For the Love of Books

Membaca Kemanusiaan di Tengah Pandemi

OLEH RIZAL SHIDDIQ
Pengajar ekonomi di Universitas Leiden
Editor jalankaji.net
rizal@jalankaji.net

Tahun 2020 akan segera berakhir. Beberapa hari ke depan, kami akan memuat tulisan-tulisan ringkas dari para editor di jalankaji.net mengenai buku favorit yang mereka baca selama tahun 2020 di tengah masa pandemi ini.

Redaksi Jalankaji.net

| |

theplague
Seingat saya, saya pernah membaca novel ini, bersama sejumlah terjemahan karya Malraux dan Sartre, beberapa tahun yang lalu, pada usia orang biasanya masih bersemangat ingin menjadi yang paling eksistensialis. Entah kenapa, waktu itu buku ini tak meninggalkan kesan yang dalam. Kemungkinan besar karena saya masih membacanya sebagai kisah tentang sampar secara harfiah, sementara pandemi saat itu sama sekali tak terbayangkan.

Sampai Covid-19 menerjang kita semua di tahun 2020 ini.

Tiba-tiba, buku yang saya beli lagi di toko buku lokal beberapa minggu sebelum lockdown diberlakukan kembali minggu lalu, terasa begitu familiar. Novel yang ditulis Albert Camus tahun 1947, diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan baik sekali oleh Stuart Gilbert, dan diterbitkan Penguin tahun 2010, ini menjadi buku terbaik yang saya baca ulang di tahun 2020 ini. (11-12 dengan A Promised Land dari Obama, tapi itu nanti saja ceritanya).

The Plague berkisah tentang sekumpulan manusia biasa yang bersama-sama berusaha sebisanya menghalau wabah yang mengancam keselamatan bersama – sementara birokrasi, seperti biasa, tak bisa bergerak cukup cepat, dan penguasa hanya sayup-sayup terdengar di kejauhan. Wabah ini dikisahkan terjadi di kota Oran, waktu itu wilayah kolonial Perancis di Aljazair.

Bocoran plot, ringkasan, dan spoiler novel ini bertebaran di internet; tetapi intinya, ini prosa kemanusiaan yang asyik, sekaligus menjadi dasar bagi kata-kata Camus yang barangkali paling terkenal: "to state quite simply what we learn in time of pestilence: that there are more things to admire in men than to despise."

Dari tautan Wikipedia, saya menemukan artikel yang sangat bagus dari Germaine Brée, “Albert Camus and the Plague”, dalam jurnal Yale French Studies, No.8, tahun 1951. Ia menulis, dan saya sepakat sepenuhnya, kekuatan The Plague adalah narasinya yang justru berbentuk:

“The undramatic and stubborn fight Rieux and his friends organize against the Plague, their human refusal to submit to its domination are presented as the record, not of a theory, nor of a faith, but of an experience” – hal.99

The Plague berkisah tentang sekumpulan manusia biasa yang bersama-sama berusaha sebisanya menghalau wabah yang mengancam keselamatan bersama – sementara birokrasi, seperti biasa, tak bisa bergerak cukup cepat, dan penguasa hanya sayup-sayup terdengar di kejauhan


Perhatikan kata kuncinya: `tak dramatis’ dan `bukan sebagai teori, bukan sebagai keyakinan, tetapi sebagai laku’.

Kita baca, misalnya, di tengah kepungan wabah yang makin mengerikan, tokoh kita Rieux, Tarrou, dan Grand, masih sempat berdiskusi dan memikirkan apakah kalimat “One fine morning in May an elegant young horsewoman might have been seen riding a glossy sorrel mare along the flower-stern avenues of the Bois de Boulogne” sudah cukup sempurna sebagai pembuka novel yang ingin ditulis Grand, si pegawai Pemda.

Bagian ini hanya salah satu dari sekian banyak penggambaran yang sangat menyentuh tentang bagaimana harapan, perbaikan, dan kemanusiaan tetap diusahakan, bahkan dalam masa yang celaka sekalipun. Tak perlu harus sebagai bentuk keyakinan atau ide-ide besar tertentu, pun bukan sebagai laku yang dramatis. Toh, dalam masa pandemi seperti sekarang, drama dan glorifikasi (apalagi dari pemerintah yang tak becus) adalah hal terakhir yang kita perlukan.

Memang benar, dengan membaca novel ini – serta menghindari terlibat twitwar, terlalu banyak menonton talkshow abal-abal di TV, atau mengejar e-sertifikat dari seminar Zoom— kita mungkin bisa menyadari, sebenarnya, dalam masa pandemi sekalipun, manusia lebih banyak baik ketimbang busuknya -- dan pada saat yang sama, sangat absurd.


Leiden, 23 Desember 2020.