For the Love of Books

Maju Musiknya, Bahagia Warganya: Kronika Musik Kota Malang

OLEH SAMACK
Penggemar musik, buku dan film; tinggal di Malang

ritmekota
“Dengan fasilitas serta teknologi yang hadir saat ini, sudah semestinya para pelaku musik di kota Malang lebih pintar dan mampu memanfaatkannya dengan baik. Bukan sebaliknya, justru dibuat terlena atau mengikuti arus pasar...” tegas Radinang Hilman dalam tulisannya yang berjudul “Geliat Rock Alternatif Kota Malang dalam Tiga Babak”.

Di tulisan itu ia bercerita panjang soal kancah musik alternative rock di Malang sejak era akhir ‘90-an sampai gelombang kibatan gitar indie rock di dekade 2000-an. Dari kiprah band-band seperti Hectic, The Morning After, sampai Beeswax. Cukup panjang, runut dan cermat. Dihimpun dari hasil dari observasi, wawancara, serta riset yang tajam pada setumpuk arsip zine dan media alternatif.

Naskah tersebut adalah salah satu bagian dari buku Ritmekota: Kumpulan Tulisan Musik dari Kota Malang yang diterbitkan oleh Pelangi Sastra (2019). Ritmekota adalah buku antologi yang merekam aneka kisah dari ekosistem musik di Malang. Berisi kumpulan naskah dari dua belas penulis yang berperan sebagai saksi, penggali fakta, dan juga pencerita.

Kebetulan mereka adalah para penulis musik, blogger, zine maker, dan penggiat media – baik yang masih aktif maupun yang sudah agak “pensiun” dalam menulis. Hampir semuanya adalah penulis muda, yang bahkan karyanya belum pernah dibukukan sebelumnya. Kedua belas orang ini menulis kesaksian sederhana dalam bentuk feature, scene report, reportase, esai, atau ulasan apapun perihal musik di Malang.

Menulis kerap menjadi hobi dan profesi bagi kedua belas orang ini. Namun stempel yang paling tepat bagi mereka mungkin adalah scenester – jika frase ini masih layak untuk disandang saat ini, di tengah istilah “anak skena” yang tampaknya cuma lebih rajin nongkrong dan update stori Instagram.

Kisah Beragam Genre Musik dan Kemanusiaan


Menurut riwayatnya, kedua belas orang itu memang ikut hidup dan menghidupi scene musik di Malang, serta menikmati banyak gejolak beragam genre musik dari sana.

Misalnya:

…Nama-nama itu tadi sangat berpengaruh dan membawa kota Malang mulai dikenal dengan gelombang emo revival-nya. Sekaligus menjadi pemicu bagi anak-anak muda lainnya untuk membentuk band atau mengubah haluan musiknya menuju emo/post hardcore,” tulis Alfan Rahadi, yang telah sekian lama mengabdikan hidupnya pada aneka aktifitas bermusik. “Tetapi, apakah gelombang emo revival di Malang ini terjadi begitu saja atau karena tren semata?!

Alfan Rahadi melakukan pengamatan yang jeli akan histori emo dan post hardcore di Malang, dan bisa dibilang ikut bertanggungjawab atas maraknya gelombang emo revival di kotanya. Dia cukup fasih menyebutkan satu demi satu band/musisi sampai kepada beragam gigs serta venue yang mengerek tinggi bendera emo di sekitarnya.

Pada tulisan lain, Prana Okta merefleksikan kancah hardcore dalam rentang tahun 2016-2018. Setelah mengungkapkan sejumlah data dan fakta empiris, dia seperti menyimpan misteri sendiri, “...Lalu pertanyaannya sekarang, apakah scene hardcore di Malang sudah ideal?!” Lantas dengan percaya diri berani menyatakan, “Memang belum. Tapi kalau melihat track record selama dua tahun belakangan, melihat bagaimana mereka membangun relasi, memanfaatkan media sebagai promosi atau hal-hal lain yang esensial, saya cukup optimis suatu saat nanti scene hardcore di kota Malang akan lebih besar lagi.”

Ritmekota juga memuat esai historis perihal perkembangan label rekaman di Malang yang ditulis dengan cermat oleh Fajar Adhityo, seorang musisi, jurnalis dan pengelola label rekaman Tarung Records. Ia berkilas balik dari masa produksi rekaman analog (kaset dan CD) di era ‘90-an sampai ke masa digital yang makin praktis namun membingungkan bagi indie label di kotanya.

Dia sampai mengutarakan, “Tak ada alasan bahwa merilis rekaman saat ini susah, terlebih di era digital yang serba mudah. Hanya kemauan tinggi dan kenekatan yang membuat semuanya bisa terwujud. Jika kita masih berbicara tentang ‘support your local scene’, maka dukung kerja keras dari label rekaman dan musisi yang ada di sekitar!

Esai personal yang bahagia hadir dalam Ritmekota lewat tulisan Dewi Ratna yang mengulas konser-konser garapan Malang Sub Pop. Dia menceritakan pengalamannya dari satu venue ke venue lain ketika menonton pertunjukan Sarasvati, Pandai Besi, hingga Sore yang diorganisir Malang Sub Pop. Pada baris terakhirnya dia bisa menyimpulkan: “Dari konser-konser yang digelar di Taman Budaya Senaputra, Bioskop Kelud, dan Wisata Pemancingan Lembah Dieng, bisa dibilang Malang Sub Pop berkontribusi besar bagi para pengelola tempat wisata mangkrak di kota Malang.”

Ritmekota juga mengundang mantan mahasiswa perantauan, Didid Haryadi dan Agung Rahmadsyah, untuk menceritakan pengalaman pergumulan mereka dengan kancah musik saat numpang menempuh studi di Malang. Dari penuturannya, tampak kalau mereka berdua cukup bahagia serta mendapatkan banyak “oleh-oleh” dari sana.

“Sisi lain dari gemuruh musik di Malang ternyata menyimpan cerita yang menarik terutama bagi para aktivis dan penggiat kemanusiaan. Kota Batu yang terletak di sebelah barat Malang telah melahirkan sosok kharismatik dan berani di bidang penegakan hak asasi manusia, yaitu Munir Said Thalib,” tutur Didid Haryadi yang sekarang menjadi dosen di Jakarta.

Perkenalan Didid Haryadi dengan lagu-lagu protes dan isu kemanusiaan dari karya band-band lokal Malang sampai Homicide dan Efek Rumah Kaca semasa kuliah justru mengantarkan kekaguman dia kepada sosok aktivis kelahiran Batu, Malang. Tulisannya berjudul “Munir Said Thalib: Epos ‘Di Udara’ Hingga Militansi Untuk Para Los Desaparecidos” membuktikan kalau musik bukan sekadar bunyi atau hiburan belaka. Melainkan mampu memberi pencerahan baru yang memantik kesadaran, pola pikir, dan mungkin aksi lanjutan.

Zidni R. Chaniago berbagi opini soal gegap gempita penyelenggaraan gigs berdasar pengalamannya di Warung Srawung. Pada kedai kopi tempat di mana Iksan Skuter dan Remissa tumbuh itu memang ada beragam aktifitas serta hajatan kebudayaan. Zidni adalah salah satu anggota seksi sibuknya. Dari banyak pengalamannya di sana, dia lantas menantang balik, “Bila hari ini kita bersepakat untuk saling dukung, maka biarlah itu mewujud menjadi aksi-aksi nyata. Hadiri gigs yang menggugah. Hadiri gigs yang gagah menantang kemiskinan pikir dan sikap. Hadiri gigs semata demi melawan kemalasan diri sendiri.

Penulis lainnya, KMPL, hanya perlu mengamati segala tingkah dan perilaku para penggemar Tani Maju untuk mengemas sebuah reportase yang menarik soal fanbase grup musik. Dia yang kebetulan satu kampus dan satu habitat dengan Tani Maju tahu benar apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Dari bawah panggung Tani Maju, KMPL bersaksi: “...Terkadang sulit mengkategorikan penggemar Tani Maju saat ini. Mereka hadir dari segala penjuru, mematahkan dogma-dogma strategi pemasaran efektif band berdasarkan umur dan kedudukan, jabatan dan juga spesifikasi seorang individu. Mereka bisa saja seorang videografer sampai kuli bangunan, seorang penulis lepas atau seorang pegawai kantoran, anak punk hingga anak hardcore. Mereka heterogen. Tentu akan sangat sulit merepresentasikan pasar musik Tani Maju itu dalam satu spektrum yang sangat strict.”

Selain penulis, Ritmekota juga memberi ruang bagi musisi untuk menuliskan pengalaman personalnya di balik proses kreatif atau karir bermusiknya. Musisi yang menulis. Peran ganda yang jarang dimainkan di negeri ini, pantas saja hampir tidak ada autobiografi musisi yang terbit di sini.

Seperti Nova Ruth yang menuturkan kisah pribadinya sejak masa kecil yang dilingkupi musik beragam aliran, masa remaja labil yang tergila-gila pada kultur hip hop, serta pertemuannya dengan Filastine yang mengubah arah hidupnya sehingga dia memutuskan untuk menantang perbatasan lebih jauh.

Dalam hati, aku tidak keberatan hidup seperti itu – menghabiskan apa yang sudah aku hasilkan dari pekerjaan yang disukai serta mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan di negara yang sungguh asing dari kehidupanku di Malang. Toh, yang kunyanyikan juga ingin aku suarakan kepada penonton di hadapanku. Meski lirikku banyak yang berbahasa Indonesia, aku meyakini bahwa musik dapat menjelaskan segalanya…”, katanya.

Beda lagi dengan Han Farhani, seorang musisi sekaligus penyanyi yang menggilai sastra dan puisi. Dalam tulisannya berjudul “Mengapa Saya Menyanyikan Puisi?”, dia justru menggugat makna musikalisasi puisi berdasarkan wawasan dan pengalamannya. Tepat ditulis di masa demam musik folk yang puitis. Mau itu Bob Dylan, Patti Smith sampai Nick Drake. Maupun AriReda, Sisir Tanah hingga Fiersa Besari.

Di luar aneka narasi berbau romantika dan bumbu sentimentalia, sebagian penulis Ritmekota juga sesekali ikut menangkap kegelisahan warga kota. Seperti soal minimnya upaya dan pencapaian para pelaku/musisi, tabiat scene yang apolitis dan keras kepala, demam tren dan euforia pada genre tertentu, tugas berat pada sektor produksi, serta sinar dari pusat industri musik yang selalu saja menyilaukan.


Dia lantas bilang, “Bagi saya istilah ‘musikalisasi puisi’ itu adalah istilah yang membingungkan! Coba kita lihat, berapa banyak musisi yang memulai menulis lagu diawali dari menulis liriknya terlebih dahulu. Ketika kemudian dia menyanyikan liriknya tersebut, apakah itu juga disebut musikalisasi puisi?

Juga ada narasi sentimental dari Lydia Alessia yang pernah “tersesat” di Houtenhand, sebuah bar dan klub musik legendaris di jantung kota Malang. Soal hangatnya tempat itu beserta orang-orang di dalamnya. Kisah berbagi playlist musik baru sampai mengenal The Strokes dan Arcade Fire dari tongkrongan di sana. Hingga kenangan romantika berpacaran dan menonton konser rahasia WSATCC dari sisi bar.

Tempat yang juga akrab disebut “Balai Desa” itu dengan senang hati dan tangan terbuka menerima kehadiran orang-orang baru. Siapapun itu, untuk menjadi bagian dari kehangatan yang ada di dalamnya. Terima kasih sudah membuat Houtenhand menjadi ada,” ungkap perempuan itu di ujung tulisan sentimentil berjudul “Kolase Kerinduan dalam Bingkai Houtenhand”.

Tentang Perlunya Membangun dan Merawat Shared Memories


Sebentar, apakah memang seseru dan semenarik itu kancah musik di kota Malang? Untuk pertanyaan tersebut, kita perlu menengok kembali pada paparan Muhammad Hilmi yang menulis kata pengantar untuk buku Ritmekota. Pria ini kebetulan pernah tinggal lama di Malang dan memiliki pemahaman yang kuat soal scene musiknya. Dia sempat merasakan berbagai gigs, nongkrong dengan banyak squat, bahkan sempat menggarap Sintetik Zine di sela kesibukannya kuliah di Malang.

Mengutip pengantarnya, Hilmi yang sekarang bekerja di situs Whiteboard Journal itu menulis: “Sampai sekarang, masih sulit mencari pembanding untuk betapa nggerus-nya Kee saat di panggung, betapa intensnya tatapan mata Donny saat bermain bersama Freshwater Fish, mencekamnya Ritual Orchestra, bagaimana The Morning After mengembalikan label keren pada term alternative rock secara effortlessly, betapa tulus senyum Paraou Paskalis saat bermain atas nama PEKA, juga bagaimana Ebony & Ivory mengubah hidup saya.

Sayangnya, cerita-cerita tentang pengalaman istimewa tersebut seringnya hanya bisa disepakati oleh mereka yang turut menghadiri. Di luar sana, mungkin akan banyak yang bertanya tentang nama-nama yang tersebut di atas,” lanjut Hilmi. “Kecuali The Morning After, unit-unit yang meninggalkan kisah mendalam tadi kebanyakan cukup puas untuk menjadi urban legend. Rilisan musiknya hanya beredar terbatas di antara beberapa teman, beberapa yang lain bahkan tak sempat rekaman. Mereka hidup murni untuk cipta dan nada. Urusan rekaman, rilis album, sebar woro-woro rilisan, peduli setan.

Lantas, apakah semua itu masih layak untuk ditulis atau bahkan dibukukan?!

Hilmi juga yang kemudian menjawab keraguan tersebut: “Untungnya, kenangan akan musik yang dimainkan, penampilan yang mencengangkan, juga kisah-kisah di antaranya menemukan perpanjangan usia di tutur yang tersebar di tongkrongan, juga di tulisan-tulisan. Mungkin memang benar adanya konsep silaturahmi, ia memperpanjang usia dan menjaganya terus lestari. Dan dalam hal ini, buku ini, saya rasa adalah salah satu manifestasi silaturahmi kisah-kisah tak sederhana yang terjadi di kota Malang. Memercik memori bagi yang pernah mengalami, dan, bagi yang masih awam, membuka introduksi.

Di luar aneka narasi berbau romantika dan bumbu sentimentalia, sebagian penulis Ritmekota juga sesekali ikut menangkap kegelisahan warga kota. Seperti soal minimnya upaya dan pencapaian para pelaku/musisi, tabiat scene yang apolitis dan keras kepala, demam tren dan euforia pada genre tertentu, tugas berat pada sektor produksi, serta sinar dari pusat industri musik yang selalu saja menyilaukan. Itu bisa menjadi catatan kegusaran dan kritik tersendiri buat music scene di Malang. Tetap saja ada sisi melankolia dari sebuah pergerakan budaya di suatu daerah.

Ritmekota mungkin bisa mengisi rak yang sama dengan buku-buku sejenis, seperti misalnya buku Bandung Pop Darling (Irfan Popish), Musik Jakarta (Felix Dass & John Navid), atau Soundscape dari Makasar. Sebelum itu semua, sudah ada kitab Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur karya Kimung serta jurnal Musik & Warga Kota karya Idhar Resmadi. Seluruh buku itu berbicara soal narasi tentang kota dan geliat musiknya – yang notabene itu sebetulnya adalah gaya scene report warisan dari kultur zine.

Sejak dalam pikiran dan gagasan pun, Ritmekota memang cuma bermaksud mengumpulkan berbagai catatan, rekam jejak, serta esai personal seputar music scene dan ekosistem seni-budaya di Malang. Menjadi seonggok buku kecil yang tidak terlalu tebal, hanya 160 halaman. Yang bisa dibaca tuntas sekali duduk, namun ceritanya diharapkan bisa tetap timeless.

Secara lebih sederhana, Ritmekota sekadar ingin merekam ragam cerita, pengalaman, serta kebahagiaan anak manusia atas kultur musik di Malang. Persis seperti yang disampaikan Agung Rahmadsyah dalam penutup tulisannya di buku itu: “…Selama mereka masih berada dalam dunia musik, sudah waktunya saling membantu untuk merancang sebuah dunia yang menyenangkan. Bagaimana caranya? Cukup mudah, jangan pernah kehilangan rasa bahagia jika bertemu dengan musik. Karena musik adalah sebuah dunia yang penuh kejutan.”


*Kisah proses penerbitan buku Ritmekota bisa dibaca pada situs DCDC. Buku Ritmekota masih bisa didapatkan melalui penerbit Pelangi Sastra.

Info Buku:


Judul: Ritmekota: Kumpulan Tulisan Musik Dari Kota Malang
Penulis: Samack (editor)
Penerbit: Pelangi Sastra, 2019
Tebal : 159 halaman
ISBN: 978-623-7283-12-6