidikan formal Ignas, kecuali S3-nya, selalu filsafat. Yang pertama di STF/TK (Sekolah Tinggi Filsafat/Teologi Katolik) Ledalero, sebuah lembaga untuk mendidik para calon imam Katolik yang letaknya tidak jauh dari tempat kelahirannya, Waibalun, sebuah desa di pinggir laut yang terletak di jalan raya antara Larantuka dan Maumere, Flores. Setelah pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai editor di Yayasan Obor dan Prisma, di samping sebagai kolumnis yang produktif, kemudian melanjutkan studi filsafatnya (S2) di Muenchen dan sosiologi (S3) di Bielefeld, keduanya di Jerman, sebuah negeri dimana filsafat mungkin berkembang paling subur setelah sebelumnya benih filsafat tumbuh di Yunani. Read More…

Ibadah Sehari-hari Buldanul Khuri

OLEH YUS ARIYANTO
Editor jalankaji.net
yus.ariyanto@jalankaji.net

| |

buldan
Saksi Mata melambungkan nama Seno Gumira Ajidarma ke langit kesusastraan Indonesia. Dihiasi gambar Agung Kurniawan, desain sampul dibikin Buldanul Khuri – biasa disapa Buldan. Nama terakhir bukan hanya berurusan dengan sampul. Ia adalah pendiri Bentang Budaya, penerbit kumpulan cerpen tersebut.

Bentang adalah salah satu “monumen” dari dekade 90-an. Masih lekat di ingatan beberapa buku penting dan menarik lain dari Bentang. Misalnya, Senjakala Kebudayaan (kumpulan esai Nirwan Dewanto yang memuat makalahnya di Kongres Kebudayaan 1991) atau Zaman Peralihan (kumpulan esai Soe Hok Gie). Juga kumpulan surat pelukis Nashar yang diluncurkan ulang di bawah judul Nashar oleh Nashar dan terbitan ulang novel masyhur Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit.

Buldan Dengan Tiga Bukan ini adalah catatan ringkas penyair Dorothea Rosa Herliany yang merekam kiprah Buldan sebagai “orang buku,” saat berada di puncak maupun di nadir, sejak 1992. Diterbitkan secara indie oleh MataAngin, dua tahun lalu, buku ini memantik rasa penasaran saya sejak pertama kali dipromosikan di media sosial.

Tentu, sebagian besar isi buku 85 halaman ini mengisahkan Buldan dalam mengelola Bentang – meski penerbit berbasis di Yogya itu bukan lagi miliknya sejak 2004.
Read More…