For the Love of Books

Subuh: Bukan Sekedar Fiksi

OLEH RULLI RACHMAN
Penulis; konsultan strategi perawatan mesin

subuh
Bicara soal Turki akan terasa membosankan ketika orang-orang hanya sibuk bicara tentang keindahan dan romantisme Selat Bosporus. Apalagi kalau semua berbicara dengan pilihan diksi yang sama: sunset. Dalam sekejap semua orang akan menjadi pujangga; puisi dan syair akan tercipta ketika melihat panorama matahari tenggelam di Selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan bagian Asia tersebut.

Seorang teman berkelakar, tidak ada hal yang buruk di Turki, katanya. Semuanya indah. Bahkan penjual es krim gerobakan pun memiliki wajah yang rupawan, tak ubahnya pemain sinetron yang sering kita jumpai di layar kaca.

Sebaliknya, Turki jadi terasa begitu getir di buku kumpulan cerita Subuh karya Selahattin Demirtas ini. Seher adalah bahasa Turki untuk kata Subuh. Ketika ditanya perihal pemilihan nama tersebut, Demirtas bilang, "Subuh menandai momen pertama munculnya cahaya dari kegelapan. Kegelapan mengira dirinya abadi, dan persis saat ia percaya dirinya telah mengalahkan terang, subuh memberinya pukulan pertama."

Benar saja. Cerita kedua di buku ini, Seher (Subuh) memberi saya pukulan pertama. Dan pukulan itu sungguh sakit. Bagaimana tidak, Seher tokoh wanita di cerita pendek tersebut dibunuh oleh adik kandungnya sendiri. Yang membuat saya shock lagi adalah bahwa Seher dieksekusi justru tepat ketika ia baru saja mengalami musibah.

Seher jatuh hati kepada Hayri, rekan kerjanya. Namun cinta Seher disalahgunakan oleh Hayri. Pada suatu hari, Seher terpikat oleh ajakan Hayri dan berujung pada musibah itu. Seher diperkosa oleh Hayri dengan bantuan kawan-kawannya. Seher yang malang digerayangi di hutan yang sepi lalu kemudian dicampakkan begitu saja di pinggir trotoar.

Bejat. Biadab. Keji. Saya tak bisa berhenti mengucapkan kata-kata tersebut dalam hati ketika selesai membaca cerita Seher tersebut. Seketika saya merasakan keganjilan. Cerita Seher dituturkan oleh Demirtas dengan begitu rinci, nyaris seperti liputan kejadian perkara yang sesungguhnya. Ceritanya terlalu kelam untuk sebuah fakta namun terlampau nyata untuk dicap sebagai fiksi.

Turki jadi terasa begitu getir di buku kumpulan cerita Subuh karya Selahattin Demirtas ini. Seher adalah bahasa Turki untuk kata Subuh.


Penasaran, saya coba mencari lebih jauh pola pembunuhan seperti ini. Tidak susah ternyata. Dengan cepat saya menemukan banyak artikel yang bisa menjawab rasa penasaran saya. Honour killing, demikian istilah yang menjelaskan kenapa Seher bisa dibunuh dengan keji oleh saudara kandungnya sendiri. Honour killing dipilih atas nama harga diri. Honour killing dilakukan dengan dalih untuk menjaga kehormatan keluarga.

Dalam cerita Seher, gadis tersebut dianggap akan membawa aib apabila diteruskan hidup. Keluarganya akan menanggung malu akibat peristiwa yang dialaminya, terlepas dari kenyataan bahwa yang bersalah adalah Hayri yang sudah memperkosa Seher. Dengan demikian, membunuh Seher menjadi solusi yang tepat. Kehormatan keluarga tidak ternoda, tetangga sekitar atau kerabat tidak akan tahu cerita yang sesungguhnya. Pemilihan anak laki-laki yang paling muda juga bukan tanpa alasan. Dengan taktik tersebut, memang si anak akan dipenjara sebagai ganjaran perbuatannya namun hukumannya tentu tidak akan terlampau berat.

Bahkan peristiwa dengan jalan cerita yang nyaris mirip saya temukan dalam artikel di The Guardian yang ditulis oleh Elif Shafak, seorang feminis dan juga penulis blasteran Inggris-Turki. Elif Shafak mengungkapkan perihal Hatice Firat, gadis yang baru berusia 19 tahun ketika polisi menemukannya jasadnya di Pelabuhan Mersin pada tahun 2011 silam. Gadis malang tersebut ditusuk sebanyak 40 kali. Yang memprihatinkan adalah ketika nama Hatice Firat sudah ramai dibicarakan oleh setiap media massa di Turki, tidak satupun pihak keluarga yang datang untuk menjemput jenazahnya. Bahkan pemakamannya tidak dihadiri oleh satu pun kerabat.

Elif Shafak memaparkan hal yang sama dengan apa yang kita temukan pada cerita Seher yang ditulis oleh Selahattin Demirtas. Skenario yang sama; sang ayah yang memutuskan, sang ibu mendukung keputusan biadab tersebut atau sebenarnya tak setuju namun lemah tak punya kuasa untuk melawan kehendak suaminya, dan kemudian anak laki-laki yang bertindak sebagai algojo.

Yang tak kalah memprihatinkan, dengan merujuk pada sumber data resmi, Elif Shafak membeberkan bahwa jumlah wanita yang tewas dibunuh dengan pola pembunuhan ini mencapai 1.091 korban dalam kurun waktu 2000 hingga 2005.

Usai membaca cerita Seher, saya mendapat pukulan berikutnya. Kali ini lewat cerita tentang Nazan, perempuan muda petugas kebersihan yang bisa menjelaskan segala jenis mobil yang ia temui di jalan dengan riang, suatu pengetahuan yang diturunkan dari kesukaan ayahnya tentang otomotif. Celotehan Nazan yang mirip dengan ensiklopedia mobil itu niscaya membuat kita tersenyum dan mengabaikan sejenak tragedi yang menimpa Nazan: ditangkap dan dipenjara hanya gara-gara terjebak di tengah demonstrasi.

Dalam cerita yang lain, tanpa kompromi dan pandang bulu, Istanbul dengan pesonanya telah merusak rumah tangga kapten Fahri, sopir bus yang jatuh hati dengan Asuman, artis ibukota. Mungkin cerita Fahri hanya kelakar, tapi terdengar seperti lazim terjadi. Seorang lelaki terpikat perempuan lain, terjebak oleh perasaan, akhirnya ditinggalkan oleh sang perempuan.

Selahattin Demirtas mengungkapkan semuanya dengan lugas tanpa ada yang perlu ditutupi. Demirtas menghadirkan Turki dengan beberapa wajah yang berbeda dan jangan harap kau akan menyukai semua wajah tersebut. Lupakan soal eksotisme atau romansa, dalam buku ini Turki muncul dalam bentuknya yang paling jujur dan nir kepalsuan.

Kumpulan cerita di buku ini memiliki warna yang sama, yakni curahan keprihatinan (kalau tak ingin dibilang rintihan) Demirtas terhadap persoalan sosial di Turki. Cerita-cerita yang ditulisnya jelas mewakili opininya, menyuarakan keyakinannya bahwa orang-orang biasa mampu mengubah dunia.

Semua yang ditulis oleh Selahattin Demirtas tak terlepas dari latar belakangnya. Ia memang bukan orang biasa. Pada 2014 hingga 2018, Demirtas menjabat sebagai pimpinan Partai Demokratik Rakyat (HDP), sebuah partai kiri pro-Kurdi yang lantang menekankan nilai-nilai progresif, feminis, dan hak minoritas. Istilah perjuangan rupanya menempel erat di sosok Demirtas. Sejak November 2016, Demirtas mendekam di Penjara Keamanan Tertinggi Tipe-F Erdine. Tidak main-main, Jaksa menuntutnya dengan hukuman 183 tahun penjara.

Meskipun demikian, jeruji penjara tidak mampu mengurung semangat Demirtas untuk berkarya. Buku kumpulan cerpen Subuh ini dirilis pada 2017. Tercatat ratusan ribu eksemplar sudah terjual di Turki, dan juga sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tak hanya itu, buku kumpulan cerpen ini memenangkan Montluc Resistance and Liberty Award. Sementara itu, edisi Prancisnya masuk dalam salah satu nominasi Prix Medicis dan edisi Inggrisnya mendapat anugerah PEN Translate Award.

Membaca profil Demirtas yang dahsyat tersebut membuat saya tak ragu untuk membeli buku ini. Dan saya berani bertaruh, Anda pun mungkin akan melakukan hal yang sama.


Info Buku:


Judul: Subuh: Kumpulan Cerita
Judul asli: Seher
Penulis: Selahattin Demirtas
Penerjemah: Mehmet Hassan
Penerbit: Marjin Kiri, 2020
Tebal : 126 halaman
ISBN: 978-979-1260-97-8