For the Love of Books

Cinta-Cinta Yang Kandas

OLEH ANWAR HOLID
Editor dan penulis, tinggal di Bandung
Blog: halamanganjil.blogspot.com


murakami
Men Without Women adalah kumpulan cerpen karya Haruki Murakami, penulis kontemporer Jepang yang paling dielu-elukan, setidaknya selama dua dekade terakhir ini. Aslinya rilis tahun 2014, buku ini terbit edisi bahasa Inggrisnya tiga tahun kemudian. Berisi tujuh cerita dengan tebal 228 halaman menunjukkan bahwa kumpulan cerpen di buku ini berjenis 'long short-story', jenis bacaan yang menawarkan kompleksitas lebih dibandingkan cerpen biasa.

Pada dasarnya semua cerpen di buku ini mengungkapkan cerita-cerita cinta yang ambyar. Hanya saja Murakami menuturkannya dengan memukau, meliuk-liuk, dan tidak cengeng. Mungkin cinta — bercampur dengan rasa sayang dan nafsu — bukan sesuatu yang sederhana, karena melibatkan pergolakan psikologi dalam diri karakter karakternya.

Anak remaja bisa jadi merasa tak pantas mengungkapkan perasaannya kepada seseorang yang dia taksir entah karena bingung, rendah diri, takut ditolak dan dicemooh, beda kondisi keluarga, sosial-ekonomi, dan sebagainya. Ketika masa kasmarannya berlalu, bisa jadi hal itu membuatnya sangat kecewa, namun sulit melupakan, hingga menjadi kenangan getir.

Saya sebagai pembaca merasakan betul betapa drama orang jatuh cinta, dibuai harapan, melayang-layang, putus cinta, terdorong hasrat seks, dipermainkan nasib, berbunga-bunga, kekecewaan, dan kesepian; bisa begitu bergelora muncul dari setiap perjumpaan karakternya. Jika ada orang bilang bahwa buku-buku Murakami adalah bacaan para 'sad boi', kumpulan cerpen ini sungguh mewakili.

Dari judulnya, kita bisa memperkirakan cerita-cerita tentang cinta atau perasaan laki-laki yang kandas, kecewa, dan kesepian. Bagaimana dengan karakter perempuannya? Kurang-lebih sama. Dalam cinta, perempuan bisa menjadi subyek, dominan. Dia bisa meninggalkan laki-laki demi orang lain, bahkan sesungguhnya dialah yang menentukan nasib hati laki-laki yang jatuh cinta kepadanya.

Perempuan punya kualitas yang bisa membuat laki-laki menemukan cinta sejati atau malah kehilangan arah seumur hidupnya. Hidup laki-laki bisa berubah drastis begitu ada perempuan yang mencintai atau mengkhianati dirinya; setidaknya itu yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Perihal mengolah perasaan dalam teks itulah yang membuktikan kemaestroan Murakami

Contoh yang dialami Kino. Begitu memergoki sang istri bersetubuh dengan teman sekantornya, dia langsung memutuskan pisah. Tanpa kompromi. Setelah itu Kino berhenti kerja, pindah rumah, membuka kafe meski tak punya pengalaman, hanya berbekal kesukaan pada dunia kuliner dan jazz. Di kafe itu dia bertemu pelanggan perempuan lainnya, sampai keduanya akrab dan saling berbagi cerita. Waktu mereka bersetubuh, Kino sadar bahwa perempuan ini korban sado-masokisme. Berbagai peristiwa membuat jalan hidup Kino berubah 180 derajat. Hidupnya terasa berbeda, dibanding waktu ia menikah dulu.

Selain kisah-kisah cinta yang ambyar dalam Men Without Women, karya Murakami juga memiliki kekhasannya sendiri; tubuh dan seks dihadirkan secara terbuka, tidak malu malu, apalagi dengan beban rasa dosa. Banyak orang mengira bahwa orang Jepang masih punya sifat tradisional (seperti percaya jimat dan takhayul), tapi kisah-kisah yang dimunculkan Murakami membawa dimensi di luar rasa tabu; karakter karakternya hadir di antara rasa cinta, kesetiaan, dan nafsu seks. Saat membacanya saya bisa merasakan ketika atmosfer cinta hadir secara serius dan amat dalam atau ia ringan, biasa saja, dan bisa berubah karena sesuatu, tanpa perlu disesali secara berlebihan.

Perihal mengolah perasaan dalam teks itulah yang membuktikan kemaestroan Murakami. Sebagai penulis, ia mampu menelusup pada kedalaman batin orang-orang yang terbuai cinta, mengungkapkan detail perasaan dan dugaannya, termasuk ketika mereka sedih, dendam, dan penasaran karena cinta. Cerita-cerita Murakami membuat kita berpikir betapa orang bisa terapung-apung hanya oleh satu sisi kemanusiaannya. Di situlah dia begitu enak memain-mainkan cipratannya. Kita merasakan ada esensi kehidupan dalam cerita-ceritanya.

Saya rasa kemampuan Murakami menulis cerpen memberi kenikmatan tersendiri bagi pembacanya. Alih-alih seperti menanami hutan, menulis cerpen itu lebih mirip berkebun di taman. Keindahannya lebih mudah terasa.

Menamatkan Men Without Women segera mengingatkan saya pada Difficult Loves, buku kumpulan cerpen Italo Calvino, penulis Italia. Hanya saja Difficult Loves seperti lebih menekankan pada sisi komunikasi, keterkejutan, dan praduga, di antara kisahnya -- sementara Men Without Women cenderung menyelami perasaan dan nasib para karakternya.

Info Buku:


Judul: Men Without Women
Judul asli: Onna no inai Otokotachi, (2014)
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Philip Gabriel dan Ted Goosen
Penerbit: Vintage, London, 2018
Tebal : 228 halaman
ISBN: 978-1-784-70537-4





Review ini pertama kali terbit di buruan.co