For the Love of Books

Luka dan Hidup

OLEH ARMAN DHANI
Editor jalankaji.net
arman.dhani@jalankaji.net


| |


emilybronte_wutheringheights
Salah satu penggambaran luka dan kekecewaan yang paling membekas dalam hidup saya, adalah kisah hidup Heathcliff dalam novel Wuthering Heights karangan Emily Bronte. Kekecewaan yang luar biasa karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa cintanya pada Catherine Earnshaw kandas karena status. Luka itu dipelihara Heathcliff menjadi bahan bakar untuk membalas dendam. Mumford and Sons, yang kemudian mengisi soundtrack lagu untuk adaptasi novel ini pada 2011 menggambarkan dengan sempurna kekecewaan Heathcliff dalam bentuk lagu.

Mereka yang membaca Wuthering Heights mungkin akan setuju penerjemahan lirikan Mumford and Sons demikian dekat dengan plot dan karakter Heathcliff. Seorang Anak pungut yang hidup dalam keluarga tuan tanah, jatuh cinta dengan putri ningrat, dibenci oleh saudara laki-laki si perempuan, dan diusir karena tak lagi punya perlindungan. Heathcliff hanya tahu satu wajah cinta dari Catherine dan ketika perempuan yang ia cintai memutuskan untuk menikahi orang lain, satu-satunya jangkar yang membuat ia waras hilang, si Anak Pungut itu memilih untuk menjadi monster untuk bertahan hidup.

Tapi apakah luka itu? Dalam satu babak drama “Pengadilan Lucullus”, Bertolt Brecht menulis: kerap kali manusia melupakan perhatian dan cinta lantas lebih mengingat perbuatan buruk dari seseorang. Lagipula apa yang tersisa dari sebuah ciuman? Sementara luka, meninggalkan bopeng. Heathcliff, seperti juga mereka yang patah hati lantas berpisah dengan pasangannya, memelihara luka.

Kita bisa terus menjilat luka, lick your wounds, usaha untuk menyembuhkan diri dari rasa sakit. Alih-alih menjadikan luka tadi sebagai penghambat, mengasihani diri sendiri, Heathcliff memaksa dirinya untuk menjadi lebih keras, lebih pejal, dan lebih keji. Menjadi rentenir dan meraih kesuksesan sampai menguasai harta dari keluarga Earnshaw. Di sini luka menjadi bahan bakar kebencian, menjadi pengingat, bahwa tragedi yang terjadi mesti dibalas dengan penderitaan yang lebih besar.

Mengapa kita memelihara luka dan tidak berusaha mencari bantuan untuk kesembuhan? Mungkin jawabannya bukan pada luka itu, tapi pada apa yang kita rasakan dari luka. Saat terjatuh dan bagian tubuh kita terluka, respon awal dari sistem tubuh kita adalah rasa perih, sakit, dan ketidakmampuan bagian tubuh yang terluka untuk berfungsi. Darah mengalir dan kita menangis. Sistem saraf kita mengirimkan jutaan pesan ke otak tentang apa yang terjadi dan otak membuat kita merasakan sakit.

Mengapa kita memelihara luka dan tidak berusaha mencari bantuan untuk kesembuhan? Mungkin jawabannya bukan pada luka itu, tapi pada apa yang kita rasakan dari luka

.

Seperti Heathcliff, kita merespon luka sebagai usaha manusia untuk bertahan hidup. Luka menghasilkan rasa sakit, meninggalkan bekas, dan pada akhirnya membuat kita merasa peru beradaptasi. Luka mengirimkan sinyal pada otak untuk menghentikan segala aktifitas yang membuat kita merasakan sakit. Tetapi luka juga memberikan kita rasa nyaman, perasaan aman, dan pembebasan karena saat kita merasakan pedih, kita melupakan penderitan-penderitaan lain. Luka fisik bisa disembuhkan, tapi perasaan sakit dari batin yang menderita selamanya akan ada.
Info Buku:


Judul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerbit: Macmillan
Tebal : 512 halaman
ISBN: 9780333372869