For the Love of Books

Ibadah Sehari-hari Buldanul Khuri

OLEH YUS ARIYANTO
Editor jalankaji.net
yus.ariyanto@jalankaji.net


| |


buldan
Saksi Mata melambungkan nama Seno Gumira Ajidarma ke langit kesusastraan Indonesia. Dihiasi gambar Agung Kurniawan, desain sampul dibikin Buldanul Khuri – biasa disapa Buldan. Nama terakhir bukan hanya berurusan dengan sampul. Ia adalah pendiri Bentang Budaya, penerbit kumpulan cerpen tersebut.

Bentang adalah salah satu “monumen” dari dekade 90-an. Masih lekat di ingatan beberapa buku penting dan menarik lain dari Bentang. Misalnya, Senjakala Kebudayaan (kumpulan esai Nirwan Dewanto yang memuat makalahnya di Kongres Kebudayaan 1991) atau Zaman Peralihan (kumpulan esai Soe Hok Gie). Juga kumpulan surat pelukis Nashar yang diluncurkan ulang di bawah judul Nashar oleh Nashar dan terbitan ulang novel masyhur Kuntowijoyo, Khotbah di Atas Bukit.

Buldan Dengan Tiga Bukan ini adalah catatan ringkas penyair Dorothea Rosa Herliany yang merekam kiprah Buldan sebagai “orang buku,” saat berada di puncak maupun di nadir, sejak 1992. Diterbitkan secara indie oleh MataAngin, dua tahun lalu, buku ini memantik rasa penasaran saya sejak pertama kali dipromosikan di media sosial.

Tentu, sebagian besar isi buku 85 halaman ini mengisahkan Buldan dalam mengelola Bentang – meski penerbit berbasis di Yogya itu bukan lagi miliknya sejak 2004.

Periode 1994-1998 adalah masa-masa sulit untuk Buldan. Saking keteterannya, ketika krisis moneter mulai melanda pada 1997, ia harus berjualan pohon kaktus di Bundaran UGM. “Selama empat tahun itu, Bentang berada dalam belitan utang yang terus bertumpuk. Para karyawan Bentang yang rata-rata teman sehari-harinya, satu per satu pergi kerena gaji terbengkalai,” tulis Rosa.

Saksi Mata, Senjakala Kebudayaan, dan Zaman Peralihan terbit pada periode saat Buldan pontang-panting menghidupi keluarganya tersebut. Tak meleset kiranya jika frasa dari Rendra disematkan ke Buldan: gagah dalam kemiskinan. Ia menerbitkan karya-karya kaliber juara meski hidupnya memprihatinkan.

Nasib tak selamanya kelam. Pada awal 1998, naluri bisnis pria asal Kotagede, Yogyakarta, ini bekerja dengan baik saat memutuskan untuk menerbitkan ulang karya Kahlil Gibran, Cinta, Keindahan, Kesunyian. Buku terjemahan ini pertama kali meluncur pada November 1997. Eh, ternyata laris.

Sampai Maret 1998, buku itu dicetak enam kali, dengan total 16 ribu eksemplar. Bentang lalu menerbitkan terjemahan karya-karya Gibran yang lain. Dan, disambut pasar juga. Bentang menggeliat, Buldan pun merangkak ke titik puncak. Ia membeli rumah, mobil, juga pelesir ke luar negeri.

Selain buku-buku Gibran, bantuan dana dari Ford Foundation yang bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) juga memgalirkan angin segar. Periode 1998-2002 menjadi masa keemasan Bentang. Sebulan bisa menerbitkan 30 buku.

***

Dalam catatan Rosa, ada dua ciri Bentang yang menonjol. Pertama, desain sampul. Buldan kerap melibatkan para perupa. Karya perupa seperti Djoko Pekik, Nasirun, Danarto, Agung Kurniawan, Agus Suwage pernah mampir di sampul buku terbitan Bentang. Buldan mau meletakkan sampul sebagai sebuah elemen yang sungguh penting, tidak kalah dengan isi buku.

“Buku itu bukan produk industri. Yang namanya industri, ukurannya adalah untung-rugi. Kalau rugi harus dihentikan. Sementara, buku tidak boleh mati. Buku tetap harus diterbitkan, dengan jalan apapun.



Tak ada yang baru di bawah matahari. “Buldan menyatakan apa yang telah dilakukannya dalam pengolahan desain kover ini diilhami kekagumannya atas sampul buku-buku Pustaka Jaya di era 1970-an,” tulis Rosa.

Cuma cerita Rosa nanggung. Tak diungkapkan apakah Buldan memperoleh karya-karya perupa itu secara gratis (karena faktor pertemanan) atau membayar. Detail begini saya butuhkan sebagai pembaca. Cukup dalam satu atau dua paragraf.

Buldan adalah perancang sampul hampir semua buku Bentang. “Setiap kali mendapatkan naskah baru yang menarik, aku selalu merasakan hawa panas dalam tubuhku, dan ingin segera merancang covernya,” demikian pengakuan ayah empat anak ini. Ia pernah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan desain komunikasi visual.

Ciri menonjol yang kedua adalah pilihan tema buku. Bentang memilih seni, sastra, dan filsafat. Ini pilihan tema yang dijauhi kebanyakan penerbit pada masa itu karena pasar tak banyak menyerap.

“Buku itu bukan produk industri. Yang namanya industri, ukurannya adalah untung-rugi. Kalau rugi harus dihentikan. Sementara, buku tidak boleh mati. Buku tetap harus diterbitkan, dengan jalan apapun. Buku-buku bagus yang secara pasar mungkin tidak menarik, harus ada yang mendanai,” ujar Buldan yang doyan nongkrong di angkringan tersebut.


***

Pada 2002, penerbit Mizan mengajak bergabung. Buldan tak merespons. Wong lagi berjaya, ngapain?

Tak lama berselang, Bentang mulai oleng dihantam beragam persoalan. Minat pembaca mulai bergeser dan ada kelemahan dari sisi manajerial yang kronis. Tiga rumah dan tiga mobil Buldan harus dijual untuk menutup kewajiban. Pada 2004, justru Buldan yang mengetuk pintu Mizan. “Saya tidak mampu dan tidak berminat dalam manajerial perusahaan,” kata Buldan kepada TEMPO, Mei 2004.

Bentang ternyata tidak bisa dibeli karena aset dan keuangannya terlalu rumit untuk diaudit. Buldan dan Mizan lalu sepakat membentuk perusahaan baru, namanya Bentang Pustaka. Ia menjadi direktur tapi tidak berkuasa karena ada CEO yang diutus penerbit dari Bandung tersebut.

Buldan hanya wajib ngantor Senin dan Jumat. Senin untuk perancangan, Jumat untuk evaluasi. Ia mengaku situasi baru ini ternyata membuatnya tidak kreatif. Kebebasan dan inspirasi dalam dirinya tidak muncul kalau harus bekerja dalam pengawasan “industrial. Ia pun akhirnya keluar dari Bentang.

***
Kemarin, di akun facebook-nya, Buldan memasang foto dia sedang membaca buku Puncak Kekuasaan Mataram karya H.J. De Graaf. “…saat ini daminya sdg dikirim ke Belanda, utk dibaca yg terakhir kalinya oleh KITLV, sebelum dicetak banyak. Semoga bulan ini sdh bisa hadir ke hadapan Anda,” tulisnya di-caption. Buku terjemahan itu pada 1986 pernah diterbitkan Grafiti Pers.

Ia terus bergerak. Sendiri. Mencetak buku 300 eksemplar, dengan nama penerbit MataBangsa atau MataAngin, sudah cukup. Laku, syukur; kalau tidak banyak dibeli, ya tidak apa-apa. Menurut Rosa, bekerja di perbukuan, bagi Buldan, adalah ibadah sehari-harinya.

“…aku itu sudah “selesai” dalam perkara membuat buku-buku seperti yang dulu-dulu pernah kubuat. Kalau sekarang masih bikin buku, itu sekadar untuk iseng dan kesenangan,” kata Buldan seperti dicatat Rosa.

Kata seorang pemerhati industri perbukuan, Buldan bukan intelektual, bukan orang kaya, bukan seniman. Pria dengan “tiga bukan.” Seharusnya tambah satu: bukan manajer. Bagaimanapun sejarah mencatat ia pernah menerbitkan buku sekelas Saksi Mata dan ratusan kitab bagus lain.
Info Buku:


Judul: Buldan Dengan Tiga Bukan
Penulis: Dorothea Rosa Herliany
Penerbit: MataAngin, 2018
Tebal : 85 halaman
ISBN: -