For the Love of Books

David Streidfeld Bertemu Gabriel Garcia Marquez

OLEH NEZAR PATRIA
Direktur PT. Pos Indonesia
nezar.patria@jalankaji.net



| |

streidfeld
David Streidfeld adalah seorang wartawan yang beruntung. Sewaktu masih menjadi koresponden sastra untuk The Washington Post, David mencoba mengejar sastrawan kondang Gabriel Garcia Marquez, yang akrab dipanggil Gabo untuk sebuah wawancara. Pada 1993, Gabo berada pada puncak ketenaran, karyanya “Seratus Tahun Kesunyian” telah menjadi salah satu ikon sastra Amerika Latin. David, mengutip seorang kritikus sastra, mengatakan karya itu mirip “batu bata yang memecahkan kaca jendela, dan membawa masuk kehidupan nyata jalanan, bunyi, warna dan sensasinya. Peristiwa magis—jejak darah yang mengaliri kota dan masuk ke dalam rumah, dan secara cermat menghindari menodai karpetnya: kembang-kembang surgawi—amat lugas sampai-sampai terasa masuk akal”.


Tapi David tak gampang bertemu Gabo. Sastrawan itu suka menghindar, dan tentu saja makin sulit dikejar terasa makin setengah-dewa dan legendaris Tuan Gabo itu. Bagi David, dia seperti mendapat lotere ketika Gabo mengundang datang ke rumahnya di Kota Meksiko, dan itu terjadi setelah dia mengirimkan puluhan kali surat permohonan wawancara. Dan Gabo memang luar biasa simpatik saat menyambutnya siang itu di bungalow belakang rumahnya, yang juga menjadi kantor si penerima Nobel Sastra itu.
“Satu temboknya tertutupi buku-buku dalam setidaknya empat bahasa. Karangan fiksi—selain karya-karya Lewis Caroll dan Graham Greene, ada juga karya para penulis terkini seperti Tobias Wolff—bersandingan dengan sebuah kamus para malaikat, naskah-naskah medis yang sudah lecek, satu peta metro Paris, biografi negarawan yang entah siapa, dan sejumlah koleksi penting lainnya yang menunjang pekerjaan. Di tembok lain ada sejumlah CD dan perangkat stereo canggih,” tulis David mengamati ruang kerja Gabo yang sulit disebut mewah itu. Gabo pada hari itu berpakaian putih-putih dan tampak lebih gendut, dan ketika David masih sibuk berbasa-basi, Gabo menyelanya, “Carlos Fuentes sangat mendorongku bertemu denganmu”. Carlos Fuentes adalah satu dari sastrawan puncak Amerika Latin yang suka menjadi makelar bagi para sobatnya.


David mencoba memulai lagi pertanyaan, tapi Gabo memotongnya, “Sebetulnya aku tak ingin ada izin wawancara lagi, tapi Jorge Castaneda bilang ini mesti jadi pengecualian”. Jorge Castaneda adalah ahli politik Amerika Latin yang sangat berpengaruh dan disegani. Dia menulis buku terkenal yang menjadi rujukan kaum kiri, dan mungkin juga setengah kiri di dunia, berjudul “Utopia Nirsenjata: Kiri di Amerika Latin Pasca Perang Dingin.” David terperangah dan dia mulai sadar Gabo mencoba memberikan pesan bahwa David adalah wartawan paling mujur, dan karena itu seperti juga para tokoh lain, Gabo tak ingin dia menanyakan hal-hal yang terlalu brutal, dan tak perlu. David tak kenal Castaneda, dan dia mungkin merasa bangga dielus-elus Gabo, lalu dengan ge-er mengakui bahwa dia memang biasa dipuji sebagai Mozart-nya kuli tinta oleh para narasumbernya dengan harapan dia akan berada di pihak mereka.

Satu dua tahun setelah ketemu Gabo, David ikut kuliah Castaneda. Pada satu kesempatan, dia menghampiri Profesor Castaneda, yang kata Gabo adalah pengagum berat tulisan-tulisan David. Dia menyodorkan buku karangan Castaneda untuk diteken oleh penulisnya. Tapi inilah kesaksian David: “Dia bertanya untuk siapa buku itu dia tanda tangani, dan dengan seksama aku menyebutkan namaku. Tak satu urat pun yang berkedut di parasnya menunjukkan bahwa dia mengenalku”. Di saat itu David mungkin merasa sebagai wartawan paling sial di dunia.

Tapi begitulah Gabo, yang kata David, meskipun suka mengecohnya, tapi tak pernah berhenti memberikan pesona dalam wawancara yang dilakukannya. Gabo adalah pengamat kekuasaan yang detil, dan dia memang menaruh problem kekuasaan sebagai ide sentral dalam sejumlah novelnya. Wawancaranya dengan David berlangsung dua kali, pada 1993 dan 1997. Gabo yang juga mantan wartawan di harian Kolombia El Espectador, tentu saja menjawab dengan lincah banyak pertanyaan dari David, dari soal karyanya, ideologi, perempuan, politik Amerika Latin dan sebagainya. “Jurnalisme adalah pekerjaan sejatiku. Dia bikin aku tetap membumi. Kalau tidak, aku akan seperti balon, mengambang. ... Aku mendapati profesi penulis fiksi dan jurnalisme menyatu. Inti sastra dan jurnalisme adalah kredibilitas yang mereka ciptakan. Orang teryakinkan oleh detail. Mereka bilang, ‘ini dia, ini baru benar’—bahkan jika itu salah,” ujar Gabo ketika ditanya David soal arti kegiatan jurnalisme bagi dirinya. David kelak mendapat Hadiah Pulitzer (dia kemudian rajin menulis untuk The New York Times), tapi bukan karena wawancaranya dengan Gabo, melainkan untuk sebuah laporan kisah bisnis yang narasinya begitu memukau.


Tapi wawancaranya dengan Gabo dianggapnya sebagai pelajaran berharga untuk mengenal sang maestro. Dia lalu membukukan sejumlah percakapan pentingnya, dan juga menyunting sejumlah wawancara wartawan lain dengan Gabo, menjadi sebuah buku yang asyik dibaca. Kita dibawa mengenal sang sastrawan dari sisi yang lain, termasuk rahasia-rahasia menulis sang maestro, dan sejumlah karya dan orang yang berpengaruh kepada kerja sastranya. David juga mengambil naskah wawancara terakhir Gabo dengan Xavi Ayen, yang dimuat di La Vanguardia, Spanyol 2006. Penerbit Circa menerjemahkan dan menerbitkannya buat kamu, dan berharap jika membacanya, kamu akan merasa semujur David yang bertemu Gabo.
Info Buku:


Judul: Gabriel Garcia Marquez: Wawancara Terakhir dan Percakapan-Percakapan Lainnya
Judul asli: Gabriel Garcia Marquez: The Last Interview and Other Conversation (2015)
Penulis: David Streidfeld
Penerjemah: Hamid Basyaib
Penerbit: Circa, Yogyakarta
Tebal : 116 halaman
ISBN: -