For the Love of Books

Menyoal Ulid Tak Ingin Ke Malaysia

OLEH BOSMAN BATUBARA
PhD fellow, Department of Human Geography, University of Amsterdam

Saya, untuk terlebih dahulu mengantisipasi pertanyaan atau gugatan yang bakal datang terhadap tulisan ini, bukanlah seorang kritikus sastra. Saya juga bukan seorang sastrawan. Ya, beberapa kali saya memang menulis esai tentang sastra, tetapi sampai saat ini saya merasa bahwa karya-karya itu belumlah cukup untuk menjadi modal buat disematkannya gelar kritikus sastra kepada saya. Demikian juga soal sastrawan. Saya memang menulis cerpen, tetapi lagi-lagi rasanya itu juga belum dapat membantu saya hingga saya menjadi pede dan menyebut diri sebagai sastrawan. Karena itu saya memilih posisi yang paling aman sajalah: pembaca. Ya, saya seorang pembaca.

Dalam perjalanan membaca kritik sastra di Indonesia, saya pernah menjumpai dua buah ide tentang sastra Indonesia yang sampai sekarang cukup merasuk dalam ingatan saya yaitu: 1) sebuah pendapat yang menyatakan bahwa novel-novel di Indonesia belakangan ini sangat jarang yang memiliki latar belakang pedesaan. Kalau tidak salah ingat saya membaca pendapat seperti ini dari salah satu wawancara dengan novelis Ahmad Tohari di salah satu majalah yang celakanya saya juga sudah lupa namanya;

dan 2) Saut Situmorang dalam esainya yang fenomenal berjudul "Politik Kanonisasi Sastra" (2007) menyampaikan salah satu permasalahan di dalam kesusastraan Indonesia adalah dominasi “sastra wangi.”

Selain dua poin di atas yang saya dapatkan dari orang lain, saya juga punya pendapat sendiri yaitu: 3) dalam pengalaman saya membaca novel-novel karya penulis kita (Indonesia) saya merasa kadang-kadang ada banyak kebolongan logika di dalamnya, sebuah hal yang akan saya coba jelaskan nantinya.

Ketiga permasalahan sastra tersebut, sependek yang dapat saya pikirkan, dijawab oleh sebuah novel berjudul Ulid Tak Ingin Ke Malaysia (UTIM) karya Mahfud Ikhwan (2009).

UTIM adalah sebuah novel yang digarap dengan serius tetapi tidak dipasarkan dengan baik, persis seperti nasib orang desa Lerok yang diceritakannya. Orang-orang yang tidak bisa menjual. Dalam catatan di akhir novel tertulis: (Jakarta)2004-2009(Jogja). Saya tafsirkan catatan dari penulis ini mengandung arti bahwa novel ini dimulai ditulis di Jakarta pada tahun 2004 dan selesai di Jogja pada tahun 2009. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Meskipun tentu saja hal ini akan mengundang diskusi yang lain: satu tahun yang sangat intens bisa lebih berbobot daripada lima tahun yang tidak berkonsentrasi. Tetapi, bukan di situ poinnya. Bahwa menggarap sebuah karya—saya belum punya pengalaman menulis novel tetapi saya pernah punya pengalaman menulis buku—mungkin menyerupai pengalaman hamil.

Mungkin ini adalah sebuah pengandaian yang keterlaluan dan mengada-ada, tetapi sementara Anda coba terima saja. Dalam prosesnya kita harus terus-menerus memperhatikan karya yang sedang kita garap, membukanya, membaca ulang, kalau perlu mengeditnya kembali, karena kalau semua itu tidak kita kerjakan, maka alamat kita akan melupakan kerja tersebut. Apalagi menulis novel bukanlah seperti menulis tesis, skripsi atau disertasi. Dalam menulis tesis, skripsi atau disertasi, ada ukurannya yang sangat jelas: kalau kamu tidak sanggup menyelesaikannya, maka kamu tidak lulus. Sementara dalam menulis novel, kalau kamu tidak sanggup menyelesaikannya, lalu apa?

Tidak ada kelulusan, tidak ada sanksi. Yang ada hanyalah perasaan terhantui yang diidap oleh si penulis karena dikejar-kejar oleh proyeknya sendiri yang belum selesai. Ini tentu saja dengan pengandaian bahwa dalam proses penulisan novel UTIM tidak dilakukan dengan sistem ijon. Sepintas lalu mungkin melakukan kerja karena ada ancaman sangsi dari pihak lain terlihat lebih berat. Tetapi percayalah, sanksi dari dan terhadap diri sendiri itu jauh lebih berat menanggungnya. Terlalu panjang soal ini.



Apa yang menjadi poin Ahmad Tohari di atas, bagi saya sangat masuk akal. Pertama tentu saja dengan menimbang bahwa beliau sendiri adalah penulis novel dengan latar kampung. Tentu saja ia akan sangat menaruh perhatian yang mendalam kepada novel dengan latar seperti itu. Kedua, sebuah koran pada tahun ini menyatakan bahwa sekitar 54% penduduk Indonesia tinggal di kota. Artinya, kalau kita lihat dari arah yang berbeda, 46% penduduk Indonesia tinggal di kampung. Dari jumlah populasi kampung-kota yang hampir berimbang itu tentu saja menjadi sangat menarik kalau ada temuan bahwa sastra kita didominasi cerita tentang kota. Saya sendiri dalam hal ini belumlah pernah melakukan perhitungan yang serius soal berapa novel latar kampung dan berapa novel latar kota. Kita serahkan saja pekerjaan itu pada mahasiswa yang sedang bikin tugas. Saya percaya saja pada Ahmad Tohari. Ngomong-ngomong saya mau menambahkan satu hal. Sebenarnya saya tidak terlalu suka angka atau statistik. Karena statistik itu cuma angka yang akan membantu menjelaskan argumentasi kita, yang lebih penting adalah cara kita memandang sesuatu, lensanya. Tetapi terserah Anda, ini selera saya.

Kampung semakin penting ketika kita tambahkan soal Orde Baru misalnya yang terkenal dengan kebijakannya yang sangat kota-sentris sehingga terjadilah urbanisasi besar-besaran dan kota-kota jadi penuh orang. Padahal kampung adalah penyuplai makanan. Dalam kasus novel UTIM, kampung adalah penyuplai bengkuang bagi kota. Intinya, dalam konteks Indonesia kampung memegang peranan penting.

Permasalahan kedua tentang sastra wangi juga dijawab dengan sangat lugas oleh UTIM karena novel ini bukanlah sastra wangi. Bahkan, karena latarnya kampung, romansanya adalah romansa remaja kampung. Masalah-masalah yang diangkat adalah masalah kampung seperti pencuri jati, penambang batu gamping, petani bengkuang, remaja desa yang pacaran di samping mesjid dan TKI. Metafora-metaforanya juga sangat khas kampung. Sepertinya saya tidak punya pilihan lain lagi selain menceritakan ulang dengan singkat apa sih sebenarnya isi novel ini.

Novel ini mengambil perspektif dari sudut pandang Ulid, anak desa Lerok, sebuah desa yang terletak di pegunungan kapur, tampaknya, di daerah Jawa Timur sekitar Gresik dan Rembang. Sewaktu Ulid kecil, waktunya dihabiskan bermain di sekitar bapaknya yang bekerja sebagai pembakar gamping yang digunakan untuk membangun rumah sebagai pengganti semen. Di musim tertentu penduduk desa menanam bengkuang di tegalan. Musim panen bengkuang adalah pesta bagi semua orang, mulai dari yang tua hingga yang muda. Panen dirayakan sedemikian rupa.

Suatu ketika setelah panen bengkuang yang berhasil, Ulid dan ayahnya, Tarmidi, pergi ke kota. Mereka membeli kursi dan radio kecil. Sejak itulah hidup Ulid berubah. Dia jadi kecanduan mendengarkan sandiwara radio. Menjadi pakar sandiwara radio. Dan mendapatkan inspirasi-inspirasinya dari sana, termasuk keinginannya untuk mengembara.

Hidup ternyata berubah. Ada masa gamping yang dibakar dan bengkuang tak laku lagi. Gamping tergantikan oleh semen, dan bengkuang dihargai murah sekali. Kedua momen ini merubah drastis hidup orang desa Lerok. Dari sini muncullah ide untuk merantau ke Malaysia.

karena latar novel ini adalah kampung, romansanya adalah romansa remaja kampung



Satu-persatu orang desa Lerok merantau ke Malaysia, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Bagi yang berhasil, mereka menjadi contoh dan memotivasi orang yang lain. Ketika pulang disambut laiknya pahlawan perang yang membawa kemenangan. Sementara bagi yang gagal, tertangkap dan kemudian dibuang migresyen Malaysia, mereka pulang dengan diam-diam.

Suatu ketika, Tarmidi yang bekerja sebagai guru madrasah dan sebelumnya tidak pernah menunjukkan ketertarikan untuk ikut dalam perbincangan mengenai Malaysia, pada akhirnya memutuskan juga untuk ikut mengadu nasib ke Malasysia. Hal ini sangat memukul Ulid, karena untuk keberangkatan Ayahnya ke Malaysia, dua ekor kambing yang sangat disayanginya, harus menjadi korban.

Singkat cerita, waktupun berjalanlah. Ulid sedang di bangku SMA kelas tiga ketika peristiwa tertangkapnya ayahnya oleh bagian migresyen Malaysia terjadi, dan itu ketika Tarmidi sedang kosongan (tanpa izin kerja). Fotonya terlihat di koran-koran baik di Malaysia sendiri maupun di Indonesia. Ulid begitu terpukul. Mimpinya tentang kuliah di jurusan pertanian karena termotivasi untuk meneliti permasalahan mengenai bengkuang di Lerok mulai goyah.

Hingga ada akhirnya Bapaknya pulang tanpa sambutan yang meriah. Ketika itu Ulid sedang dalam masa-masa akhir SMA-nya. Suatu ketika, datanglah keputusan yang menyambar-nyambar. Ibunya, Kaswati, memutuskan untuk berangkat ke Malaysia. Pertimbangannya banyak hal, selain karena sudah tidak ada yang dapat dilakukan lagi di Lerok untuk kebutuhan perekonomian, juga karena si bapak seperti mengalami disorientasi setelah peristiwa pemulangan itu, sementara roda ekonomi keluarga harus tetap bergerak.

Ulid sendiri, selesai SMA, memutuskan untuk ikut merantau ke Malaysia. Meskipun sebenarnya agak terlambat mengingat umurnya sudah lebih dari 17 tahun, karena biasanya remaja Lerok yang berumur 15 tahun sudah merantau ke Malaysia. Sebuah keputusan yang pada awalnya baginya berat, karena dengan itu, ia sekaligus mengubur cita-citanya untuk menjadi insinyur pertanian dan sebenarnya ia sudah melangkah menuju ke sana karena ia lulus PMDK di Universitas Brawijaya.

Tetapi tugas yang lebih besar telah menunggunya, yaitu kebutuhan ekonomi keluarga, Ibunya yang menurut dia sebaiknya tidak usah berada di Malaysia, dan yang tak kalah penting adalah masa depan dan pendidikan tiga orang adiknya.

Poin ketiga, masalah logika. Saya mendapatkan ide ini dari salah satu buku James Scott. Scott bilang (kira-kira, atau sudah saya modifikasi sedemikian rupa?) bahwa dalam sebuah karya ada dua buah logika. Logika besar dan logika kecil. Logika besar mengacu kepada isi karya, dalam hal ini cerita, secara keseluruhan. Dan logika kecil adalah keruntutan dan kerapatan hubungan antar kalimat-kalimat dalam cerita.

Secara logika besar, UTIM sangat masuk akal. Rasanya tidak ada yang tidak masuk akal dalam novel ini. Hal ini sangat penting, karena kalau sebuah novel mengada-ngada, maka akan dengan cepat pembaca (minimal saya) kehilangan selera. Saya beri contoh, dulu sewaktu saya membaca salah satu novel Iwan Simatupang, masih agak susah saya memahami alur bagaimana salah seorang tokohnya bisa pindah ke Kalimantan dan menjadi penggali sumur. Bagi saya itu sangat mengganggu. Atau sebaliknya, Anda bayangkan apa yang akan terjadi dengan 7 jilid Harry Potter kalau ada sebuah konteks saja yang tidak masuk akal di sana.

Di bidang logika kecil, kalimat-kalimat dalam UTIM tersusun dengan sangat rapat. Kadang-kadang ketika saya membaca novel (terutama karya penulis kita) saya sering merasa bahwa di antara dua buah kalimat yang berdekatan, katakanlah kalimat A dan kalimat C, seharusnya pengarang menyelipkan kalimat B. Dalam kenyataannya, kalimat B ini tidak muncul. Ini artinya pengarang sendiri logikanya tidak begitu menerus, atau mungkin dia tidak sabar membangun novelnya. Kalau Anda pembaca novel-novel karya Haruki Murakami, saya pikir Anda tahu apa maksud saya.

UTIM adalah master di kedua bidang terakhir. Konteks dibangun begitu pelan dan sabar. Secara pelan digambarkan bagaimana terjadinya perubahan sosial di desa Lerok melalui pengalaman tokoh-tokohnya. Desa Lerok yang tadinya adalah desa yang nyaris membutuhi kebutuhannya sendiri, hanya dalam jangka waktu sekitar dua puluh tahun telah berubah menjadi sebuah desa yang sangat tergantung ke Malaysia dan sangat konsumtif. Perubahan ini tidak sampai bergenerasi-generasi seperti dalam kasus keluarga Buendia.

Momen-momennya kalau kita sadar sebenarnya sangat jelas, misalnya dapat diidentifikasi dari jumlah televisi yang dimiliki warga yang secara perlahan terus naik, atau juga melalui sumber energi untuk memutar televisi yang terus berubah mulai dari aki, diesel hingga PLN. Ulid yang tadinya di waktu kecil tidak suka Malaysia karena mendengar cerita ayahnya soal kampanye ganyang Malaysia ala Soekarno tetapi belakangan bisa menyukainya. Seperti halnya secara pelan ia menyukai kambing, karena memang bagi warga Lerok ringgit Malaysia lebih menggiurkan daripada rupiah Indonesia.

Atau bahkan dari perubahan konsumsi budaya si Ulid seperti yang dilukiskan dalam salah satu bagian yang sangat saya suka dari novel ini:

"Kalau dulu banyak sapi dan kambing di Lerok, sekarang lebih banyak sepeda Federal dan Honda. Ya, yang kita pakai yang ada saja, jangan mengharap-harap lagi yang tidak ada. Susah kita nanti. Kalau tidak punya, ya pinjam saja. Kalau tidak boleh, ya pinjam yang boleh. Kalau dulu aku sama kamu suka nguping sandiwara di radio, sementara sekarang zamannya telenovela, ya sudah, tonton saja itu telenovela. Kalau belum punya tivi, ya numpang nonton. Beres, toh?"

Di bidang ilmu-ilmu sosial, banyak hal yang saya pikir akan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut dalam novel ini, beberapa pertanyaan berikut mungkin bisa menjadi pemancing:

1] Apa dan bagaimana terjadinya proses tereksklusinya warga dari sumberdaya seperti hutan jati? Kalau Anda mengamati situasi kontemporer Indonesia sekarang, peristiwa tereksklusinya warga dari akses dan kontrol terhadap sumberdaya sekarang terjadi di banyak tempat.

2] Teori migrasi, kenegaraan atau kependudukan seperti apa yang dapat menjelaskan posisi desa Lerok di pedalaman Jawa Timur yang tersambungkan secara langsung dengan Malaysia (bahkan Milo mereka pun made in Malaysia); seperti ada terowongan di antara keduanya.

3] Cara kita memandang TKI. Kita tidak perlu mendiskusikan isu yang sedang hangat di bidang TKI seperti pemerkosaan atau deportasi, tetapi kita bisa mendiskusikan perspektif lain yang nyaris tak/belum pernah dibahas di atas dunia ini.

Setahu saya baru ada satu orang mahasiswa PhD yang sedang riset soal ini. Selama ini ketika orang berbicara soal program pembangunan, maka yang ada dalam perbincangan adalah program pemerintah atau LSM-LSM yang uangnya sering dari hasil merengek-rengek kepada lembaga asing. Bisakah kita melihat peran TKI juga dalam kerangka pembangunan?

Karena memang kenyataannya demikian, mereka pergi merantau ke Malaysia, bekerja sebagai tukang bangunan atau pembantu rumah tangga, pulang membawa uang banyak dan mereka berkontribusi terhadap pembangunan desanya seperti membangun jalan dan masjid (kedua hal itu tejadi dalam kasus desa Lerok). Dan itu adalah pembangunan dari proses dan keringat warga sendiri, bukan melalui proses penyusunan sebuah proposal oleh pemerintah atau LSM.

Terakhir, sebagai pembaca sastra saya kecewa sebenarnya. Karena dalam perbincangan di kalangan orang-orang yang saya kenal sebagai orang yang mengenal sastra—katakanlah di kedai kopi SEMESTA yang konon merupakan salah satu tempat perbincangan soal sastra untuk anak-anak Jogja bagian utara sekarang ini—novel ini belum pernah saya dengar dibicarakan.

Saya sendiri berfikir bahwa sebenarnya novel ini sekualitas misalnya dengan Para Priyayi dan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Tetapi tentu saja ini sebuah pendapat yang sangat buru-buru. Diperlukan lebih banyak pembaca dan lebih banyak pendapat lagi. Saya sendiri mungkin perlu membaca lebih banyak novel lagi.


*Catatan redaksi: naskah ini ditulis bung Bosman di tahun 2013. Novel Ulid Tak Ingin Ke Malaysia baru-baru ini dicetak ulang kembali dan sudah tersedia di pasaran.

Info Buku:


Judul: Menyoal Ulid tak Ingin ke Malaysia
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Jogja Bangkit Publisher, 2009
Tebal :400 halaman
ISBN: -