For the Love of Books

Kaum Konservatif dan Progresif Nan Elitis

OLEH MADE SUPRIATMA
Peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) - Yushof Ishak Institute, Singapura



| |



thomasfrank_conservatives
Donald Trump mendulang 70 juta lebih suara. 48 persen pemilih Amerika memilih dia. Berlawanan dengan perkiraan orang, dia memperluas elektorat secara rasial. Pemilihnya naik di kalangan Latino/Hispanic yang menjadi 'korban' kebijakan imigrasinya. Juga naik di kalangan orang kulit hitam, yang turun ke jalan secara besar-besaran dalam gerakan Black Lives Matter.

Bahkan Trump juga mendapat kenaikan suara dari golongan LGBTQ yang banyak dirugikan oleh kebijakannya khususnya dalam bidang kesehatan dan berpartisipasi dalam militer.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya melihat kembali buku Thomas Frank ini. Dalam buku terbitan 2004 ini, Frank menjelaskan bagaimana gerakan Konservatif yang menjadi pondasi Partai Republik mulai masuk ke kalangan kelas buruh Amerika.

Frank memberikan penilaian yang mengejutkan tentang keberhasilan golongan Konservatif dalam menaklukan basis tradisional kaum Liberal, yakni kelas buruh.


Konservatif Republikan menawarkan 'values' (nilai-nilai) kepada anggota-anggota serikat buruh. Misalnya, isu aborsi menjadi isu yang mengalahkan ekonomi. Kecurigaan kepada hal-hal yang asing, kepada imigran, kepada perubahan-perubahan nilai-nilai tradisional dipompakan kepada kelas buruh.

Hasilnya adalah apa yang kini dikenal sebagai "White Christian Derangement Syndrome." Para anggota serikat buruh ini jugalah yang kemudian secara agama beralih dari Protestantisme atau Katolisisme ke Kristen Evangelis. Merekalah pendukung Reagan, Bush I, Bush II, dan kemudian Trump. Jumlah mereka sekitar 23 persen dari elektorat.

Apakah para elit konservatif peduli dengan kesejahteraan para buruh ini setelah berkuasa?

Frank mengatakan, jauh dari itu. Para pemimpin gerakan konservatif ini "may talk Christ, but they walk corporate," kata Frank. Mereka omong Kristus tapi berjalan seperti pengusaha. Dia menuduh Republikan menyajikan imajinasi "roti dan sirkus" untuk menaklukan kaum buruh. Hanya saja dalam kenyataan mereka memberikan hanya sirkus tanpa roti.

Frank memberikan penilaian yang mengejutkan tentang keberhasilan golongan Konservatif dalam menaklukan basis tradisional kaum Liberal, yakni kelas buruh



Buku ini menyingkap sebuah kontradiksi. Kata Frank, ini adalah sebuah gerakan kelas buruh, yang kerusakannya tidak terhingga kepada kelas buruh.

Frank juga menjatuhkan vonis kepada kaum Liberal (dan progresif) yang dituduhnya tidak mengerti apa yang terjadi di kalangan buruh kerah biru (blue collar working class). Gerakan Liberal dan progressif sudah menjadi terlalu elitis, dikuasai media-media mainstream, para professor universitas yang menganggap diri tahu segalanya, dan para aktivis elit yang bicara keadilan sosial namun hidup dengan segala macam hak-hak istimewa (entitlements).

Mereka adalah para aktivis yang perutnya kenyang dengan roti, salad, anggur yang organik. Mereka memandang rendah orang yang hanya mampu makan McDonald atau KFC, makanan paling mewah yang bisa dijangkau kalangan kelas buruh Amerika. Mereka menutup hidungnya untuk kelas buruh dan orang-orang miskin. Namun mereka mahir bicara ketimpangan ekonomi dan kemiskinan dengan mengutip angka-angka statistik yang tidak berbau, tidak berkolesterol, dan bebas gluten.

Trump hanya memperkuat gejala yang dibedah oleh Frank. Disamping gerakan konservatif ini, Trump memperkuatnya dengan kultus individu terhadap dirinya.

Buku ini tidak menawarkan semua jawaban. Namun dia memberikan jalan untuk memahami apa yang terjadi sekarang. Lebih tepatnya menawarkan refleksi atas apa yang terjadi sekarang.

Banyak persoalan dari buku ini juga menjadi pertanyaan saya. Saya hanya mengerti dua negara dengan baik: Indonesia dan Amerika. Sehingga, ketika membaca sesuatu tentang Indonesia saya mencoba mencari padanannya di Amerika. Demikan pula sebaliknya.

Buku Frank ini membuat saya bertanya: Apa akar dari gerakan konservatisme agama di Indonesia? Apa kontradiksinya? Mengapa kita memiliki masyarakat yang sangat konservatif dalam hal nilai, namun tidak sepenuhnya patuh pada standar moral nilai itu dalam bertingkahlaku?

Namun pertanyaan lebih mendalam juga saya arahkan kepada kaum progresif yang mengaku Kiri di Indonesia. Seperti di Amerika, gerakan progresif juga menjadi semakin elitis. Isu-isu seperti HAM, anti-korupsi, keadilan sosial, semakin tidak bergaung di kalangan bawah. Ia kalah dari isu-isu moral keagamaan, baik yang diumpankan oleh elit lewat agen-agennya di kalangan agama maupun oleh para penjaja yang oportunistik untuk mencari celah keuntungan politik dan ekonomi.

Saya harus mengakui, gerakan progresif sudah menjadi elitis. Ia hidup hanya di dalam webinar-webinar; di media-media arus utama; di kepala mereka yang bergelar PhD dari luar negeri, dari STF Driyarkara, atau dari universitas-universitas elit negeri ini; dan di organisasi NGOs yang hidupnya kembang kempis karena menyurutnya arus dana dari donor luar negeri.

Kaum progresif negeri ini juga telah kehilangan ide dan gagasan-gagasan. Ia juga menderita kemiskinan imajinasi. Ia adalah akvitisme yang steril dari lumpur kemiskinan dan ketidakadilan.

Selain elitis, kaum yang mengaku progresif juga belajar menetek pada kekuasaan dan mengklaim "merubah dari dalam."

Bagaimana merubah sesuatu sembari menyusu padanya?
Info Buku:


Judul: What's the Matter with Kansas? How Conservatives Won the Heart of America
Penulis: Thomas Frank
Penerbit: Picador, 2005
Tebal : 332 halaman
ISBN: 9780805077742