For the Love of Books

Cogito Orgasmus, Coito Ergo Sum. Dari Mimpi Descartes sampai Para Pemburu Bidadari

Esai Plesetan tentang Mimpi dan Descartes.

Hikmat Budiman |
Editor JalanKaji.Net


| |
photo-1580689473660-bf6c02088dbd


Apa yang berharga dari sebuah mimpi? Martin Luther King Jr. disanjung orang antara lain juga karena ia bisa mengukuhkan sebuah mimpi menjadi itikad yang begitu keras, dan gelombang pengikut yang bergelora. Ia bermimpi tentang tumbuhnya Amerika Serikat yang lebih toleran, yang tidak memperlakukan warna kulit sebagai muasal sembarang jenis dosa. Walaupun King wafat sambil mendekap mimpinya yang berantakan,--karena AS sampai kini tetap menjadi salah satu negeri rasialis terbesar--toh penghormatan orang tidak lantas berkurang karenanya. Dalam pidatonya memang dikatakan bahwa “semalam saya bermimpi”, tapi mimpi King di situ kemungkinan bukan hanya apa yang sering disebut “kembang tidur”, melainkan juga sebuah kiasan untuk sebuah tekad atau harapan tentang masa depan yang letaknya tidak musti selalu jauh. Kita, di sini, sampai ini hari, biasa menyebut mimpi-mimpi yang langsung terkait atau tidak--artinya sengaja dikait-kaitkan--dengan sebuah realitas di luar tidur itu sebagai cita-cita. Tapi ia juga bisa berarti wangsit atau ilham.

Read More…

Puisi dan Nyawa Kucing Roque Dalton

OLEH DANIAL INDRAKUSUMA
Aktifis Buruh, pendiri Solidaritas.net


| |

Aku tak percaya pada malaikat
Tapi, sekarang, bulan mati demi aku.
Manusia, menggunakan kesengsaraan lapuknya sebagai cermin.
Sejam lalu atau selepas gelap
manusia, memungut kepedihan sisa-sisa harinya
dan kekhawatiran, layaknya orang sakit, ia letakkan tepat di sisi hatinya dan dengan berkeringat, layaknya pasien TBC, ia perjuangkan hidupnya
hingga pun tenggelam di ruang-ruang kesepian, yang muram


roquedalton
Roque Dalton lahir pada 14 Mei, 1935, di San Salvador, El Salvador. Bapaknya salah seorang dari residivis Dalton Bersaudara. Ibunya seorang perawat dan menanggung hidup keluarganya. Setelah setahun di Universitas Santiago, Chili, Roque mendaftar ke Universitas San Salvador, 1956--di sini ia mendirikan Lingkaran Studi Sastra Universitas, yang gedungnya kemudian dibakar tentara. Setahun setelah itu, ia bergabung dengan partai kiri; karenanya, pada tahun 1959 dan 1960, ia dipenjara, dengan dakwaan: menghasut tentara dan kaum tani untuk memberontak pada tuan tanah. Dalton divonis mati, tapi hidupnya diselamatkan sehari sebelum eksekusi—saat diktator Kolonel José Maria Lemus terguling.

Pada tahun 1961, ia menjalani pembuangan di Mexico, menulis beberapa sajak, yang dipublikasikan dalam La Ventana en el rostro (jendela yang di hadapan mukaku) dan El turno del ofendido (giliran mereka yang dizalimi)—yang ia dedikasikan untuk kepala kepolisan El Salvador, yang gagal mendakwanya.

Read More…

Dua Jorge, Satu Buku Langka

OLEH RONNY AGUSTINUS
Pendiri Marjın Kiri


| |


dua jorge
Lelaki di kiri dalam foto adalah Jorge Mario Bergoglio, yang kini dikenal dunia sebagai Paus Fransiskus. Lelaki di kanan adalah Jorge Luis Borges, begawan sastra dari Argentina, salah satu penulis terbesar dunia abad ke-20. Foto ini diambil pada 1965, saat Bergoglio masih berusia 28 tahun dan bahkan belum ditahbiskan menjadi romo Katolik, sementara Borges sudah berstatus raksasa dan saat itu menjabat direktur perpustakaan nasional Argentina. Tak banyak yang mengetahui perkenalan dan pertemuan sesaat mereka ini. Tetapi peristiwa selintas ini turut melahirkan salah satu kumpulan cerpen paling esoteris dalam sejarah sastra Argentina, bahkan mungkin Amerika Latin, berjudul Cuentos Originales (1965).

Semasa mudanya Bergoglio adalah pembaca sastra yang tekun dan lahap, selain tentunya karya-karya filsafat, teologi, bahasa, dan humaniora yang wajib untuk setiap siswa seminari. Pada 1960 ia memperoleh gelar “licenciatura” (setingkat sarjana) di bidang filsafat, dan selama setahun antara 1964 hingga 1965 bertugas sebagai “maestrillo” (guru muda) pengajar sastra dan psikologi di Colegio de la Inmaculada Concepción, sekolah menengah yang dikelola oleh romo-romo Yesuit. Sekolah ini adalah sekolah menengah tertua di Argentina, berdiri pada 1610. Selama tahun pertama (1964) ia mengajar sastra Spanyol, dan tahun kedua (1965) sastra Argentina. Menurut kenangan para mantan siswanya, kehadiran Bergoglio membawa perubahan besar dalam pengajaran sastra di sekolah itu. Read More…

AE Priyono Dalam Karya Kuntowijoyo

OLEH NEZAR PATRIA
Direktur PT. Pos Indonesia
nezar.patria@jalankaji.net


| |


aepriono
Wabah membuat apa yang tadinya kita anggap tidak normal kini telah menjadi hal normal; mengurung diri di rumah, memakai masker, menghindari bersalaman, membatalkan mudik, lalu membatasi diri ibadah di masjid atau gereja, dan stasiun serta bandara mendadak sepi karena jadwal kereta dan penerbangan menjadi jarang.

Setiap hari kita mendengar laporan tentang kematian dan angkanya terus meningkat dan linimasa media sosial kini lebih mirip seperti dinding kabar duka. Seperti halnya terjadi pada bencana besar tsunami atau letusan gunung berapi, pandemi virus korona ini membuat fakta kematian berpacu di garis grafik yang menanjak jam demi jam, hari demi hari, dan lalu kita menghitungnya sebagai angka-angka, sebagai sebuah statistik tentang kesedihan.

Demikianlah, kesedihan yang terbit saat saya mendengar seorang senior yang saya hormati, AE Priyono berpulang. Kematiannya dilaporkan bukan sebagai korban wabah, namun oleh sakit pneumonia yang sudah diidapnya beberapa waktu, dan kepergian Mas AE itu membuat saya berduka cukup dalam. Saya tak mengenal pribadinya secara dekat meskipun beberapa kali bertemu di forum diskusi di Jakarta, kami tak pernah bekerja bersama, dan juga sedikit sekali punya ke Read More…

Detak-Detak Ginsberg

OLEH ARMAN DHANI
Penulis lepas


| |

Allen Ginbserg bersajak seperti perigi yang mengalir. Bahkan puluhan tahun setelah Howl pertama kali dipersembahkan untuk Carl Solomon, raungan itu masih ada dan berisik. Sajaknya bicara tentang segala yang bacin, tengik, jorok, kerdil, hina, dan disingkirkan. Menjelaskan estetika Ginsberg sama susahnya untuk menjelaskan mengapa kita jatuh cinta pada sepak bola. Tiap derajat sajaknya memiliki metafora yang lekat dengan kondisi lingkungan di mana ia tinggal; kemuakan dan beban.

Harold Bloom menyebut fenomena ini sebagai kecemasan pengaruh atau Anxiety of Influence. Kondisi di mana lingkungan penyair tinggal begitu buruk, atau justru begitu indah, sehingga sangat memengaruhi dramatika puisi si penyair. Ketika  “Howl and Other Poems” diterbitkan di San Francisco pada 1956, kumpulan sajak itu menjadi perhatian karena dianggap amoral. Tentu bukan perihal moral an sich Ginsberg menulis sajak panjang itu, tapi tentang kebebasan, menikmati identitas diri dan kekuatan untuk tidak tunduk pada Moloch, representasi tirani yang mengatur pikiran manusia.

Ginsberg lahir di Newark, New Jersey, pada 3 Juni 1926. Sejak kecil ia memang menyemai bakat sebagai penulis karena tumbuh sebagai anak seorang penyair. Lulus sekolah menengah, ia memilih Columbia University sebagai tujuan studi. Di sini, alih-alih belajar hukum, ia bertemu Jack Kerouac, William Burroughs, dan Lucien Carr. Nama-nama yang kini dikenal sebagai punggawa Beat Generation. Nama terakhir memang tak secemerlang tiga yang utama, Lou, begitu Ginsberg memanggil cinta platoniknya ini, gugur dalam perjuangan menjadi penulis karena membunuh David Kammerer. Read More…