For the Love of Books

Kafka Di Tengah Badai

OLEH YULIANI LIPUTO
Blogger Bandung, Instagram @yuliani.liputo

kafkatheshore2
Setelah membaca beberapa novel Murakami, saya bisa mengatakan saya lebih tertarik pada ekspresi artistiknya, metafora segar, makna tersembunyi, dan dialog-dialog cerdasnya daripada plot cerita, drama dan romansanya. 

Dunia surrealisme yang digambarkan Murakami tentu saja masih menarik, penuh kejutan. Realisme magisnya selalu berhasil membuat kita terlontar ke dunia  lain, terbawa ke dalam imajinasi yang lepas.

Tokoh-tokohnya mengalami banyak penderitaan, kesepian, petualangan seks, krisis, dan kebahagiaan. Namun beberapa hal terasa mengulang dari novel ke novel, Murakami terasa mendaur ulang beberapa trik bercerita dalam novelnya.

Dalam Kafka on the Shore, Murakami  menggambarkan dua perjalanan paralel melintasi ruang dan waktu. Alur pertama dari sudut pandang Kafka Tamura, remaja lima belas tahun yang pergi meninggalkan rumahnya. Bertekad menghindari kutukan Oedipus yang diramalkan ayahnya. Namun, seperti Oedipus, semakin dia berusaha mengelakkan takdirnya, semakin dia mendekati pemenuhannya. 

Alur kedua dari sudut pandang Nakata, lelaki tua buta huruf dengan gangguan mental akibat sebuah peristiwa perang di masa kecilnya, yang memiliki kemampuan berbicara dengan kucing.

Alur cerita mereka berdua terhubung dengan rapi, namun Murakami memastikan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya yakin akan keterkaitan keduanya.

Alur Kafka pada bab ganjil diceritakan dari sudut pandang orang pertama, sedangkan bab genap menggunakan sudut pandang orang ketiga dari dalam kepala Nakata dan, belakangan ditambah dengan Hoshino, pemuda yang menjadi teman perjalanan Nakata. Cara bercerita dengan dua sudut pandang berbeda pada setiap bab ini juga digunakan dalam novel tiga jilid 1Q84, yang berselang-seling antara Aomame dan Tengo pada dua jilid pertama. 

Dalam Kafka on the Shore, Murakami  menggambarkan dua perjalanan paralel melintasi ruang dan waktu.



Murakami telah menulis banyak novel tentang pemuda yang tangguh dan kecewa, dan Kafka tidak terkecuali. Dia ingin menjadi “remaja 15 tahun paling tangguh di dunia”, penuh amarah dan ketidakpuasan pada keluarganya, pada nasibnya.

Dia memiliki alter ego bernama Crow, suara yang menjadi penasihat dan meragukan keputusan-keputusannya, mengajaknya bicara dalam kesendiriannya.

Kekesalan remaja, sikap agresif dan rasa ingin tahu Kafka  membawanya masuk ke dalam peristiwa yang menuntut keberanian dan pengalaman yang melampaui kewajaran bagi usianya.

Jika Kafka adalah ego yang mengamuk dalam buku ini, Nagata yang lebih tua adalah karakter yang lebih canggung. Tak mampu berkomunikasi secara wajar dengan manusia, tapi dia mampu memahami bahasa kucing.

Dalam salah satu perjalanan mencari kucing hilang, dia bertarung dengan seorang yang membunuhi kucing-kucing untuk mengumpulkan jiwa mereka, yang segera mengingatkan kita pada kepompong udara (air chrysalis) dalam 1Q84.

Adegan pemenggalan kepala kucing-kucing ini digambarkan cukup detail dan memualkan, membuat saya terganggu dan terpaksa berhenti cukup lama sebelum melanjutkan membaca.

Alur kisah Nakata jauh lebih surealis daripada Kafka. Dalam dunia Nakata terjadi hujan ikan sarden  dan lintah turun dari langit, kemunculan karakter dengan nama merek Johnnie Walker hingga Kolonel Sanders.

Namun Nakata memiliki martabat dan ketenangan yang teguh. Kedua alur cerita secara perlahan terarah ke titik temu yang menyenangkan, terlepas dari kesulitan-kesulitan yang menghadangnya.

Murakami mungkin punya kepercayaan sendiri tentang hujan badai penuh petir sebagai cara alam untuk menyampaikan peristiwa mengguncang yang menentukan nasib tokoh-tokoh utama dalam ceritanya.  Seperti dalam 1Q84, dalam Kafka On the Shore juga terjadi hujan badai dengan petir menyambar-nyambar yang menjadi latar terjadinya peristiwa yang mengembalikan alur ke jalan yang semestinya. Hujai badai adalah tempat terjadinya titik balik nasib. Seperti yang diungkapkannya melalui Crow: 

“Setelah badai berlalu kau takkan ingat bagaimana kau mampu bertahan melewatinya.. Tapi satu hal yang pasti, setelah keluar dari badai kau bukan lagi orang yang sama dengan yang memasukinya.”

Dalam novel-novel Murakami hampir  selalu ada kucing, aktivitas makan dan memasak di dapur yang digambarkan dengan terperinci, bar temaram yang memutar musik pop atau klasik yang menghubungkan tokoh cerita kita dengan zona surealis yang membantunya melanjutkan misi mencari apa yang hilang.

Dalam adegan-adegan perantara ini sering terjadi dialog menarik dengan selipan referensi pada sejarah, musik, literatur, filsafat. 

Dalam Kafka, kita memperoleh rangkuman Genji Monogatari untuk menepis kecemasan soal hantu, konteks sejarah Perang Sipil Spanyol sambil menikmati omelet, percakapan tentang filsafat Hegel dan Rousseau di tengah layanan fellatio, kisah hidup Beethoven dan Haydn dalam obrolan di kedai kopi.

Meski Murakami mendaur ulang banyak perangkat bercerita dan dunia surealisnya semakin saling mirip, kepiawaiannya membuat perujukan yang mengaitkan itu semua dengan sejarah faktual kita, membuat ceritanya memiliki pesona yang tidak pudar.

Jika novel Murakami berikutnya dirilis, mungkin kita bisa menduga apa yang akan didapat, tapi tetap bisa berharap kebaruan yang mengasyikkan melalui metafor, dialog-dialog, dan frase-frase segarnya.


Info Buku:


Judul: Kafka on the Shore
Penulis: Haruki Murakami
Tahun Cetak: 2005
ISBN: 9780099458326
Halaman: 505 halaman
Penerbit: Vintage