For the Love of Books

Murakami dan Persimpangan-Persimpangannya

OLEH RIZKI NAULI SIREGAR
Kandidat Ph.D bidang Ilmu Ekonomi di University of California, Davis.

murakami_colorless
Inilah buku dengan kehangatan yang mudah dikenali. Kehangatan yang amat khas Murakami: alurnya, deskripsinya akan setiap kejadian, rasa, pengalaman, latar belakangnya, juga karakter-karakternya. Saya bukan bermaksud mengatakan bahwa ini karya yang biasa-biasa saja, justru saya mencoba mengatakan kepada mereka yang memiliki ekspektasi atas sensasi dari membaca Murakami bahwa ini adalah buku yang tepat.

Buku ini juga akan terasa dekat bagi siapa pun yang, seperti Tsukuru tokoh utamanya, memiliki ketertarikan khusus pada stasiun. Mungkin juga ia menarik untuk pembaca yang suka dengan magisnya bandara. Tenggelam dalam buku ini di masa pandemi, yang sudah membuat saya harus menunda beberapa rencana perjalanan, mungkin justru membantu saya untuk tersentuh dengan minat Tsukuru akan stasiun, dan mungkin ruang persimpangan lainnya.

Yang saya tidak kira, Tsukuru membuat saya terkesima dengan cita-cita dari seorang insinyur stasiun: “bagaimana cara teraman dan paling efisien untuk terus memastikan besarnya alur gerak orang dan penumpang agar tetap mengalir.” Ini membuat saya jadi paham bahwa maksud dari adanya café, restoran, dan toko-toko imut di beberapa stasiun besar bukanlah agar orang tinggal dan berhenti, namun justru supaya mereka bergerak: menanamkan sebongkah energi, secercah semangat, dan tentu keberanian untuk memulai atau melanjutkan apapun, maupun kemanapun perjalanan akan menuju.

Pemikir-pemikir di balik stasiun-stasiun pasti mafhum betul bahwa perjalanan bisa terasa menyeramkan dan menggentarkan. Jadi, mereka menyediakan kenyamanan dari hal-hal yang standar dan familiar – inilah mungkin alasan dari laris manisnya gerai kopi besar di stasiun dan bandara. Para insinyur itu tahu pasti rasa yang membuncah ketika kita akan mengunjungi tempat-tempat yang sudah diidam-idamkan.

Para insinyur perancang stasiun ini memastikan bahwa kita bisa makan dulu, atau sekedar isi ‘bensin’ dengen kopi atau camilan, agar kita bertenaga untuk menikmati tujuan impian. Mungkin juga kita lupa menyiapkan oleh-oleh untuk orang yang ingin kita temui di lokasi tujuan, atau ingin membawa kado untuk yang terkasih dan tersayang. Para insinyur menyediakan ruang untuk toko-toko dengan barang-barang gemes.

Atau mungkin juga para traveler memulai perjalanan dalam keadaan lelah atau mungkin sedikit demam karena kelelahan dari packing yang terburu-buru setelah kejar tayang kerjaan (oh sungguh terdengar amat sangat akrab, ya ga sih?). Maka mereka pastikan kita bisa beli panadol kek, hand sanitizer kek, obat batuk, dan segala hal supaya perjalanan kita bisa nyaman. Atau, mungkin para traveler hanya butuh kursi untuk duduk menunggu, berpikir, merasa, atau sekedar bersiap diri, untuk akhirnya pulang.

"Buku ini juga khas Murakami karena seperti buku-buku Murakami pada umumnya, ia bercerita tentang persimpangan. Mereka yang tak asing dengan karya Murakami akan tahu bahwa jarang sekali ada akhir yang jelas dan literal."


Tsukuru berkata “fungsi sosial dari stasiun terus berubah, jadi kami tetap dibuat sibuk karenanya.” Wow! Seorang insinyur memikirkan fungsi sosial! Saya kurang tahu apakah ini best practice yang umum dilakukan insinyur dan desainer stasiun dan bandara, namun paling tidak ini memberi saya harapan. Bahwa artinya insinyur tidak melulu mementingkan membangun sesuatu, tapi juga merawat ‘kehidupan’ dari apa yang dibangun. Misalnya, apakah ada ruang salin bayi yang aman dan nyaman untuk para ibu? Dan para ayah? Apakah bandara dan stasiun mudah diakses oleh pengguna kursi roda? Tuna netra? Tuna rungu? Orang yang berbahasa asing? Apakah stasiun dan bandara bersahabat?

Buku ini juga khas Murakami karena seperti buku-buku Murakami pada umumnya, ia bercerita tentang persimpangan. Mereka yang tak asing dengan karya Murakami akan tahu bahwa jarang sekali ada akhir yang jelas dan literal. Buku ini berkisah tentang Tsukuru yang mengunjungi beberapa sahabat lamanya untuk menemukan sebagian dirinya. Seperti stasiun yang ia bangun, Tsukuru, dan juga kita semua, kadang perlu stasiun-stasiun, persimpangan-persimpangan, untuk menunggu, berpikir dan merasa, dan bersiap, untuk pulang, lanjutkan perjalanan. Hingga kita tiba di rumah.

Semula saya mengira akan ada interpretasi akan warna. Nyatanya, ini bukan buku tentang isi batin seniman ataupun kurator seni. Seperti juga bisa ditebak dari Murakami, ia juga mengutip banyak karya musik dalam buku ini. Dan pilihannya untuk buku ini harafiah tentang kerinduan akan rumah dan perjalanan mencari jalan pulang itu sendiri. Sila dengar “Le mal du pays” dari Janáček. Judul karya ini jika diterjemahkan kurang lebih kerinduan akan rumah atau homesickness. Kita boleh mengira-ngira: apakah Murakami menulis buku ini karena terinspirasi Janáček ? Atau Murakami memilih lagu yang serasi dengan cerita di buku ini?

Info Buku:


Judul: Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
Judul asli: Shikisai o motanai Tazaki Tsukuri to, kare no junrei no toshi
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Philip Gabriel
Penerbit: Alfred A. Knopf, 2014
Tebal : 386 halaman
ISBN: 9780385352109