For the Love of Books

Dari Balik Layar: Obama sang Presiden

OLEH GDE DWITYA
Pendiri Sasmita Research and Creative Lab, Jogjakarta; editor jalankaji.net.
gde.dwitya@jalankaji.net

Tahun 2020 akan segera berakhir. Beberapa hari ke depan, kami akan memuat tulisan-tulisan ringkas dari para editor di jalankaji.net mengenai buku favorit yang mereka baca selama tahun 2020 di tengah masa pandemi ini.

Redaksi Jalankaji.net


| |

a promised land
Di penghujung tahun 2016, saya sempat menghadiri sebuah weekend party di rumah profesor saya. Satu topik yang muncul di perbincangan malam itu adalah soal Barack Obama yang menjelang turun dari jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat. “He disappointed many of his supporters,” begitu kira-kira penilaian sang profesor. Saat itu Obama memang mengecewakan sebagian pendukungnya. Ia yang diharapkan melanjutkan aspirasi gerakan akar rumput untuk menghentikan kegiatan perang dan invasi Amerika di luar negeri tampak melempem begitu masuk Gedung Putih.

Buku memoar Obama ini, A Promised Land, mengobati rasa ingin tahu saya tentang apa yang terjadi di balik layar. Obama, sang politisi penjaja harapan, ternyata punya banyak keterbatasan. Karir politiknya yang cemerlang, ternyata tidaklah terberi. Ada kebetulan-kebetulan—semisal kesempatan untuk maju menjadi senator dari Illinois—dan ada keberanian mengambil kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup.

Dari memoar ini kita jadi tahu Obama benar-benar mulai dari nol ketika terjun ke politik praktis. Ia belajar sambil jalan.

Sebagai misal, Obama berulang kali dimarahi oleh konsultan kampanyenya, David Axelrod—yes, the great David Axelrod—soal strategi yang manjur menjawab prompt dalam debat. Obama selalu menjawab dengan panjang dan detail setiap pertanyaan yang diajukan oleh moderator. Mungkin ia masih merasa sedang mengajar di kampus University of Chicago—old habits die hard. Axelrod, sebaliknya menyarankan agar Obama mengabaikan pertanyaan dan sebagai gantinya bicara soal pesan-pesan kampanye.

“...give ‘em a quick line to make it seems like you answered it...and then talk about what you want to talk about.” Axelrod menasehati Obama.
But that’s bullshit.” Sahut Obama tak terima.
Exactly.” Pungkas Axelrod.

Sambil tertawa saya bayangkan Axelrod misuh dalam hati: dasar anak kemarin sore.

Memoar ini juga memunculkan Obama sebagai manusia yang utuh. Punya kekurangan: yaitu ambisinya yang tak tertahankan bahkan oleh keluarganya sendiri. Dan juga kelebihan: kemampuannya untuk menjadi politisi liberal yang rasional, santun, dan menginspirasi.

"Obama, sang politisi penjaja harapan, ternyata punya banyak keterbatasan"


Sebuah cerita tentang bagaimana Obama menghadapi keluhan Michelle soal keinginannya untuk maju dalam pemilihan presiden dapat menggambarkan dua hal di atas sekaligus. Michelle merasa bahwa keinginan Obama untuk maju akan mengorbankan kehidupan keluarga. “I didn’t sign up for this,” ujar Michelle. Obama lalu didakwa oleh istrinya: coba jelaskan padaku kenapa kau harus maju. Di satu sisi, fakta bahwa Obama tidak mundur dan malah menjawab dengan percaya diri adalah gambaran seseorang yang ambisius. Jawaban dari Obama, di sisi lain, adalah sebuah inspirasi:

There is no guarantee that we can pull it off. Here’s one thing I know for sure, though. I know that the day I raise my right hand and take the oath to be the president of the United States, the world will start looking at America differently. I know that kids all around the country—Black kids, Hispanic kids, kids who don’t fit it—they’ll see themselves differently, too, their horizon lifted, their possibilities expanded. And that alone…that would be worth it.

Yang menarik pula dari memoarnya ini, Obama tidak tampak melebih-lebihkan diri. Sebaliknya, persona Obama yang tampil cenderung sober, statesmanly, dan reflektif. Jika Anda ingat memoir dari Andre Malraux, Anti-Memoirs, Anda tahu kalau memoir bisa ditulis untuk menunjukkan betapa perjalanan hidup Anda extra-ordinary dan surreal, almost literary

Malraux mungkin bisa dimaafkan, he led an extremely interesting life. Obama juga, saya rasa, kalau dia mau. Tapi sebaliknya, Obama menunjukkan kalau ia bercerita dengan gaya sewajarnya saja. Realisme, dan bukan narasi sastrawi a la Malraux.

Buku ini layak jadi koleksi baru Anda. Jika belum dapat, saya sarankan cari pinjaman dari teman. Apapun caranya, you got to get a copy!

Info Buku:


Judul: A Promised Land
Penulis: Barack Obama
Penerbit: Crown Publishing, New York; 2020
Tebal : 751 halaman
ISBN: 978-1-5247-6316-9