For the Love of Books

Pesan Ombak Padjadjaran: Prasasti Puitis dari Kampus Dipati Ukur

OLEH NANTO SRIYANTO
Peneliti LIPI, penikmat puisi


| |


Terbit pada 1993, saya kembali membukanya. Buku Pesan Ombak Padjadjaran: Sebuah Kado Ulang Tahun merupakan perayaan atas sembilan tahun lahirnya Gelanggang Seni Sastra Teater dan film (GSSTF) Unpad Bandung. Membaca karya mahasiswa pegiat seni 1990-an di paruh kedua dasawarsa milenium baru, kenangan apa yang terabadikan sementara zaman bergerak cepat?

Saya tidak tahu berapa banyak buku ini dicetak. Saya mendapatkannya dari sebuah lapak buku bekas di Cikapundung di medio awal 2000-an. Berlokasi di seputaran Museum Asia-Afrika dan dekat Jalan Braga, lapak tersebut adalah salah satu surga pemburu buku bekas. Pemburu buku bekas di seputaran Bandung mengingatnya dengan tinta emas tentang buku-buku langka yang berjodoh lewat para pelapak di situ. Demikian buku ini sampai ke tangan saya sebagai tonggak catatan bahwa para pegiat seni itu pernah muda. Semua karya mereka layak dirayakan sebagai semangat muda yang pantas terabadikan. Para penulis di dalamnya bisa jadi tidak semua berniat menjadi penyair, tapi semua penulis telah melahirkan puisi yang merekam cerita mereka pada usia yang takkan terulang lagi.

Eka Budianta sebagai editor dan Ade Kosmaya sebagai apresiator demikian besar menaruh harapan. Stempel “cendekiawan” dan “calon ilmuwan” dilekatkan pada penyair-penyair muda yang menyumbangkan karya-karyanya di dalam buku ini. Sebagai pembaca, harapan saya cukup sederhana: seberapa banyak kenangan terawetkan dalam puisi yang ditulis saat semangat masih menjadi elan utama sedangkan kemahiran teknis berpuisi masih menjadi persoalan kedua. Dugaan saya juga menyiratkan adanya jejak “normalisasi kampus” meskipun saya tak punya bukti kuat dan tak ingin berpanjang-panjang di situ. Demikian saya mengapresiasi buku ini, sehingga masih menyempatkan membacanya saat ini. Hampir dua dasawarsa setelah menemukannya, kristal ingatan dan penghargaan saya masih bisa terjaga.

***

Memuat hampir 350 puisi, saya menilai ikatan semangat itu lebih dominan daripada pilahan tematik atau ragam teknis dari puisi. Eka Budianta dan tim pengumpul menyiapkannya sebagai bagian apresiasi dan ikatan bagi para pegiat seni, yang bisa jadi masih terbilang pemula. Nafas panjang kepenyairan bisa jadi tidak menjadi pilihan nama-nama yang karyanya tersimpan dalam buku ini. Sekian masa terlewati, kita bisa jadi kesulitan mencari nama-nama di dalamnya yang masih menekuni kepenyairan. Secara acak malah saya menemukan bahwa sebagian menjadi diplomat dan jurnalis, yang lain mungkin bergerak di bidang yang tak terkait dengan kepenyairan dan seni. Tapi berbahagialah yang pernah muda dan pernah menorehkan barang sebaris atau sebait puisi.

Dalam pengantar sebagai editor, Eka Budianta menyebut beberapa puisi sebagai jendela tertutup dan terbuka, saya lebih menyebutnya samar dan semata resah. Pembaca sulit menerka kecuali merasakan ratapan liris dari bait-bait yang ada. Tema resah yang kadang terjebak pada klise memang sepertinya “dosa” anak muda. Menjadikan resah sebagai pusaran dunia kepenyairan memang kegenitan nikmat penyair muda. Tak ada jalan lain selain kepasrahan seperti yang tertulis dalam bait ini:

Kita tak lagi membuka lembar-lembar
buku harian
hurufnya memang berharap. Pada meja
jarum jam menggugat cerita tentang hidup

kita adalah arti
kita adalah debu
koyak pada kepasrahan


(“Adalah Debu” – Sahrani H.R.)

Tema keresahan dan hubungan interpersonal, atau sosok penyair dalam sajak memang banyak terserak dalam puisi di buku ini. Namun, keberhasilan puitis tetap bisa kita nikmati, termasuk dalam sajak pendek Yuni Utaminingsih ini:

Kalau nanti dunia mengisiku dengan kata-kata
semu,
Akan kuisi ujung penaku dengan darah.


(“Sebelas Kurang Sepuluh Hari Ini” – Yuni Utaminingsih)

Meskipun sarat dengan resah dan tema-tema nglangut, termasuk beberapa tema ilahiah yang hadir sebagai pencarian jati diri, tema tentang Bandung sebagai kota yang menjadi sumber inspirasi juga muncul. Puisi “Nyi Bandung” karya J.S. Nugroho menangkap resah kota yang semakin padat terlebih di akhir pekan itu,

Nyi Bandung

Berapa lama lagi
Kau akan melacurkan dirimu
bersama bunga-bunga
di taman alun-alun kota

luka lama di wajahmu
semakin mengoreng
tapak hitam di langkamu
semakin menghitam!

Jahit dan benahilah
Kebaya dan jaritmu
Pasang dan kencangkanlah
Sanggul hitam manismu
Bergayalah walau kau
Telah menjanda

Nyi Bandung
ijinkanlah perjaka sangkuriang
kembali menetek kesucian
di kelembutan dadamu

perkenankanlah Aki lengser
menembang di antara
jentring kecapi dan gelik suling
yang mengalun lembut

di antara deru bising teknologi
di antara sumpek polusi asap
industri


Dunia sekitar juga hadir dalam puisi lain. Puisi berjudul “Reportase 1999” yang ditulis Iwan Ogan Apriansyah di tahun 1993 menuliskan keresahan lain yang jarang tertuang dalam puisi-puisi di buku ini. Puisi yang menggelorakan marah kaum tertindas ini berujung pada bait-bait:

Kami akan bangkit
dari bawah tanah kami
karena
luka telah mengebalkan semangat kami,
dera telah membatukan tubuh kami
siksa telah menempa otot-otot kami
kami akan datang dengan genderang perang
dari bawah tanah jiwa kami.

Matahari masih berjelaga
Karena manusia membakarnya
Jejak mesiu terus mengiang


Pada “Nyi Bandung dan “Reportase 1999,” keresahan tak lagi personal. Penyair lebih peka secara sosial-politis terhadap dunia sekitar. Kenangan terabadikan dalam semangat yang terbaca oleh pembaca yang lebih luas. Bahkan pada puisi “Reportase 1999”, distopia yang terbangun dalam narasi puisi itu seolah menjadi bunyi yang mengabadi bila kita ingat jungkir balik politik Indonesia pada 1999.
Jika pun kemarahan bukan pilihan, sebagian menuliskan keresahan yang terbuka dengan jenaka. Deni A. Fajar menuangkan ironi dan seni menertawakan kemerdekaan.

“Mari Bung rebut kembali!”

(“Sajak Mbeling tentang Kemerdekaan I”)

Merdeka! Merdeka!
Dan Merah Putih pun berkibar di mana-mana
Juga di sini, di punggung bukit yang sunyi
Yang penghuninya belum bisa baca dan nulis!

(“Sajak Mbeling tentang Kemerdekaan II”)

Di kolong jembatan
Sekelompok gelandangan menyetel transistor
Dan melantunkan syair:

“Dosakah hamba
Memuja tuan
Dalam mimpi
Hanya dalam mimpi.”

Hanya itu, lalu sepi
karena baterenya soak!


(“Sajak Mbeling tentang Kemerdekaan III”)

Wajah main-main puisi mbeling itu tidak bisa menutupi ironi yang memang harus kembali kita rayakan saban tujuhbelasan setiap tahun. Setidaknya, sebutan cendekiawan yang disematkan untuk para pegiat seni itu ada bekasnya karena mereka melihat sekeliling dengan lebih terbuka daripada bergulat dengan resah yang samar.

Buku Pesan Ombak Padjadjaran adalah prasasti kecil tentang sunyi yang menjadi bunyi dari sudut kampus



Pada halaman-halaman lain buku kecil ini, saya menemukan keterampilan puitik yang secara pribadi saya nikmati. Agus Syafaat menyumbangkan tujuh puisi dengan tingkat kematangan yang setara di ketujuh puisinya. Salah satu puisinya menghadirkan tema, dalam istilah anak sekarang, “generasi senja” dengan tingkat kegalauan dan teknik yang matang.


Senja Pematang

Berjalan di sela catatan ilalang
sempurna kesunyian. Hanya angin
merintih mengibarkan kerudungmu
menjadi bianglala
Waktu memucat
pematang menjelma senja
sehelai daun gugur tanpa doa
sehelai hati berdoa tanpa kata

“Mungkin hampir gerimis”
Bisikmu hampir menangis



Saya melihat paralelisasi jalan sunyi penyair yang tertuliskan di situ. Seperti jalan sunyi Sapardi Djoko Damono yang tertuliskan dalam sajak “Pada Suatu Pagi Hari” yang seolah merekam jejak intonasi SDD dalam setiap puisinya. Saya melihat wajah pegiat seni GSSTF dalam sajak “Senja Pematang”. Ada harap yang tak terkatakan dan ada kata yang tak terlisankan dengan baik dari rangkaian puisi dalam buku ini. Namun semuanya “hampir [menjadi] gerimis” yang tersambatkan sambil “hampir menangis”.

Dalam puisi lain, Agus seolah menebalkan torehan puisinya dalam pertanyaan yang merekam perbincangan dengan rekannya di GSSTF.

Sajak untuk Piet

Sebentar lagi hujan akan menjaring
pohon-pohon dalam basah. Sebentar lagi
semuanya hanya akan menjadi jarak-mimpi,
harapan,
dan sebuah masa lalu yang kian
lusuh. Sebentar lagi kita hanya terkenang
dalam sebuah sajak.

Piet, mau kemana kita?
Entahlah. Ah, kita selalu yakin
Pada sebuah entah. Tapi kenapa?
Entahlah. Entahlah.

Sementara kita masih terus berjalan
menadahkan hari-hari dalam tempurung kepala
yang sesak. Kau tahu, gedung-gedung tua itu
masih menggoda kita
dan jendelanya angin keluar dalam alkohol

Piet, mau kemana kita?
Sebentar lagi malam akan pasrah
dilubangi sepi

Puisi-puisi Agus Syafaat memiliki sisi intuitif tenang makna kegiatan itu bila dibaca dari perspektif waktu sekarang. Seolah makna sajak-sajak keresahan masa muda adalah periode penting dan pantas untuk dilalui. Sebagai anak rantau keresahan itu akan terbawa hingga periode memutih rambut, seperti ujarnya dalam bait berikut:

“Inilah anakmu, ibu, yang menulis prosa bagi usia
yang memutih, agar suatu ketika dapat kubacakan
usiaku dengan lantang dalam keteduhan pelukanmu”.


Sajak “Ibu” yang ditulis Agus pada Juli 1993 itu, saya percaya, resonansinya masih terasa bagi penulis, rekan penulis, dan pembaca seperti saya hingga saat ini. Pertanggungjawaban masa muda yang tercatat dan terbaca hingga sekarang, oleh saya dan Anda sekalian.

* * *

Pesan Ombak Padjadjaran mengabadikan kenangan dalam ragam rupa puisi-puisi pegiatnya nya. Ada keresahan yang sangat personal hingga sulit untuk dijejaki. Namun catatan kecil pegiat seni ini masih menyisakan ruang buat pembaca seperti saya dan juga Anda yang tidak pernah terlibat dalam kegiatan berkesenian di GSSTF. Nukilan beberapa sajak di atas menunjukkan keberhasilan atas kepekaan sosial dan keterampilan pegiat seni mahasiswa Unpad pada masanya. Bahwa “normalisasi” kehidupan kampus memang bisa jadi menempatkan ruang resah pribadi lebih luas daripada resah sosial, namun sebaris-dua baris resah berhasil lesat ke ruang yang lebih terbuka. Sebagaimana ruang kegiatan di kampus lazimnya adalah batu loncatan untuk ke panggung yang lebih terbuka.

Bandung pada periode 1990-an memiliki ragam wadah dan wajah bekesenian yang dapat menampung aspirasi pegiat-pegiat muda. Suyatna Anirun masih rajin mementaskan karya bersama kelompok Studiklub Teater Bandung. Gedung Rumentang Siang yang terletak di antara ramainya Pasar Kosambi dan tempat pertunjukan lain menyediakan ruang berkegiatan dan apresiasi bagi penikmat seni. Pentas puisi dan kesenian hadir di ceruk-ceruk hingar bingar gemerlap Bandung. Dari kampus seni di bilangan Buah Batu di selatan Bandung, hingga kampus pendidikan di utara.

Buku Pesan Ombak Padjadjaran adalah prasasti kecil tentang sunyi yang menjadi bunyi dari sudut Kampus Dipati Ukur yang masih beresonansi hingga kini: puisi menjadi ruang temu bagi yang muda berbagi resahnya.
Info Buku:


Judul: Pesan Ombak Padjadjaran: Sebuah Kado Ulang Tahun
Penulis: Eka Budianta (Editor)
Penerbit: Pustaka Sastra, Jakarta, 1993
Tebal : xx + 170 halaman
ISBN: 978-8464-01-X