For the Love of Books

A Life Beyond Boundaries: Keluar dari Perangkap Tempurung ala Anderson


OLEH PURI KENCANA PUTRI

Kuala Lumpur, Pekerja Analis Digital Accenture Malaysia | Editor Jalankaji
puri.kp@jalankaji.net

A Life Beyond Boundaries
Buat anak anak jebolan kampus ilmu sosial dan politik, membaca publikasi Benedict Richard O’Gorman Anderson atau yang populer dikenal sebagai Ben Anderson adalah sebuah kewajiban. Kewajiban ini tentu saja didorong dari upaya untuk mendongkrak kemampuan dan pengenalan yang lebih baik tentang Indonesia kepada para mahasiswanya. Tentu saja kewajiban ini sedikit banyak memberikan rasa keterpaksaan. Tapi tidak untuk karya-karya Ben Anderson. Awalnya saya lumayan degdegan saat awal membaca buku Ben Anderson dengan jumlah halaman tebal. Tapi lama-lama saya memiliki pikiran kompetitif – mengapa orang asing (bule, sebagaimana Ben Anderson mengidentifikasikan dirinya) jauh mengenal Indonesia lebih baik luar dalam ketimbang kita orang Indonesia sendiri? Pikiran kompetitif ini semakin kuat ketika saya mengkhatamkan karya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1983); salah satu buku babon sejarah politik Indonesia, yang mengedepankan kajian tentang konsep negara bangsa dengan studi kasus Indonesia.

Saya tidak akan membahas buku babon itu. Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk mengenal siapa sebenarnya Ben Anderson melalui publikasi paripurnanya – sebelum ia meninggal pada Desember 2015. A Life Beyond Boundaries memang tidak sefenomenal Imagined Communities, namun melalui buku ini kita akan mengenal lebih baik figur Ben Anderson; kecintaannya kepada linguistik, sejarah, antropologi dan keberuntungannya untuk mengenal Indonesia lebih baik. Buku ini dapat dikategorikan sebagai buku biografi (memoir), yang buat saya personal berbeda dari banyak buku biografi lainnya. Bias saya mungkin kuat karena saya tumbuh secara intelektual bersama dengan karya karya Ben Anderson; namun bias ini kelak juga bisa kalian semua rasakan ketika mengenal Ben Anderson dengan baik melalui buku ini.

A Life Beyond Boundaries dibuka dengan sejarah hidup Ben Anderson. Ia dilahirkan di Cina, dan dibesarkan di banyak kota di belahan Eropa dan Amerika. Ia memiliki aksen Bahasa Inggris yang aneh. Mungkin karena ia kerap berpindah pindah domisili bersama dengan kedua orang tua dan para saudaranya. Sejak kecil, Ben Anderson diperkenalkan dengan adat dan budaya yang berbeda dengan warna kulit dan rasnya. Perkenalan-perkenalan ini tentu saja tidak melulu membawa kontradiksi yang mencemaskan dalam hidup Ben Anderson. Melainkan, ada ruang-ruang keberuntungan yang Ben Anderson pupuk; ia gunakan untuk melihat dan menavigasikan dunia dengan baik, yang akhirnya membantu kita para pembaca dan akademisi Asia umumnya memiliki kapasitas lebih baik untuk memahami karakteristik warga Asia Tenggara, interaksi sosial dan pola komunikasi, tipologi konflik, hingga relasi kuasa di kawasan ini.

Di buku ini, Ben Anderson juga juga banyak menyisipkan situasi Indonesia pada periode 1965-1966. Periode ini adalah tahun-tahun berbahaya. Ben sempat diasingkan dari Indonesia—ia dilarang masuk Indonesia antara medio tahun 1972 hingga 1998—pasca terbitnya Cornell Paper yang ia tulis Bersama Ruth McVey.


Karir akademik Ben Anderson muda ia mulai ketika menuntut ilmu di Cornell University, dengan kajian studi Asia Tenggara. Dalam buku biografinya, ia menjelaskan bahwa studi Asia Tenggara tidaklah sementereng saat ini. Kajian gurem ini banyak dianaktirikan karena para peneliti sosial politik di belahan Amerika dan Eropa tidak melihat kawasan Asia Tenggara bergengsi laiknya kajian di Amerika Latin dan bahkan China. Perang dingin yang juga meledak di kawasan Indo-China menjadi pintu masuk Ben Anderson masuk ke Indonesia. Mulanya ia mendalami kajian Thailand. Bahasa jadi senjatanya untuk bisa memahami negara monarki ini, yang tidak pernah dijajah bangsa-bangsa Eropa manapun, namun juga memiliki dilema kekuasaan militer yang haus kekuasaan [masih sampai sekarang]. Begitupula ketika ia mendalami Filipina melalui bahasa. Kecakapannya dalam lingustik membuat Ben Anderson mampu masuk di kawasan Asia Tenggara, baik sebagai peneliti ataupun orang yang mencintai bahasa – tidak seperti para koleganya yang memiliki kesulitan untuk memahami dinamika politik dan konflik Asia Tenggara.

Di buku ini, Ben Anderson juga juga banyak menyisipkan situasi Indonesia pada periode 1965-1966. Periode ini adalah tahun-tahun berbahaya. Ben sempat diasingkan dari Indonesia—ia dilarang masuk Indonesia antara medio tahun 1972 hingga 1998—pasca terbitnya Cornell Paper yang ia tulis Bersama Ruth McVey. Cornell Paper adalah kajian mendalam yang berisi fakta dan temuan lapangan tentang konflik berbasis ideologi yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, sebagaimana Komnas HAM melabeli Peristiwa 1965/1966 sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Membaca biografi Ben Anderson yang ia susun sendiri, membuat saya mengurangi suasana kompetisi yang saya ciptakan secara imajiner antara diri saya dengan Ben Anderson. Kerja-kerja penelitiannya ia garap dengan amat bersahaja. Tentu amat jarang kita menemukan intelektual cum Indonesianis yang tetap memiliki kerendahan hati, tapi juga tidak kekurangan humor, yang menempatkan situasi-situasinya dalam relasi yang hampir tidak berjarak dengan subyek risetnya. Akademisi, dan laku penelitian di dalamnya, bagi Ben Anderson adalah kerja kerja yang menempatkan subyek riset setara, tidak mengeksploitasi bentuk interaksi dalam posisi classism (dan bahkan rasisme). Sebuah posisi progresif, mengingat Ben hidup di masa bekas-bekas praktik kolonalisme masih melekat di belahan selatan dunia yang memengaruhi persepsi para peneliti Amerika dan Eropa.

Tempurung yang Ben Anderson ibaratkan di buku ini adalah hambatan-hambatan (boundaries) yang para peneliti barat ciptakan saat ini (atau mungkin masih sampai sekarang?), tanpa mereka sadari memperkuat bias dengan dugaan-dugaan tanpa fakta, dan kerap sekali jatuh pada situasi seperti, “I know Indonesia inside and out.” Baginya, sedekat apapun dirinya dengan subyek penelitian, Ben Anderson adalah tetap orang asing (outsider).

Menutup resensi buku ini, Ben Anderson adalah tipe peneliti yang amat kaya dengan kajian ilmu. Menurutnya interdiciplinary approach adalah modal yang harus terus menerus dikembangkan oleh para peneliti. Kemampuan untuk melihat situasi dengan beragam pendekatan akan memudahkan para peneliti untuk melihat situasi dengan perspektif yang kaya. Saya kira Ben Anderson banyak sekali menggunakan common sense sebagai salah satu upayanya untuk membangun sentimen kepada subyek penelitian; dan hal lainnya adalah faktor keberuntungan yang memang ia akui kerap ia gunakan dalam meneliti kondisi kondisi sejarah, sosial dan politik di kawasan Asia Tenggara. Keberuntungan ini ia gunakan dengan amat baik, bisa dilihat dari daftar wawancara penting bersama figur-figur yang bisa memperkaya laporan penelitiannya. Buatnya waktu bukan sekadar mencari jadwal yang cocok antara si periset dengan subjek penelitian, melainkan waktu dan momentum nampaknya benar-benar ia siapkan dengan matang. Begitu pula ketika ia menyelesaikan naskah buku A Life Beyond Boundaries tepat sebelum ia meninggal dunia. Publikasi-publikasi Ben Anderson tentu amat berharga, dan akan selalu membantu kita mengenal Indonesia dari masa ke masa. Terima kasih, Pak Ben!

Info Buku:


Judul: A Life Beyond Boundaries
Penulis: Benedict Anderson
Tahun Cetak: 2016
ISBN: 978-967-0960-43-2
Halaman: 203 halaman
Penerbit: Strategic Information and research Development Centre