For the Love of Books

Huntington dan Matinya Teori Modernisasi

OLEH GDE DWITYA ARIEF METERA
Mahasiswa program doktoral ilmu politik di Northwestern University, Amerika Serikat.



| |

–perihal pembangunan ekonomi dan stabilitas politik

political_order
Fukuyama suatu kali menulis bahwa teori modernisasi mati karena ditelikung dari dua sisi: kiri dan kanan sekaligus. Jika dari kiri ia diserang oleh kaum dependensia dengan argumen center dan peripheral capitalism-nya, maka dari kanan, ia ditamatkan riwayatnya hanya oleh satu buku: Political Order in Changing Societies, karya Samuel Huntington.

Asumsi teori modernisasi, sebagai yang kita ketahui, adalah gerak teleologis masyarakat yang bermula dari kondisi tradisional menuju modernitas. Modernitas di sini dipahami sebagai kondisi terkini dari perkembangan struktur ekonomi yang kian kompleks dan pengorganisasian power di masyarakat yang mengalami proses institusionalisasi dan rasionalisasi ala Weber. Bagian terpenting dari teori modernisasi adalah kepercayaan bahwa dua gerak, ekonomi dan politik ini, berjalan beriringan. Modernisasi ekonomi dalam bentuk pembangunan ekonomi pasar dan industri dipercaya membawa pula modernisasi politik dalam bentuk pengadopsian institusi politik modern yang stabil, semisal demokrasi. Daniel Lerner dalam The Passing of Traditional Society menulis bahwa “aspek-aspek modernisasi seperti urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, edukasi, dan partisipasi tidaklah terjadi secara asal.” Mereka sangatlah terkait satu sama lain, hingga tampaknya dalam proses sejarah mereka “harus saling berdampingan” (Lerner via Huntington, hal.32). Karya Huntington yang terbit di tahun 1968 ini tepat menggugat bagian terpenting tersebut: bahwa gerak ekonomi dan gerak politik ini sebenarnya tidak berjalan beriringan.

Huntington menulis bahwa pembangunan ekonomi suatu negara tidak serta merta berujung konsolidasi institusi politik dan tercapainya order. Seringkali, sebagaimana contoh yang Huntington kemukakan yaitu kasus negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, hasil dari pembangunan ekonomi ini adalah political decay. Political decay disini dimaknai sebagai kondisi dimana institusi politik lama terkikis oleh perkembangan masyarakat terkini, namun disaat yang sama belum terbangun institusi politik modern yang solid untuk memediasi konflik. Padahal telah terjadi peningkatan partisipasi politik dan mobilisasi grup baru ke dalam arena politik sebagai hasil dari proses industrialisasi dan urbanisasi di masyarakat. Akibatnya adalah kondisi yang Huntington sebut sebagai praetorian state yang seringkali ditandai dengan munculnya kaum otokrat dan kudeta militer. Huntington tampaknya ingin mengingatkan bahwa benar “modernitas terkait erat dengan stabilitas politik, namun sebaliknya modernisasi terkait dengan instabilitas.” (hal. 41). Modernitas adalah terminal tujuan, sementara modernisasi adalah proses menuju kondisi akhir tujuan tersebut yang senyatanya penuh dengan batu kerikil sandungan.

modernitas terkait erat dengan stabilitas politik, namun sebaliknya modernisasi terkait dengan instabilitas


Huntington kemudian merumuskan teorinya tentang political order dan political decay. Dalam memahami teori Huntington ini, penting dipahami dua konsep vital: partisipasi politik (political participation) dan institutionalisasi politik (political institutionalization). Partisipasi politik adalah keleluasaan bagi kelompok di masyarakat untuk berpartisipasi di arena politik, sementara institusionalisasi politik adalah proses dimana prosedur dan pengorganisasian alokasi power di masyarakat mendapat nilai dan menjadi stabil. Stabilitas politik, atau political order, adalah hasil dari institutionalisasi politik yang lebih intens dan maju daripada kecepatan dan skup partisipasi politik. Sebaliknya, instabilitas politik—political decay—adalah akibat dari skup dan kecepatan partisipasi politik yang melampaui tingkat institutionalisasi politik. Dalam teori ini, kecepatan dari partisipasi politik dan institusionalisasi politik penting untuk diperhatikan.

Institusi dan proses institutionalisasi kemudian menjadi penting dan sentral dalam teori Huntington. Ia mendefinisikan institusi sebagai “pola perilaku yang stabil, berulang, dan dijunjung” dalam masyarakat dimana institusi mewujud dalam organisasi dan prosedur. Sementara institutionalisasi adalah “proses dimana organisasi dan prosedur menjadi stabil dan dijunjung” oleh masyarakat (hal.12). Fungsi institusi menurut Huntington adalah, “temper, moderate, and redirect that power so as to render the dominance of one social force compatible with the community of many.” (hal. 9). Jadi institusi memediasi dan meredakan efek power yang digunakan berbagai kelompok sosial secara telanjang dalam arena politik. Dapat dicatat, definisi Huntington perihal institusi sedikit berbeda dengan definisi institusi di literatur New Institutional Economic, yang meminjam definisi Douglas North. Menurut North, institusi adalah peraturan dan regulasi.

Selain menunjukkan bahwa gerak pembangunan ekonomi dan gerak politik ini tidak serta-merta beriringan, Huntington juga menggugat bahwa demokrasi tidaklah selalu bentuk rezim yang ideal. Tidak penting apa bentuk pemerintahannya, tulis Huntington, selama ia dapat memerintah dengan baik dan benar. Kalimat pembuka buku ini sempat menggegerkan dunia ilmu politik Amerika Utara saat itu: “the most important distiction among countries concerns not their form of government but their degree of government.” Akibatnya, Uni Soviet dan Amerika sama saja, walaupun yang satu demokrasi dan yang satu lagi komunis otoritarian. Mereka sama-sama terinstitusionalisasi dengan tingkat kapasitas memerintah yang tinggi. Huntington mengingatkan pembaca bahwa tugas pemerintah pertama-tama adalah memerintah dengan efektif, tak peduli jenisnya apa, sebagaimana yang James Madison pernah tulis di The Federalist No.51: “the great difficulty lies in this: you must first enable the government to control the governed; and in the next place oblige it to control itself.” (Madison via Huntington, hal.7).

Lebih kontroversial lagi, Huntington menulis, bahwa di negara yang sedang melakukan proses modernisasi, demokrasi pluralis ala Amerika bukanlah sistem yang ideal. Negara-negara yang melakukan proses modernisasi menghadapi masalah pelik di masyarakatnya yang terkait dengan “kesenjangan ekonomi, perpecahan diantara kaum muda modern dan kaum tua tradisional, serta mereka yang berkuasa dan tertindas dalam struktur sosial lama.” Huntington berpendapat, untuk mengatasi persoalan ini diperlukan pemerintahan yang kuat dan sentralisasi otoritas dan bukan demokrasi yang justru mendesentralisasi power dan otoritas. Pengalaman modernisasi di Amerika Latin menunjukkan jelas kontradiksi ini: pengaplikasian demokrasi ala Amerika bersilang-sengkarut dengan usaha melakukan transformasi sosial. Usaha transformasi sosial jelas tidak dapat dilakukan ketika pemerintahan lemah dan belum terinstitusionalisasi, persis akibat dari pengenalan demokrasi sebagai institusi yang relatif asing dan baru di negara-negara tersebut (hal. 135-136).

Jika benar yang dibutuhkan adalah sentralisasi power dan otoritas untuk membentuk pemerintahan yang kuat, maka mungkin model yang patut ditiru negara-negara yang melakukan modernisasi adalah model otoritarian. Huntington menulis: “the primary need their countries face is accumulation and concentration of power, not its dispersion, and it is in Moscow and Peking and not in Washington that this lesson to be learned.” (hal. 138). Bagian inilah yang paling kontroversial dari buku ini, dimana Huntington menyarankan bahwa transisi otoritarian itu perlu bagi negara-negara yang melakukan modernisasi.

Buku Huntington ini ada baiknya dibaca bersama dengan artikel yang ia tulis belakangan di jurnal Comparative Politics pada tahun 1971 berjudul "The Change to Change: Modernization, Development, and Politics." Dalam artikel tersebut Huntington membahas usaha ilmu politik untuk merumuskan sebuah teori tentang perubahan politik yang merujuk pada teori yang ia tulis di buku Political Order in Changing Societies ini.
Info Buku:


Judul: Political Order in Changing Societies
Penulis: Samuel Huntington
Penerbit: Yale University Press
Tebal : 512 halaman
ISBN: 9780300116205