For the Love of Books

Dilema Kekuasaan dan Kebebasan

OLEH EDBERT GANI SURYAHUDAYA
Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS



| |

narrow_corridor
Selama ribuan tahun sejarah politik dunia, hal yang selalu menjadi paradoks adalah soal pola. Dimana pola tersebut telah mengubah masyarakat yang dulunya terkotak-kotak pada kelompok kesukuan maupun adat yang kecil, menjadi berpusat pada satu kekuatan negara yang begitu kuat. Institusi yang kuat ini kemudian memungkinkan masyarakat yang terdiri dari jutaan orang dapat berfungsi. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kekuatan besar yang dimiliki negara dapat berjalan beriringan dengan kebebasan bagi masyarakatnya? Dilema ini diungkapkan oleh Jared Diamond, peraih Putlizer Prize melalui bukunya Guns, Germs, and Steel. Menurut Diamond, buku The Narrow Corridor: States, Societies, and The Fate of Liberty, yang ditulis ole Darren Acemoglu dan James Robinson (2019) ini memberikan pembacanya jawaban atas dilema itu.

Dalam buku pertama duet Acemoglu dan Robinson berjudul Why Nations Fail (2012), keduanya mengembalikan pentingnya desain institusi sebagai faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Mereka berargumen bahwa institusi negara yang inklusif akan melahirkan ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi akan terjadi karena terdapat ruang bagi masyarakat untuk berinovasi sehingga kegiatan produksi bisa berlangsung secara terus-menerus. Tetapi, bagaimana inovasi bisa terjadi ketika tidak ada ruang untuk melakukan kreativitas?


Buku tentang kebebasan


Untuk bisa memacu kreativitas, sebuah masyarakat memerlukan apa yang disebut dengan kebebasan (liberty). Inilah kepingan puzzle yang diangkat oleh Acemoglu dan Robinson di buku kedua mereka The Narrow Corridor. Kedua penulis memperkuat landasan teori soal pentingnya institusi politik di buku pertama dengan menambahkan faktor keseimbangan kekuasaan dari masyarakat. Dengan cara itu Acemoglu dan Robinson mengkerangkakan bagaimana kebebasan bisa tercipta, bagaimana kebebasan bisa hilang, serta apa pengaruhnya bagi pertumbuhan.

Dalam teori yang mereka bangun, kebebasan dapat hadir ketika terdapat ruang yang tercipta atas tarik-menarik antara kekuasaan negara yang semakin meluas dan kontrol dari mobilisasi masyarakat secara konsisten dan terus-menerus. Tarik-menarik ini akan membuka sebuah ‘koridor sempit’ seperti yang tergambar di Figur 1. Hanya apabila sebuah negara berada di koridor tersebut maka kebebasan bisa eksis.



narrowcoridor

Figur 1. Visualisasi koridor yang sempit (hlm. 64)

‘Koridor sempit’ memberikan jaminan dan perlindungan bagi masyarakat untuk berkreasi dan kemudian berinovasi. Untuk menjamin hal tersebut, negara perlu menjadi kuat yang meluas pengaruhnya. Perluasan itu tidak lain bisa terjadi karena ada mobilisasi dari masyarakat kepada berbagai kebutuhan yang semakin kompleks sesuai dengan perkembangan zaman. Kebebasan disini berarti bebas dari rasa takut, sehingga bisa melakukan eksperimen, membuka jalan sesuai dengan pemikirannya sendiri, meskipun hal itu mungkin tidak menyenangkan bagi orang lain.

Masalahnya kemudian adalah apakah koridor tersebut akan terus terbuka sekalinya ia dibuka? Jawabannya adalah tidak. Eksisnya koridor kebebasan itu bukanlah proses yang statis. Baik kekuasaan negara dan kontrol masyarakat harus bergerak secara terus-menerus tanpa garis akhir. Terkesan melelahkan memang. Para penulis mengumpamakan pergerakan itu dengan konsep ‘efek Ratu Merah’ (Red Queen Effect). Acemoglu dan Robinson meminjam kisah dongeng terkenal, “Alice di Negeri Ajaib” (Alice in Wonderland), sebagai inspirasi yang menarik. Dalam sebuah bagian di dongeng tersebut, dikisahkan bahwa Alice sedang balapan dengan Ratu Merah. Saat sedang berlari, Alice menyadari bahwa pepohonan dan segala hal di sekelilingnya terlihat tidak bergerak meskipun ia telah berlari sekencang mungkin. Kebingungan dengan kondisi itu, Alice bertanya kepada Ratu Merah. Jawaban Ratu tersebut seperti dikutip kedua penulis adalah sebagai berikut:

Now, here, you see, it takes all the running you can do, to keep in the same place.

‘Efek Ratu Merah’ ialah sebuah kondisi dimana kita harus terus berlari hanya untuk mempertahankan posisi kita. Efek ini meniscayakan kedua kutub untuk terus berlari hanya untuk menjaga agar ‘koridor sempit’ dapat terus terbuka. Keseimbangan kekuatan antara negara dan masyarakat dengan demikian adalah sebuah proses yang tiada henti. Terus berlarian.


Shackled Leviathan


Teori klasik Thomas Hobbes tentang negara yang diimajinasikan sebagai monster Leviathan menjadi salah satu pondasi utama buku ini. Hanya dengan kekuasaan yang besarlah sebuah institusi negara bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam The Narrow Corridor, Acemoglu dan Robinson mengklasifikasikan empat tipe Leviathan yang meliputi absen, despotis, terbelenggu (Shackled Leviathan), dan kertas (Paper Leviathan). Faktor utama yang membedakan keempat karakteristik itu tidak lain ialah ‘efek Ratu Merah’.

Figur 1 dapat membantu untuk menjelaskan keempat tipe Leviathan. Setiap negara yang keluar dari koridor akan jatuh pada negara yang despotis (Despotic Leviathan), atau yang berada di sisi kiri Figur 1. Kondisi ini bisa terjadi ketika kekuatan dan kekuasaan negara terlalu tak terkontrol. Pada sisi yang lain, negara yang absen (Absent Leviathan) terjadi ketika mobilisasi masyarakat melampaui kekuatan negara untuk mengontrolnya. Hal yang direpresentasikan pada sisi kanan Figur 1. Dari keempat tipe itu, ‘Leviathan yang terbelenggu’ (Shackled Leviathan) ialah yang bisa membuka sekaligus mempertahankan koridor, dan sekaligus menjamin kebebasan. Ini disebabkan eksisnya ‘efek Ratu Merah’ dalam negara tersebut yang selalu memastikan kontrol terhadap kekuasaan negara. Akses kontrol tersebut dapat terjadi karena desain institusi yang dibangun memungkinkan ruang tersebut.

‘Leviathan Kertas’ (Paper Leviathan) digunakan Acemoglu dan Robinson untuk merepresentasikan negara-negara berkembang, atau yang lahir pasca kolonialisme. Masyarakat di negara ini akan menderita karena negaranya disebut memiliki karakteristik terburuk dari jenis Leviathan yang absen maupun yang despotis. Ketika memiliki kekuasaan, negara akan cenderung represif. Dalam kondisi itu, ia tidak mendapat pengawasan dan kontrol dari publik. Ia akan berusaha untuk tetap lemah secara kualitas dan tak terorganisasi dengan baik. Dengan demikian kapasitasnya dalam memproteksi masyarakat begitu rendah. Ia diposisikan tidak peduli pada kesejahteraan masyarakatnya, apalagi kebebasannya. Sementara itu masyarakat tidak memiliki kepercayaan pada institusi politik. Karena itu tidak bekerjanya negara ditempatkan sebagai hal yang baik bagi mereka. Para elit politik dilihat begitu takut akan mobilisasi masyarakat karena hal tersebut dirasa bisa merebut berbagai keuntungan yang didapat selama ini dengan memanfaatkan birokrasi yang korup.

Karena buku ini merupakan lanjutan dari Why Nations Fail, maka teori yang dibangun secara konsisten menempatkan peran institusi negara secara fundamental dalam relasi bernegara. Teori Leviathan menjadi relevan untuk dikontekstualisasikan kembali lewat buku ini. Sejalan dengan itu, buku ini sekaligus mengkritik pandangan neoliberalisme Friedrich A. Hayek yang mengatakan bahwa kontrol negara harus seminimum mungkin agar tidak jatuh pada jurang despotisme. Pada Bab 15 dijelaskan bahwa kekeliruan pemikiran Hayek disebabkan tidak diperhitungkannya ‘efek Ratu Merah’, atau kekuatan mobilisasi masyarakat untuk menjamin bahwa negara tetap berada pada koridor. Negara perlu kuat untuk mampu mengatasi berbagai persoalan ekonomi dan politik yang kompleks seperti halnya ketimpangan dan penyediaan jaminan sosial yang menjadi persoalan di era sekarang. Pada saat yang sama, kuatnya institusi negara dengan ekspansi yang luas hanya bisa terjadi apabila terdapat permintaan atau tuntutan dari masyarakat.

buku ini sekaligus mengkritik pandangan neoliberalisme Friedrich A. Hayek yang mengatakan bahwa kontrol negara harus seminimum mungkin agar tidak jatuh pada jurang despotisme


Relevansi untuk Indonesia



Buku ini menjadi relevan bagi kalangan akademik, pemangku kebijakan, maupun kelompok masyarakat sipil di Indonesia karena kekuatan komparasi yang mendalam. Acemoglu dan Robinson menyajikan perbandingan yang komprehensif akan pentingnya koridor kebebasan dalam menentukan arah satu negara dibandingkan dengan negara yang lain.

Kawasan yang dicakup dalam buku ini sangat luas mulai dari Eropa, Amerika, Amerika Latin, India, Cina, negara pasca kolonial, hingga negara Arab. Masing-masing bab membahas tiap kawasan sehingga para pembaca bisa merefleksikan arah Indonesia dengan mengambil beberapa indikasi yang ada. Paper Leviathan begitu relevan apabila kita bandingkan dengan situasi riil saat ini. Membandingkannya dengan kasus negara lain dapat membantu Indonesia untuk keluar dari pragmatisme politik yang tidak melihat efek positif dari pembangunan kebebasan sipil.

Terkait dengan kebebasan, buku ini bisa menjadi kritik atas beberapa kebijakan negara yang berusaha membatasi kebebasan sipil. Data Freedom House selama beberapa tahun belakangan telah menunjukkan adanya pola pelemahan kebebasan masyarakat sipil. Kondisi tersebut disumbang oleh ketidakmampuan negara untuk melindungi hak minoritas sosial maupun ekonomi. Pada saat yang sama, masyarakat harus dimobilisasi untuk memberikan tuntuntan itu. Hak warga negara yang dijamin oleh UU perlu untuk dijaga oleh institusi negara yang kuat, yang bisa mengontrol norma-norma yang merampas kebebasan antar masyarakat.

Dalam The Narrow Corridor, pembahasan soal norma menjadi salah satu daya tarik karena mengingatkan pembaca akan fungsi negara untuk membebaskan individu dari ‘penjara norma’ (cage of norm). Sehingga negara bukan berfungsi untuk justru melestarikan norma yang membatasi kebebasan tiap individu. Poin ini dapat menjadi pembahasan yang menarik apabila dikontekstualisasikan dengan beberapa produk perundangan di Indonesia yang memuat pasal-pasal yang merenggut kebebasan sipil dengan alasan budaya.

Refleksi lain yang bisa diambil dari buku ini adalah soal tipe pertumbuhan ekonomi yang ingin dijalankan oleh negara. Pertumbuhan yang stabil dalam jangka waktu yang panjang adalah yang terjadi di dalam koridor. Karena pertumbuhan tersebut bersifat inklusif dan partisipatif dengan kontrol dari masyarakat. Apakah pertumbuhan dapat tumbuh di luar koridor? Tentu bisa. Acemoglu dan Robinson banyak memberikan contoh terkait pertumbuhan yang mereka kategorikan sebagai ‘pertumbuhan despotis’ (despotic growth). Pertumbuhan ini sifatnya dikontrol dan diawasi oleh negara. Produksi dikontrol sesuai dengan kepentingan dan pandangan para elit ketimbang terjadi karena kreativitas masyarakat. Pada kondisi itu, kemajuan teknologi dan perluasan penggunaannya dalam mengatur masyarakat bisa membentuk apa yang disebut oleh Yuval Noah Harari sebagai diktatorisme digital (digital dictatorships). Hal yang membuat situasi tidak stabil dalam jangka panjang adalah tidak adanya ruang untuk berproduksi kecuali mempraktekkan klientelisme bersama para elit politik maupun mengkapitalisasi hubungan kekerabatan.

The Narrow Corridor dapat membantu kita menyelami opsi-opsi yang terbuka bagi tiap negara, dan Indonesia secara khusus. Ruang partisipasi masyarakat dan kemampuan mobilisasinya patut dijadikan faktor penting dalam memicu pertumbuhan, ketimbang melambatkannya. Buku ini menjadi karya akademik yang hadir pada momen yang tepat ketika banyak negara yang sedang kebingungan melihat kebebasan. Persoalan ekonomi yang semakin kompleks kadang membawa para akademisi mendiagnosa dalam kacamata yang sempit. Ada baiknya untuk mengambil jarak sejenak dan melihat dalam luasan peradaban yang lebih holistik.

* naskah ini sebelumnya pernah dimuat dalam Jurnal Analisis CSIS vol.49/1, 2020.

Info Buku:


Judul: The Narrow Corridor: State, Societies, and the Fate of Liberty
Penulis: Daren Acemoglu dan James A. Robinson
Penerbit: Penguin Press, 2019
Tebal : 576 halaman
ISBN: 9780735224384