For the Love of Books

Menikmati Tragedi Melalui Stand-Up Comedy

OLEH NANDA WINAR SAGITA
Seorang guru sejarah; penulis lepas

davidgrossman
Bacaan mengajarkan saya bahwa orang Israel juga punya keresahan yang sama seperti kita: keresahan dalam menjalani hidup normal. Setidaknya begitulah yang saya simpulkan setelah membaca Etgar Keret dan Amos Oz. Keret resah dengan kekerasan dan Oz resah dengan kerusakan. Kendati pandangan politik Keret dan Oz bisa dibilang berseberangan, idealisme mereka untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina sama. Demikian juga dengan penulis Israel lain: David Grossman.

David Grossman adalah penulis Israel ketiga yang saya baca. Dia punya riwayat kelam dengan perang. Pada 2006, Uri, putra bungsunya yang juga seorang komandan tank dalam Perang Lebanon, tewas di usia 20 meski baru dua hari menjadi tentara. Grossman menulis buku Falling Out of Time untuk mengenang Uri. Pada 2010, Grossman dihajar oleh polisi Israel saat berpartisipasi dalam demonstrasi menentang pembangunan Pemukiman Israel di wilayah Palestina.

Saat ditanya wartawan The Guardian mengapa seorang penulis masyhur sepertinya bisa diserang oleh polisi, Grossman cuma menjawab, “Aku tidak tahu apakah polisi itu mengenalku.” Begitulah Grossman. Tetap kritis terhadap kebijakan Israel meski dia sendiri adalah bagian dari negara itu.

Pandangan kritis itu bisa kita lihat juga dalam A Horse Walks into a Bar. Buku ini memenangkan penghargaan International Booker Prize pada 2017. Dilihat dari kesegaran gaya bercerita, buku ini sangat pantas memenangkannya. Saat itu salah satu saingannya adalah Judas karya Amos Oz.

Buku ini memakai teknik bercerita yang tidak biasa. Alur utamanya hanya terjadi dalam rentang waktu dua jam dan latarnya pun ada di sebuah klub komedi di kota Netanya. Nuansa saat membaca buku ini persis seperti saat kita menonton 12 Angry Men atau Buried. Klub komedi itu menjadi tempat nongkrong bagi warga setempat. Mereka berasal dari latar belakang berbeda, tapi datang ke sana dengan satu tujuan yang sama: melarikan diri dari kekacauan politik dan tantangan hidup di Israel. Cerita dimulai dari tempat itu ketika protagonis kita yang bernama Dovaleh G mengawali pertunjukan stand-up comedy di panggung dengan sapaan: “Selamat Malam! Selamat Malam! Selamat malam warga kota mulia Ceasariyaaaaaah! ”

Diawali dari sapaan itulah kita, para pembaca, dan hadirin yang ada di sana melewatkan 194 halaman―bagi kita―untuk membaca; dan dua jam―bagi mereka―untuk mendengar ocehan Dovaleh G. Meskipun demikian, narator utama dalam buku ini adalah Avishai Lazar, rekannya yang duduk menonton pertunjukan dari meja paling belakang. Jika Dovaleh G berbicara kepada hadirin di sana, Avishai Lazar berbicara kepada kita. Di sinilah letak kesegaran ide Grossman: melalui Dovaleh G, dia membuat masa kini berjalan dua jam, dan melalui Avishai Lazar kita diajak untuk mengitari masa lalu dari kedua tokoh tersebut.

Pada mulanya Dovaleh G benar-benar melawak dengan melontarkan berbagai lelucon yang memang pantas untuk ditertawakan. Dia menjadikan beberapa penonton sebagai objek ejekan sehingga semua hadirin bertepuk tangan sebagai bentuk paling murni dari menertawakan diri sendiri.

Namun seiring dengan larutnya malam, cerita yang dia sampaikan tampak semakin kelam hingga sampai pada titik tidak lucu! Dia bercerita tentang pengalamannya sendiri. Tentang penyesalan, kesedihan, kematian, kehilangan, perkara rumah tangga, kanker, konflik Israel-Palestina dan tentu saja anti-semitisme. Alhasil, hanya dalam beberapa menit, Dovaleh G yang dicintai, berubah jadi dibenci; dan hanya dalam beberapa menit, pertunjukan stand-up comedy berubah menjadi pertunjukan stand-up tragedy.

Penonton mulai kesal. Bahkan di antara mereka ada yang berteriak: “Kita datang ke sini untuk bersenang-senang, dan orang konyol ini malah membuat lelucon tentang Holocaust!” Satu per satu penonton mulai meninggalkan tempat itu, dan hingga pertunjukan usai yang tertinggal tiga orang saja. Dovaleh G menutup pertunjukan dengan kalimat sapaan yang sama seperti pembuka: “...selamat malam semuanya.”

Selagi Dovaleh G bercerita pada penonton, secara bergantian Avishai Lazar mengambil peran untuk bercerita pada pembaca. Hari itu adalah ulang tahun Dovaleh G ke-57. Dia malu, sekaligus marah, melihat kehancuran rekannya di atas panggung tepat pada hari ulang tahunnya. Dia menceritakan kegetiran hidup Dovaleh G sejak pertemuan pertama mereka pada usia 9 tahun. Kedua orang tua Dovaleh G adalah korban Holocaust yang berhasil melarikan diri dan menjadi imigran di Israel.

Di samping itu, Avishai Lazar berasal dari Yahudi Eropa yang makmur. Karena bisnis ayahnya, ia dibesarkan di kota yang tidak terpengaruh oleh kekejaman Nazi, sebelum pada akhirnya pindah ke Tel Aviv. Di sanalah dia bertemu Dovaleh G. Lazar dan tertarik pada keliaran Dovaleh, sedangkan Dovaleh tertarik pada kecerdasan Lazar.

Keseluruhan dari pengalaman Dovaleh G pada malam itu persis seperti yang diutarakan Mark Twain: “humor = tragedi + waktu”


Persahabatan mereka berakhir ketika keduanya masuk kamp militer. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi sampai akhirnya 15 tahun kemudian Dovaleh G menelepon Avishai Lazar dan memintanya datang ke pertunjukan stand-up comedy yang akan dia tampilkan di klub itu. Namun komedi yang ingin dia saksikan dari kawan lamanya itu malah berubah menjadi tragedi.

Kira-kira seperti itulah inti keseluruhan kisah dalam A Horse Walks into a Bar. Dengan cara bercerita yang segar, Grossman sangat piawai dalam membuat pembaca penasaran, sekaligus mendedahkan berbagai bentuk sindiran pada sudut pandang orang Israel dalam menghadapi konflik. Misalnya saat Dovaleh G bercerita tentang penderitaan orang Palestina dan menjelek-jelekkan mereka, para penonton tertawa terbahak-bahak.

Namun di samping itu, saat dia menyampaikan penderitaan orang Israel, penonton malah memaki dan menganggapnya mengungkit luka lama yang seharusnya sudah dilupakan seiring berjalannya sejarah.

Grossman tidak hanya menyampaikan olok-olok tentang situasi politik di Israel, dia juga menyinggung tentang nilai historis dari penderitaan bangsa Yahudi dari sudut pandang yang sangat humanis.

Meskipun stand-up comedy dan prosa adalah hal berbeda, Grossman mampu menggiring pembaca untuk percaya bahwa mereka sedang berada di ruangan yang sama dengan Dovaleh G. Barangkali kita muak mendengar lelucon yang dilontarkan lelaki paruh baya, sekaligus geli melihat gestur dan diksinya yang tampak berusaha melucu untuk menghibur penonton. Dan sejujurnya, begitulah karakter Dovaleh G digambarkan Grossman. Keseluruhan dari pengalaman Dovaleh G pada malam itu persis seperti yang diutarakan Mark Twain: “humor = tragedi + waktu”.

Info Buku:


Judul: A Horse Walks Into a Bar
Penulis: David Grossman
Penerbit: Alfred A. Knopf, 2017
Tebal : 208 halaman
ISBN: 9781101973493