For the Love of Books

Pesan Untuk Ekonom, Dari Banerjee dan Duflo

OLEH LESTARY J. BARANY
Research Assistant, Departemen Ekonomi CSIS

banerjeeduflo
They are not blind to the gains of trade, but they also see the pains,” tulis Banerjee dan Duflo.

Kutipan di atas berasal dari buku karya Banerjee dan Duflo yang mencoba menjelaskan berbagai persoalan besar seperti globalisasi, imigrasi, perubahan iklim dan kemajuan teknologi.

Di tahun 2019, Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer menerima penghargaan Nobel Prize in Economics Sciences atas pendekatan eksperimental mereka dalam mengurangi kemiskinan global.

Duflo sendiri merupakan perempuan kedua dan yang termuda yang pernah menerima penghargaan ini. Sudah barang pasti namanya saya masukkan dalam daftar panutan untuk #WomeninEconomics.

Salah satu kutipan Duflo yang paling saya senangi ketika diwawancarai terkait penghargaan ini adalah “we need to show younger people that economics is relevant to problems that they care about”. Well, mungkin Duflo sudah sering menerima keluhan mahasiswanya tentang apa makna dari beragam model matematika ekonomi dan berbagai statistik yang mereka temui di ruang kelas? Dan bagaimana itu bisa membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari?

Yang jelas, selang beberapa minggu setelah menerima penghargaan tersebut, Duflo dan Banerjee merilis sebuah buku berjudul Good Economics for Hard Times. Di tahun berikutnya, Bill Gates mencantumkan buku ini ke dalam lima rekomendasi bukunya.

Dalam ulasannya, Bill Gates menyampaikan bahwa seringkali dalam memilih buku terkait ekonomi, Ia sering khawatir bahwa ekonom tidak rendah hati mengenai kekurangan metode bidang keilmuan ini. Tentu, hal tersebut tidak dilakukan oleh kedua penulis dalam buku ini.

Good Economics for Hard Times adalah buku yang sudah dinanti karena kerinduan melihat ekonom yang rendah hati mengakui keterbatasan metode yang mereka gunakan dan ketidaktahuan mereka. Ada keresahan melihat ekonom “tenggelam” dalam jargon-jargonnya manakala berhadapan dengan publik, berlaku arogan yang mengusik hati, dan oversimplifikasi persoalan dengan asumsi-asumsi dan keterbatasan metodenya yang agaknya jarang dijelaskan dengan transparan.

Di bagian awal buku ini, penulis yang merupakan pasangan ekonom yang juga mendirikan Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) – sebuah institusi riset yang berfokus pada pengurangan kemiskikan – menceritakan hasil survei di Inggris dan Amerika tentang profesi apa yang paling dipercayai masyarakat saat orang dengan profesi tersebut mengemukakan pendapat sesuai keahliannya. Hasilnya, ekonom adalah profesi kedua terbawah (setelah politikus) yang paling kurang dipercayai publik.

Penulis mengangkat setidaknya dua kemungkinan yang dapat menjelaskan apa yang menggerogoti kepercayaan publik pada ekonom. Pertama, begitu banyak bad economist yang berkeliaran. Bad economist ini ‘berlindung’ di balik jas dan dasi serta jargon-jargon intelek mereka. Tidak jarang, mereka adalah kaum yang memproklamirkan diri sendiri sebagai ekonom.

Kedua, ekonom akademisi nampaknya jarang sekali menjelaskan alasan yang rumit di balik kesimpulan mereka yang lebih bernuansa. Tidak banyak ekonom yang mau tampil di media salah satunya karena selalu ada risiko terdengar “setengah-setengah” atau ucapan yang “dibolak-balik”, baik sengaja atau tidak, yang kemudian merujuk pada arti yang sangat berbeda.

Dalam bukunya ini, Banerjee dan Duflo mengakui bahwa ekonom seringkali salah


Dalam hemat saya, sepertinya hal serupa juga terjadi di Indonesia. Di media arus utama dan media sosial, seringkali opini dari orang yang menamakan dirinya ekonom menjadi viral di saat belum tentu pendapat tersebut berlandaskan bukti. Masyarakat yang tidak memiliki latar belakang ekonomi dan mungkin tidak memiliki akses terhadap informasi yang benar kemudian dikacaukan pikirannya.

Sementara itu, ekonom akademis sering kali menahan diri untuk untuk berbicara atau berkomentar dengan sangat terbatas karena begitu berhati-hati agar omongannya tidak dipelintir atau disalahartikan. Selain itu, ada juga kasus di mana ekonom ramai-ramai melakukan prediksi – misalnya tentang pertumbuhan ekonomi – yang ternyata tidak tepat. Saya lalu teringat salah seorang dosen pernah berucap di ruang kelas, “ekonom paling senang sekali memprediksi sesuatu, kemudian apabila salah, dengan sangat meyakinkan ekonom akan menjelaskan mengapa prediksinya tersebut salah.”

Dalam bukunya ini, Banerjee dan Duflo mengakui bahwa ekonom seringkali salah. Pasalnya, mengutip dari buku ini, “Economists are more like plumbers; we solve problems with a combination of intuition grounded in science, some guesswork aided by experience, and a bunch of pure trial and error ” (Hal. 7)

Ada banyak hal yang sulit diprediksi karena pada dasarnya bidang keilmuan ini tidak berakar pada hukum alam – seperti gravitasi – melainkan sifat alamiah manusia yang kompleks. Sebagai ilustrasi, kesejahteraan manusia tidak terbatas pada hal-hal materil seperti pendapatan. Tetapi manusia juga memiliki keinginan mendalam untuk interaksi sosial dan kehormatan untuk dipenuhi. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi perilaku manusia dalam membuat keputusan.

Studi kasus yang diangkat dalam buku ini memang kebanyakan berlatar di Amerika Serikat. Akan tetapi, buku ini relevan bagi pembaca di negara berkembang seperti Indonesia karena secara konsep akan mencerahkan dan memperkaya diskusi atau perdebatan mengenai isu-isu penting dari sudut pandang ekonom.

Selain itu, kedua penulis beberapa kali mengungkit Indonesia dalam ilustrasinya walaupun sangat terbatas. Misalnya, saat membicarakan mengenai masalah konektivitas dalam negeri dan kaitannya dengan perdagangan internasional (hal. 89) dan penjelasan ekonomi sederhana mengenai perilaku fanatisme (hal. 111).

Buku ini memikat saya dan mendorong untuk terus membalikkan halaman. Di saat yang sama, buku ini tidak harus dibaca berurutan, kita bisa melompat ke topik-topik yang ingin kita ketahui lebih dalam. Misalnya, isu mengenai globalisasi pada bab “The Pains from Trade”, kemajuan teknologi seperti robotisasi dan artificial intelligence pada bab “Player Piano”, dan diskriminasi pada bab “Likes, Wants, and Needs”.

Buku ini juga tepat dibaca oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan di bidang ekonomi sebelumnya tetapi tertarik untuk melihat bagaimana perdebatan antar para ekonom mengenai kebijakan-kebijakan terkait berbagai persoalan penting dekade ini.

Akhirnya, buku ini penting bagi para ekonom dan mereka yang ingin menjadi ekonom. Mungkin akan ada banyak ketidaksepakatan dengan gagasan dan pendekatan yang dilakukan Banerjee dan Duflo. Namun, setidaknya buku ini bisa menjadi bahan refleksi tentang metode yang selama ini digunakan, kelebihan dan kekurangan ekonomi sebagai social science, dan apa yang bisa ekonom lakukan dalam diskursus publik mengenai isu-isu ekonomi di masa kini.

Lagi-lagi, mengutip Banerjee dan Duflo, “the call to action is not just for academic economists – it is for all of us who want a better, saner, more humane world".


Info Buku:


Judul: Good Economics for Hard Times
Penulis: Abhijit V. Banerjee dan Esther Duflo
Penerbit: Public Affairs, 2019
Tebal :402 halaman
ISBN - 13: 978-1-61039-950-0 53000