For the Love of Books

Mematut Matut Wajah Islam Kini

OLEH AMIRUDDIN AL RAHAB
Anggota KOMNAS HAM



| |

heresy
Islam secara sosiologis dan politik adalah kenyataan di Indonesia. Kenyataan itu jauh lebih tua dari negara bangsa yang kini kita kenal sebagai Indonesia. Atau bisa pula dinterpretasikan bahwa dari rahim komunitas Islam itu lah bangsa Indonesia menjelma berdinamika dengan komunitas-komunitas umat beragama lainnya.

Mendiskusikan fenomena perilaku komunitas-komunitas Islam sebagai gejala sosiologis dan politik, perpektif historis itu tidak bisa dikesampingkan. Dengan kata lain, bahwa komunitas-komunitas Islam memiliki berbagai peran dalam rentang sejarah pembentukan negara bangsa Indonesia adalah kenyataan. Namun sejarah juga menunjukan bahwa komunitas Islam yang berperan dalam membentuk Indonesia juga tidak pernah berwajah tunggal.

Ahmad Najib Burhani dalam Heresy and Politics: How Indonesia Islam Deal with Extremism, Pluralism and Populism (2020) menguraikan wajah Islam yang tidak tunggal itu. Ia memotret perubahan perilaku komunitas-komunitas Islam dalam merespon situasi Indonesia hari ini.

Buku ini tidak membentangkan pemikiran yang terkonsolidasi, melainkan percikan pemikiran untuk menangapi munculnya fenomena-fenomena perilaku harian beberapa komunitas Islam yang muncul ke ruang publik terkait politik dewasa ini yang cendrung konservatif dan ekstrem. Sebab, buku ini berisikan tulisan-tulisan pendek, kesaksian-kesaksian Burhani atas tingkah laku komunitas Islam dan elit-elitnya dengan segala wajahnya dalam menyikapi perkembangan sosial-politik di Indonesia.

Tersebab karena kesaksian, terasa dan tampak dalam seluruh tulisan aneka macam wajah dari komunitas Islam Indonesia, menghadirkan rupa wajah Islam itu dalam memandang dan bersikap pada Negara dan sikap komunitas Islam terhadap kelompok-kelompok minoritas. Maka dari itu tidak mengherankan Burhani memilih anak judul bagaimana Islam Indonesia berhadapan dengan ekstremisme, pluralisme, dan populisme. Sebab ketiga konsep itu selalu terefleksi dalam relasi Islam dengan negara atau kekuasaan. Artinya bagaimana komunitas-komunitas Islam memandang negara dan bersikap pada negara di satu sisi, dan bagaimana komunitas Islam itu bersikap dan bertindak kepada komunitas-komunitas minoritas di Indonesia di sisi lainnya.

Burhani memaparkan relasi Islam dan Negara yang tak kunjung usai itu. Mulai dari fenomena partai politik beridentitas Islam yang tidak mampu melampaui garis batas untuk bisa masuk ke dalam arena formal di DPR-RI, sampai pada gagal totalnya tokoh-tokoh yang membawa identitas politik Islam untuk bisa duduk di kursi Presiden melalui Pemilu, setelah reformasi. Lebih dalam dari itu juga ditunjukkan adanya rivalitas yang tinggi antar tokoh-tokoh yang berpolitik dengan identitas Islam, yang mengakibatkan tokoh-tokoh itu gagal secara politik. Serta rontoknya beberapa paratai-partai politik yang berwajah Islam karena tidak berhasil meraih suara secara signifikan dalam Pemilu.

Bukan hanya itu. Burhani juga mengulas dengan tajam dinamika politik dengan identitas Islam pasca reformasi. Dinamika yang tajam itu menghadirkan banyak organisasi keislaman yang bergerak mulai dari mengusung ideologi konservatif yang menghendaki Indonesia Syariah atau sistem Khilafah sampai dengan hadirnya kelompok-kelompok radikal yang melancarkan gerakan teror dengan ideologi terorisme. Gejala terorisme mendapat perhatian tersendiri oleh Burhani, karena adanya gejala tokoh-tokoh mendiamkan gejala terorisme itu karena bukan kelompoknya yang melakukan. (h.76)

Seluruh wajah komunitas Islam yang dipotret Burhani merentang rautnya. Mulai dari NU dan Muhammadiyah yang menampilkan sifat keumatan yang nasionalis sekaligus religius. Sementara ada raut wajah seperti FPI dan HTI, yang menampakan penolakkan terhadap negara bangsa Indonesia, dan berkehendak untuk mengubahnya dengan sistem khilafah, melalui propaganda dan mobilisasi massa, serta demonstrasi-demonstrasi di jalanan. Raut wajah yang lain dari komunitas Islam adalah kelompok-kelompok Jihadis dengan nama yang begitu banyak, serta silih berganti, menolak negara bangsa dan berkehendak mendirikan khilafah melalui gerakan bersenjata dan teror.

Dengan kata lain, muncul gejala menguatkanya komunitas Islam yang mempropagandakan anti nation-state Indonesia dan bercita-cita mendirikan negara khilafah yang mondial, atau menjadikan Indonesia menjadi negara bersyariah yaitu Negara Islam Indonesia. Gejala ini dilihat oleh Burhani sebagai lahan sumbur tumbuhnya politik identitas, yaitu identitas Islam. Permainan politik identitas itu tampak secara marak dalam Pilres 2019. (h.14) Sikap politik ekstrem begitu dalam politik Indonesia menguat dalam Pilkada DKI di tahun 2017.

Agar ada proteksi, Burhani menawarkan sudut pandang baru untuk minoritas di Indonesia sebagai mustadh’afin yaitu komunitas yang terdiskriminasi, yang dilemahkan dan tertindas.



Menguatnya politik identitas dilihat oleh Burhani sebagai ancaman pada pluralisme. Munculnya perilaku anti dan sekaligus menyerang komunitas Ahmadiah di berbagai lokasi adalah bentuk nyatanya. Komunitas Ahmadiah tampak seperti kelompok yang hidup selalu dalam perasaan takut yang berkepanjangan. (h. 52) Banyak kelompok Islam yang menjadikan Ahmadiah target persekusi. Sayangnya aparatur negara tidak kunjung mampu melindungi Ahmadiah. Burhani menegaskan salah satu esensi dari demokrasi adalah melindungi komunitas minoritas, seperti Ahmadiah, dari persekusi.

Untuk memyelami pandangan Burhani mengenai perlunya perlindungan kepada komunitas minoritas ada baiknya disimak bukunya yang lain yang berjudul Dilema Minoritas di Indonesia: Ragam, Dinamika dan Kontroversi (2020). Menurut Burhani secara legal tidak ada perlindungan khusus kepada minoritas di Indonesia, karena memang tidak pernah dirancang seperti itu. Indonesia memandang semua komunitas setara, oleh karena itu semua dibiarkan bertarung secara terbuka tanpa adanya proteksi. Agar ada proteksi, Burhani menawarkan sudut pandang baru untuk minoritas di Indonesia sebagai mustadh’afin yaitu komunitas yang terdiskriminasi, yang dilemahkan dan tertindas. Dalam konteks Hak Asasi Manusia melindungi kelompok-kelompok yang terdiskriminasi dan tertintas adalah kewajiban negara. Kewajiban negara itu yang kini masih kerap absen.

Seluruh gejala perilaku komunitas Islam yang ekstrem, anti negara bangsa, anti pada perbedaan, kerap melakukan persekusi kepada komunitas minoritas, serta berideologi jihadis yang melancarkan aksi terorisme dilihat sebagai penyimpangan (heresy) oleh Burhani. Peyimpangan perilaku dari beberapa komunitas Islam yang dilihat oleh Burhani tentu perlu mendapat perhatian bersama. Karena sikap yang menyimpang itu bisa mengancam keberlangsungan eksistensi negara bangsa Indonesia, serta bisa mengangu keanekaragaman yang ada dalam bangsa Indonesia.

Seorang intelektual muda NU, M. Kholid Syeirazi, melalui bukunya Wasathiyah Islam: Anatomi, Narasi dan Kontestasi Gerakan Islam (2020) juga membedah gejala penyimpangan yang dimaksud oleh Burhani ini. Kholid mengulas dengan dalam dan luas tentang akar dari gerakan-gerakan komunitas Islam yang menyimpang itu. Semua berhulu dari gerakan salafisme yang masuk ke Indonesia dengan sasaran pemurnian Islam di Indonesia. Salah satu aliran dalam salafisme itu bermaksud meng-Islamkan seluruh pranata sosial-politik, ekonomi dan budaya Indonesia. Dengan kata lain berkehendak untuk memformalisasikan Islam dalam seluruh kehidupan bernegara. Untuk keluar dari perangkap ekstrem itu Kholid menawarkan sikap yang lebih moderat yaitu wasathiyah. Yaitu Islam yang lebih mementingkan isi atau esensi keIslam dalam negara bangsa, tinimbang formalisasi Islam dalam bernegara.

Melalui keprihatinan Burhani tentang perilaku komunitas-komunitas Islam di Indonesia dengan membiaknya politik identitas yang bersikap ekstrem, anti perbedaan, maraknya aksi teror dan elit-elit yang mengumbar politik populisme demi meraih dukungan dan kuasa dalam bukunya ini. Burhani telah memberi cermin, untuk kita mematut-matut wajah kita sendiri dalam hal hubungan agama, dengan negara, dan dengan kelompok yang berbeda.
Info Buku:


Judul: Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals With Extremism, Pluralism, and Populism
Penulis: Ahmad Najib Burhani
Penerbit: Suara Muhammadiyah, Yogyakarta; 2020
Tebal : vii + 180 halaman
ISBN: 978-602-6268-00-0