For the Love of Books

Rumitnya Relasi Manusia, Media dan Teknologi

OLEH WENDIYANTO SAPUTRO
Pemimpin Redaksi Kumparan BISNIS



| |

digital_dilemma
Sejak mengetahui ada buku Digital Dilemma, Problem Kontemporer Adopsi Media Digital di Indonesia, saya sudah antusias ingin membacanya. Alasan pertama adalah, seperti disebutkan dalam judul buku itu, isu media digital di Indonesia merupakan isu kontemporer, yang masih minim kajian. Padahal problematikanya sangat kompleks, yang secara halus dibahasakan sebagai ‘dilema’ oleh sang penulis buku, Dr. Firman Kurniawan.

Alasan kedua yang membuat saya antusias adalah karena sejak kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pada 1990-an, saya merasa cukup sulit mendapati buku-buku komunikasi yang mengulas suatu fakta peristiwa atau fenomena, dari perspektif komunikasi. Kalaupun ada, merupakan ulasan fakta atau fenomena di luar Indonesia, karya penulis asing. Ini berbeda dengan buku kajian teori komunikasi yang menjadi bahan perkuliahan, relatif lebih banyak didapati.

Akhirnya saya menerima buku Digital Dilemma, Problem Kontemporer Adopsi Media Digital di Indonesia, menjelang akhir pekan lalu.

Sebelumnya, saya telah mengikuti bedah buku tersebut secara online yang digelar Program Magister Manajemen Universitas Paramadina.
Dalam webinar itu, sebagian besar yang diulas penulis adalah juga isu yang selama ini menarik perhatian saya. Sebenarnya lebih dari sekadar menarik perhatian, tema-tema di dalam buku Digital Dilemma itu juga berkeliaran dalam kepala saya sebagai banyak kalimat tanya. Itu menambah satu alasan lagi yang membuat saya antusias membaca buku tulisan Firman.

Saya menaruh harap bahwa buku Digital Dilemma bisa jadi teman diskusi untuk mencari jawaban atas kalimat-kalimat tanya tersebut. Lebih dari itu, kumpulan 52 tulisan berbagai tema yang disusun Firman Kurniawan, bisa menjadi ‘mitra dialog’ bagi saya untuk menguji berbagai tesis tentang media digital. Tesis dari saya, antitesis dari tulisan Firman atau sebaliknya, maka lahirlah sebuah sintesis.

Subjek bahasan dari seluruh 52 tulisan yang dihadirkan dalam buku Digital Dilemma ini cukup lengkap. Oleh penyuntingnya, tulisan-tulisan yang pernah hadir di Kolom Analisa pada Majalah Sindo Weekly itu dibagi ke dalam lima bagian. Tapi jika diperas lagi, setidaknya ada tiga perspektif dilema di platform digital yang diulas penulis buku. Pertama, menyangkut teknologi dan data. Kedua, tentang medianya; baik media sosial maupun media konvensional pada platform digital. Ketiga, yang terpenting dan ini paling mendominasi, adalah pembahasan soal aspek manusia dan perilakunya.

Anonimitas yang Mengaburkan Otentisitas Manusia


Dari keseluruhan isi buku, aspek manusia dan perilakunya mendapat porsi paling besar. Saya bisa memahami hal ini, karena memang paling jadi perhatian penulis. Hal ini antara lain dibuktikan dengan disertasi doktornya di Departemen Ilmu Filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, yang mengangkat judul ‘Manusia Dalam Masyarakat Jejaring: Telaah Filsafat Pemikiran Manuel Castells Tentang Abad Informasi.’

Seperti dijelaskan di prakata buku, Firman menjelaskan telaah yang dia maksud dalam disertasinya adalah, “Mencari kedudukan manusia di hadapan teknologi. Masihkah manusia otentik di hadapan teknologi pada abad informasi ini? Yang benar, teknologi ada di dalam masyarakat manusia, atau masyarakat manusia ada di salam teknologi?” (hal. xiii)

Soal otentisitas manusia di hadapan teknologi ini, diulas penulis antara lain di kolom berjudul ‘Riuhnya Ibukota Komentar’ pada Bagian 3 yang membahas ‘Media Digital, Ilmu Pengetahuan, dan Problem Kebenaran’. Mengutip kelakar seorang rektor yang tak disebutkan namanya, dia menulis, “Jakarta kian sesak, selain oleh polusi udara, polusi suara, juga polusi komentar. Berisik sekali.” (hal. 139)

“Tentu saja yang dimaksud komentar di sini adalah respons yang dilempar para pemilik akun media sosial. Mereka ini seakan punya energi tak terbatas, untuk menanggapi posting apa pun: menarik, penting, tidak penting, bahkan tidak menarik sekalipun,” tulis Firman (hal. 140)

Firman menyodorkan hipotesis, anonimitas akun media sosial menjadi faktor utama demikian derasnya komentar, bahkan untuk topik yang tidak menarik dan tidak penting sekali pun. Artinya dalam bacaan saya, penulis menilai anonimitas telah mengaburkan otentisitas manusia di hadapan produk teknologi yang bernama media sosial.

Pada bagian ini, penulis sebenarnya bisa mengulas lebih dalam tentang logika ‘menarik’ dan ‘penting’ di media sosial, yang bisa sama sekali berbeda bahkan berkebalikan dengan di media mainstream dan dunia nyata. Satu contoh misalnya, bagaimana pembahasan soal cara makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk, bisa begitu ramai di media sosial. Bahkan melahirkan semacam pengelompokan mazhab, layaknya sebuah laku ibadah. Sayangnya pembahasan soal ‘logika media sosial’ dalam konteks itu, tidak saya dapati di tulisan ini.

penulis menilai anonimitas telah mengaburkan otentisitas manusia di hadapan produk teknologi yang bernama media sosial.



Soal anonimitas ini, penulis juga menduga sebagai salah satu faktor yang memicu masifnya peredaran komentar bernada kebencian atau produksi kabar bohong. Meski tak tegas mendukung, Firman menyinggung kebijakan yang dilakukan pemerintah Austria, dalam mengelola kebebasan dan masifnya komentar para pengguna media sosial.

“Entah apa yang bakal terjadi di tengah keadaan tersebut, jika Pemerintah Indonesia juga memberlakukan ketentuan seperti di Austria. Di negara tersebut, mulai tahun 2020 pemerintah mewajibkan setiap pengguna media sosial untuk mendaftarkan akun yang dimilikinya. Juga diikuti nama lengkap sang pemilik.” (hal. 140)

Perhatian penulis soal riuhnya konten dan komen media sosial untuk hal yang tak menarik dan tak penting, juga diulas dalam kolom ‘Etika Ruang yang Gagap Dipahami.’ Mengutip sosiolog Canada, Erving Goffman, Firman menulis, “Kegagapan memahami etika ruang dalam kehidupan sehari-hari, akan menimbulkan rasa tak nyaman penonton.” (hal. 247)

Dia menilai banyak pengguna media sosial, seperti pemain seni peran yang gagal membedakan panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Pada bagian ini, penulis kembali menyoroti kaburnya otentisitas manusia di hadapan produk teknologi bernama media sosial. Menurutnya, “alangkah menggelikannya akting tak menjadi diri sendiri, yang lazim terjadi di panggung depan, masih terbawa di panggung belakang.” (hal. 248)


How Democracies Die-nya Anies di Mata Digital Dilemma


Soal riuhnya komentar yang jadi sorotan Firman terkait perilaku pengguna media sosial, saya tertarik mengaitkannya dengan unggahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di akun instagram miliknya. Ketika buku Digital Dilemma saya terima, media sosial masih riuh oleh perbincangan foto Anies yang diunggah 22 November lalu.

Foto itu menunjukkan Anies sedang membaca How Democracies Die, buku laris karya Steven Levitsky dan Daniel Zieblatt. Berkemeja putih dan bersarung, Anies mengunggah foto itu di hari Minggu pagi dengan keterangan pendek dan datar. “Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi.” Sebuah unggahan yang sebenarnya bisa biasa-biasa saja, namun bagi sebagian yang lain juga bisa luar biasa.

Beberapa hari berlalu, perbincangan di media sosial soal unggahan Anies itu masih ramai. Bahkan juga menjadi bahasan di media mainstream, termasuk jadi tema program dialog di televisi. Berbagai analisis soal foto itu disuarakan, berisi beragam tafsir dan persepsi. Yang pro-Anies, menilai itu foto biasa saja, yang menunjukkan kegiatan positif untuk mengisi waktu luang di Minggu pagi, yakni membaca buku.

“Layaknya siapa pun bisa mengunggah foto sedang bersepeda, lari pagi, wisata kuliner, atau kegiatan lain,” ujar Ketua Relawan Jakarta Maju Bersama, Usamah Abdul Aziz, di program ‘Dua Sisi’ di tvOne.

Sementara yang kontra Anies, menyoroti judul buku yang dibaca. Ada juga yang memberi konteks dengan peristiwa dalam dimensi ruang dan waktu yang dijalani Anies Baswedan. Termasuk kaitan dengan peristiwa kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Makkah. Anies lalu sempat menemui pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu di kediamannya di kawasan Petamburan, Jakarta Barat. Setelahnya keramaian massa berlanjut dengan kegiatan Maulid Nabi dan resepsi pernikahan putri Rizieq.

Kerumunan massa dalam acara-acara tersebut, di tengah pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19, membuat Anies dimintai keterangan oleh Polda Metro Jaya lebih dari 9 jam. “Apakah gara-gara itu, Anies menyebut demokrasi sudah mati,” ujar seorang Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Gilbert Simanjuntak.

“Steven Levitsky dan Daniel Zieblatt harus berterima kasih sama Anies. Buku mereka itu pasti laris manis. Dicari orang di Indonesia ini. Ini promosi gratis buku mereka,” komentar anggota DPRD DKI Jakarta lain dari Fraksi Nasdem, Bestari Barus.

Mendahului perdebatan itu, pro-kontra di media sosial sudah jauh lebih riuh. Tapi tak satu pun konfirmasi atau klarifikasi muncul dari Anies soal maksud di balik unggahan fotonya membaca buku How Democracies Die. Bahkan jika pun tak ada motif di balik maupun di depannya.

Apa yang terjadi pada hari-hari itu, sangat relevan dengan kolom Firman berjudul ‘Debat Dalam Masyarakat Jejaring’ pada Bagian 4 yang membahas ‘Digital Dilemma, Demokrasi, dan Politik Praktis’. “Dalam perkara persepsi, selalu ada jarak antara: apa yang akhirnya tersimpan di benak khalayak sebagai persepsi, dengan apa yang sesungguhnya jadi realitas.” (hal. 174)

Firman mengambil contoh eksperimen blind taste test yang pernah dilakukan PepsiCo pada 1975. Dari tes rasa itu, ternyata responden lebih menyukai Pepsi ketimbang Coca-Cola. Survei pesaing ini direspons Coca-Cola dengan memodifikasi rasa produknya, yang memicu protes dari pelanggan setia mereka. “Memang soal rasa kami memilih Pepsi, tapi cinta kami tetap Coca-Cola yang lama. Kami membeli karena cinta. Demikian kira-kira argumen pecinta Coca-Cola. Dan itulah persepsi. Sedangkan pemasaran sepenuhnya soal persepsi.”

Penulis seperti ingin menyatakan bahwa pilihan politik (judul kolomnya terkait ‘Debat Pilpres’) terkadang bukan hal rasional. Seperti halnya responden pada blind taste test yang mengakui rasa Pepsi lebih enak, namun mereka tetap menjadikan Coca-Cola sebagai pilihan saat membeli minuman ringan. Menurut saya, seperti itu pula yang terjadi dalam komentar-komentar warganet, terkait foto Anies membaca buku How Democracies Die. Sebagian besar masih dipengaruhi residu Pilkada DKI Jakarta 2017 yang sengit, dan kini dibawa ke konteks kontestasi Pilpres 2024.


Teknologi dan Gaya Akademisi


Meski penulis tidak memiliki latar belakang keilmuan sebagai engineer, tulisan dari perspektif teknologi pada buku ini cukup banyak. Hampir semua, untuk tak menyebut seluruhnya, terkait relasi teknologi dan manusia yang jadi fokus penelitian Manuel Castells.

Pada kolom ‘Era Mesin Cerdas dan Bonus Demografi,’ Firman mengungkapkan soal bonus demografi yang kerap diagung-agungkan, sehingga cenderung jadi mitos kejayaan, kekayaan, dan kemasyhuran sebuah negara. Padahal, “Ini merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat jumlah penduduk yang berada di usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak, dibanding jumlah penduduk yang usianya tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).” (hal. 3)

Penulis di beberapa kolom berbeda yang termuat di buku ini juga banyak mengulas soal big data. Satu istilah yang pertama kali diperkenalkan penulis buku Infonomics, Doug Laney, pada 2001. Istilah itu sendiri kemudian berkembang, hingga satu dekade setelahnya yakni pada 2011, Neelie Kroes yang saat itu menjabat sebagai Vice-President of the European Commission, memperkenalkan frasa ‘Data is the New Gold’.

Pada kolom berjudul ‘Big Data: Masalah Besar vs Peluang Besar,’ penulis memaparkan dahsyatnya kuantitas informasi yang dipertukarkan di antara umat manusia sejagad. Jumlahnya mencapai 2,5 quintillion bytes per hari. Sedemikian derasnya data, mendorong produsen sepatu terkemuka Nike bertransformasi dari produsen shoeware ke software. Nike tak hanya memproduksi sepatu untuk dipakai, namun bagaimana dia menghimpun big data pemakai sepatunya. Lalu dengan suatu aplikasi, pemakai Nike bisa mendiagnosis kualitas stamina dan kesehatan dirinya.

Dengan big data itulah, perusahaan-perusahaan yang didirikan ‘kemarin sore’ seperti Gojek, bisa punya valuasi yang melampaui Garuda Indonesia. “Di bulan Desember 2018 misalnya, valuasi Gojek lebih tinggi 12x lipat dibandingkan maskapai Garuda Indonesia. Disebutkan, valuasi Gojek di tahun 2018, tak kurang dari Rp 75 triliun. Hari ini valuasinya telah mencapai decacorn, lebih dari Rp 140 triliun.” (hal. 71)

Berdasarkan data 6 September 2020, dari 10 perusahaan terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, tujuh di antaranya merupakan perusahaan yang sejak semula didirikan sebagai perusahaan teknologi. Mereka juga sejak awal mengkapitalisasi big data, hingga kini nilainya melampaui perusahaan lain yang lebih lama berdiri, bahkan ada yang sudah lebih dari seabad.

Saudi Aramco (1933) memang masih jadi pemuncak. Demikian juga perusahaan farmasi Johnson & Johnson (1886) dan perusahaan investasi Berkshire Hathaway (1839) ada di daftar 10 besar itu. Tapi tujuh lainnya pada daftar itu diisi perusahaan yang berusia jauh lebih muda seperti Microsoft (1975), Apple Inc (1976), Amazon (1994), Tencent (1998), Alphabet Inc (1998), Alibaba (1999), dan Facebook (2004).

Firman menganalogikan valuasi perusahaan-perusahaan tenologi yang mengkapitalisasi big data itu, seperti sebuah investasi untuk melakukan eksplorasi sebuah lahan yang diketahui memiliki potensi bahan tambang. “Ketika semua informasi tentang bergagai hal penting itu tersedia, maka yang telah melakukan investasilah yang siap memanfaatkan bahan tambang, dengan cara yang terbaik. Yang dilakukan investor terhadap lahan potensial adalah mengumpulkan informasi, seraya membangun ekosistem.” (hal. 72)

Salah satu hal menarik pada setiap kolom yang ditulis Firman adalah selalu terselip basis teori dari ilmuwan terkemuka yang disodorkan untuk menjustifikasi opini penulis. Bahkan dalam satu kolom, kadang diungkapkan lebih dari satu teori, yang membuat tulisan-tulisan Firman jadi berbobot. Ini jelas menunjukkan tak sekadar gaya penulis sebagai akademisi, namun juga kapasitas keilmuan terkait tema-tema yang ditulis pada kolom-kolomnya.

Tapi pada sisi lain, kutipan dari ilmuwan terkemuka itu tak membuat tulisan populer di media massa ini, berubah jadi karya ilmiah yang sulit dicerna orang kebanyakan.Kerumitan relasi manusia, media, dan teknologi bisa dituturkan Firman secara mengalir. Pas buat teman di akhir pekan saat hadir secara berkala di Majalah Sindo Weekly.

Satu kekurangan, sebagai tulisan yang hadir di media massa yang terbit berkala, tentulah setiap kolom itu punya konteks peristiwa aktual. Tapi tak semua tertera secara eksplisit di tulisan, sehingga terkadang pembaca harus meraba dan menerka konteks peristiwa di balik opini penulis.
Info Buku:


Judul: Digital Dilemma: Problem Kontemporer Adopsi Media Digital di Indonesia
Penulis: Dr. Firman Kurniawan Sujono
Penerbit: Rajawali Pers, 2020
Tebal : 256 halaman
ISBN: 978-623-231-349-1