For the Love of Books

Musik dan Formasi Kelas Menengah Ngehe

OLEH M. RIZKY SASONO
Musisi, mahasiswa doktoral etnomusikologi di University of Pittsburgh

Dalam sebuah telisik tentang kelas menengah Indonesia, Howard Dick meninggalkan definisi usang yang intinya membedakan mereka dengan tuan tanah dan petani. Ia juga menampik rumusan kelas sosial oleh Karl Marx yang hanya mengenal kaum borjuis dan proletar. Kelas menengah juga bukan kelompok di antara mereka yang punya kuasa serta kekayaan dan mereka yang tidak. Mereka punya edukasi, punya sedikit kekayaan, serta kuasa apapun yang bisa mengalahkan kaum para aristokrat.

Definisi ala Eropa ini tidak lagi menjadi rujukan untuk merumuskan kelas menengah, yang konon “ngehe” itu. Bermula dari pemikiran tentang kelas menengah inilah Emma Baulch dapat menghubungkan isu kelas sosial dengan musik populer, terutama dalam payung besar musik rock.

Dalam studi yang lain, kelompok kelas menengah seringkali dikaitkan dengan besar kecilnya pemasukan dan daya pengeluaran sebuah kelompok masyarakat. Seperti studi tentang ketidak-adilan ekonomi yang dilakukan oleh Roger Downey dengan menggunakan beberapa parameter seperti mobil, sepeda motor, televisi, lemari es, dan stereo set. Benar bahwa klasifikasi kelas menengah terkait erat dengan konsumerisme, akan tetapi keberanggotaan kelas menengah tidak hanya didasarkan pada pemasukan dan pengeluaran ekonomi.

Baulch berpihak pada beberapa ilmuwan, yang merumuskan bahwa makna kelas menengah ada pada perilaku sosial dalam konteks privatisasi means of consumption.
Baulch beranggapan bahwa kelas menengah di Indonesia (khususnya Jakarta jika melihat sumber analisis) muncul dari perubahan dalam lingkungan media dan pada jenis musik yang diusungnya, dimana rock dan pop adalah kunci.

Menelisik majalah “Aktuil” yang hanya memunculkan jenis-jenis musik tertentu dalam payung rock dan pop, Baulch menawarkan kelas menengah dengan istilah “producing rock, producing middleness”, ia adalah produk antara pemuda a la nasionalisme dan pemuda yang ingin berjarak dengan orang tuanya, ia terletak di antara rezim politik dan pop populis. Di satu sisi musik rock berada dalam wacana perubahan ideologi dari kungkungan anti-Barat Orde Lama, menuju era keterbukaan a la Orde Baru.

Di sisi lain, ia tidak ingin disamakan dengan pop Indonesia “recehan” atau terlebih dengan dangdut yang dianggap kampungan namun dikonsumsi kebanyakan. Dalam pencarian konstruksi kelas menengah, Aktuil memfasilitasi wacana itu. Di samping itu, ia juga berkontribusi pada anggapan bahwa Orde Baru menghadirkan keseruan dalam bermusik sebagai bagian dari perubahan ideologi

Baulch beranggapan bahwa kelas menengah di Indonesia muncul dari perubahan dalam lingkungan media dan pada jenis musik yang diusungnya, dimana rock dan pop adalah kunci.



Aktuil didirikan tahun 1966 dan Orde baru (militer) yang membuka ruang untuk semua musik yang berkiblat ke Barat. Terbukanya musik pop ini merupakan cara militer melihat musik sebagai sesuatu yang ringan, yang pop, yang fun dan merdeka, dan berharap didukung oleh anak muda (soft power). Afiliasi Aktuil dengan militer dalam skena musik dijelaskan dengan band seperti Dara Puspita yang disponsori oleh tentara. Meskipun demikian, Aktuil tak pernah mempublikasi gambar Dara Puspita atau sosok lainnya menggunakan seragam militer. Dalam penanganan seperti itu Aktuil berjalan.

Selama tahun 1970-an Aktuil berkembang sebagai ruang gedongan yang agak kritis (urban dan terdidik, kaya) dan kritis terhadap militer dan negara. Ia membantu menggodok konsep gedongan itu sebagai media cetak (sesuatu yang bisa terkonsumsi oleh orang terdidik – pembaca terdidik) dan itu memberi makna kepada Aktuil sebagai ruang “public” yang elit. Aktuil juga merupakan agen musik rock - suatu aliran di luar ruang mainstream (liar dan kurang rapi – tidak diterima oleh militer) – misal musisi berambut gondrong tidak bisa pentas di TVRI. Semakin nge-rock Aktuil semakin dia berada di luar mainstream, dan ini memposisikan Aktuil sebagai organ yang kritis terhadap negara dan militer (elit tapi kritis).

Seperti halnya Tempo yang berafiliasi dengan kaum kelas menengah yang terdidik dan kritis, Aktuil pun mambuka wacana itu dengan menghadirkan sosok-sosok penulis eksperimental seperti Remy Sylado (dengan puisi mbeling-nya) dan Yudhistira Massardi. Dengan suara-suara kritis dan kesusasteraan baru maka yang terbentuk adalah kelas menengah yang berjarak dengan negara (karena mereka kritis terhadap pop Indonesia yang difasilitasi militer).

Baulch mengajak kita berpikir bahwa signifikansi perubahan media telah melahirkan konsep tentang kelas menengah, seperti halnya signifikansi kelahirannya dari struktur ekonomi dan politik. Hal ini juga menjelaskan mengapa terma “Publics” dipakai sebagai judul buku. “Public” berarti kolektif terbayang – yang mengacu pada teks tertentu. Aktuil menumbuhkan sebuah kelompok yang terhubung satu sama lainnya karena sama-sama membaca Aktuil. Musik populer adalah kunci, tidak hanya sebagai ekspresi atau artikulasi kelas sosial, namun juga erat kaitannya dengan pembentukannya. Tanpa musik populer kita tidak akan menemui kelas menengah.

Salah satu aspek yang penting dalam formasi kelas menengah ditandai dengan keberjarakan musik rock dari negara. Musik rock jarang ditampilkan di TVRI (negara). Rock juga berjarak dari dangdut. Tentu Rhoma Irama punya dinamika tersendiri menanggapi ini, namun di sini juga menarik melihat bahwa dangdut juga tidak pernah ditayangkan oleh televisi pemerintah. Di awal Baulch beranjak menjajaki terma "gedongan" dan "kampungan". Kata "gedongan" jarang digunakan karena sudah ter-naturalisasi, namun kampungan seringkali menjadi terma pemisah. Aktuil adalah organ untuk mengartikulasikan pemisahan ini dengan menganggapnya sebagai genre bawah. Dengan cara ini media menjadi manifestasi dari pemisah kelas sosial.

Wacana pemisahan kelas yang terjadi melalui perubahan lingkungan media di tahun 1960-1970-an tetap terjaga sampai abad ke-21. Tak ada yang berubah banyak. Bahkan dalam kasus Kangen Band yang memang “kampungan” karena ke-daerah-an serta status mereka sebagai bekas pengamen jalanan. Kangen Band digiring oleh kemewahan industri musik lokal untuk dipasarkan sebagai “(aku memang) kampungan.” Kasus Kangen band memperlihatkan adanya semacam kebanggaan dalam mobilitas ke-atas. Tentunya pencapaian ini adalah narasi yang dihembuskan korporat industri musik. Salah satunya adalah wacana “Pop Melayu” yang samasekali tidak berhubungan dengan kaidah musikalitas Melayu yang selama ini menjadi bahan bacaan para etnomusikolog.

Kangen Band mengusung genre musik pop Indonesia, itulah yang ada dalam benak mereka. Mereka beorientasi dan membawakan lagu-lagunya dengan cara yang diusung supergup pop Indonesia seperti Peter Pan. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Musik Melayu. Kangen Band hanyalah “off-key pop music.” Narasi ini hanyalah cara menggodok ala korporat, namun hasilnya bisa terlihat dari pendekatan teknologi yang mewarnai boom musik lokal di dekade 2000-an.

Kangen Band dijuluki sebagai “King of RBT: (Ring back Tone)”. Di saat format mp3 dan VCD musik-musik lokal dapat diakses di tenda-tenda di emperan jalan, sesaat RBT menjadi medium kapitalis yang mempersatukan raksasa-raksasa produser musik, televisi, industri telekomunikasi dalam berbagi hasil – yang nilainya tidak sedikit. Di samping perspektif ekonomi tentu ada nilai budaya yang bisa diambil dalam kasus ini, seperti reclaiming Pop Indonesia. Atau nilai teknologi dimana RBT lewat telepon seluler murahan menjadikan kelas bawah ikut berpartisipasi sebagai warga konsumen (consumer citizen).

Selain transformasi Aktuil dan warisan wacana pemisahan kelas dalam kasus Kangen Band, Baulch menelisik munculnya kembali God Bless di tahun 2004 dan album kompilasi keluaran SONY Music berjudul “Tribute to Ian Antono,” salah satu maestro dari kelompok gaek God Bless yang berdiri di era awal orde baru 1973.

Apa yang tersisa pada industri musik yang sedang mencari cara untuk bertahan hidup? Akankah lebih berharga jika mengamini prestise sekelompok musik legendaris? Kerangka nostalgia dalam melihat fenomena comeback ini menyisakan pertanyaan: Apakah nostalgia merupakan produk dari kebijakan pasca-otoriter, atau hanyalah sebuah fitur modernitas kapitalis pasca-industri? Konsep nostalgia pra-modern mengidentifikasi “dulu” berbeda secara kualitatif dengan “kini”. Konsep nostalgia God Bless lebih cenderung mengartikulasikan “kini” daripada “sesuatu yang pernah terjadi.” Tak heran jika kemasan album “Tribute” tak mengindahkan nilai-nilai kearsipan dan lebih mementingkan corporate branding SONY Music. Bisa jadi nostalgia dalam industri musik dibatasi oleh tekanan tertentu untuk menutupi nostalgia perih yang mengawali perubahan konstelasi media pasca tahun 1965, permulaan Orde Baru dan mitos-mitos yang menyertainya.

Sebagai ilmuwan media dan komunikasi Baulch berhasil mengurai relasi kelas sosial, media, dan teknologi terkait dengan rezim politik, rezim ekonomi, rezim estetik. Buku ini lumayan untuk mengawali proses kritik terhadap media dan industri musik Indonesia sembari berkontemplasi kritis atas konsumerisme kelas menengah, yang “ngehe” memang!


Info Buku:


Judul: Genre Publics: Popular Music, Technologies, and Class in Indonesia
Penulis: Emma Baulch
Penerbit: Middletown, CT: Wesleyan University Press, 2020
Tebal :227 halaman
ISBN: 978-0-8195-7963S=