For the Love of Books

The Meursault Investigation Menggugat Albert Camus

OLEH NANDA WINAR SAGITA
Guru sejarah, penulis lepas

Siapa pun yang sudah membaca The Stranger karya Albert Camus, semestinya harus membaca juga The Meursault Investigation karya Kamel Daoud. Ingat penutup bagian pertama—yang juga paling banyak dipuji—dari novel singkat karya Camus tersebut?

Tepatnya saat Mersault, dengan sikap nihilis dan segala ketidakacuhannya pada dunia, menembaki seorang Arab di pantai bahkan setelah si Orang Arab itu tergeletak tidak berdaya. Ya, buku ini adalah jawaban dari tragedi tersebut.

Baiklah, kalau kamu lupa, saya akan mengutip adegan itu sekilas di sini:

“... seluruh diriku meregang, dan aku menekankan tanganku pada pistol. Perlatuk tertekan, aku menyentuh bagian tengah gagang pistol yang licin, dan saat itulah, dalam suara yang sekaligus kering, semua itu dimulai. Aku mengibaskan keringat dan matahari. Aku mengerti bahwa aku telah menghancurkan keseimbangan hari, kebisuan luar biasa dari sebuah pantai di mana aku pernah merasa bahagia. Lalu aku menembak lagi empat kali pada tubuh yang tidak bergerak dengan peluru-peluru menembus dan tidak timbul lagi. Dan semua itu seperti empat letusan singkat yang kuketukkan pada pintu kesengsaraan.”

Keseluruhan alur dalam novel ini adalah gugatan terhadap aksi pembunuhan tersebut. Adapun yang digugat oleh penulis melalui narator yang bernama Harun adalah ketika Meursault, narator dalam The Stranger, hanya mengganggap aksi pembunuhan itu sebagai krisis eksistensial dalam dirinya; sama sekali bukan kejahatan biadab yang harus disesali.

Selain itu, korban yang menjadi target pelampiasan diri dari Meursault hanya disebut sebagai Orang Arab, dan sampai tujuh dekade berlalu orang-orang hanya mengenalnya dengan sebutan itu.

Cerita bermula ketika Harun, seorang lelaki tua berusia sekitar 70 tahun, sedang minum di bar favoritnya. Saat itu dia didatangi oleh seorang mahasiswa yang tertarik untuk mendalami kasus pembunuhan tersebut. Harun sendiri adalah adik dari si Orang Arab yang ternyata bernama Musa. Dia baru berusia tujuh tahun ketika Musa dibunuh oleh seorang pemuda Prancis, pada suatu sore di salah satu pantai Aljazair di tahun 1942.

Harun menjelaskan sosok Musa adalah tulang punggung bagi keluarganya; dan ketidakpulangannya pada hari itu telah mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Dari titik inilah kita sebagai pembaca diajak untuk menyelami kasus tersebut dari sudut pandang Harun. Bahkan sejak kalimat pertama dari The Meursault Investigation kita sudah tahu kalau Kamel Daoud sedang mengejek The Stranger: “Ibu masih hidup sampai hari ini,” tulisnya. Bagi Harun, kemunculan Musa dalam catatan Meursault adalah sebuah penghinaan yang menyakitkan.

Bagaimana pun juga, Harun tahu catatan tersebut telah diterbitkan sebagai buku yang terkenal dan Meursault dianggap sebagai salah satu penulis yang dikagumi di seluruh dunia. Melalui buku tersebut, orang-orang masih membicarakan kasus pembunuhan si Orang Arab, tapi mereka hanya peduli pada nasib Meursault. Musa dilupakan begitu saja lantaran Meursault adalah seorang penulis yang mumpuni sehingga berhasil membuat orang-orang mencintainya dan melupakan kejahatannya.

Di samping itu, Musa hanya orang miskin buta huruf yang diciptakan Tuhan semata-mata hanya untuk mati diberondong peluru dan kembali menjadi debu. Begitulah Harun memulai kisahnya.

Suatu hari, ketika Harun masih berusia tujuh tahun, Musa tidak pulang dari pekerjaannya sebagai seorang kuli di pelabuhan. Mulanya dia dan ibunya tidak menyadari telah terjadi sesuatu; bahkan si ibu yang percaya pada takhayul pun tidak merasakan adanya gelagat buruk sampai tersiar kabar bahwa seorang Arab telah dibunuh oleh seorang Prancis.

Ketika tetangga mereka datang untuk menyampaikan belasungkawa, ibunya langsung meratap seperti orang gila. Dan sejak saat itulah, Harun tahu hidup mereka tidak akan sama lagi.

Bagi Harun, Musa bukan hanya seorang kakak, melainkan juga sosok pengganti bagi ayahnya yang telah meninggal. Setiap Musa pulang kerja, dia selalu naik ke punggung Musa dan bercengkrama layaknya hubungan keluarga yang bahagia. Dia mencintai Musa, meski mengaku tidak begitu mengingat wajahnya lantaran saat kakaknya meninggal dia masih belia.

Setelah peristiwa itu, Musa dan ibunya memutuskan untuk meninggalkan kota Aljier. Kemudian mereka tinggal bersama pamannya yang berwatak buruk, sebelum akhirnya pindah ke pedesaan Hadjout. Di sana mereka bekerja di sebuah pertanian, tapi karena pekerjaan itu terlalu berat sedangkan bayarannya kecil, akhirnya ibunya mendapatkan pekerjaan baru sebagai pembantu di sebuah rumah di pemukiman keluarga Prancis.

Setelah kemerdekaan Aljazair, keluarga itu melarikan diri dan rumah tersebut beralih menjadi milik mereka.

Berbulan-bulan kemudian, ibunya tidak berhenti untuk menyelidiki kasus kematian Musa. Dia sedih karena pihak berwenang tidak memberi penjelasan pasti tentang kasus tersebut, bahkan mereka sama sekali tidak mengembalikan jenazah Musa untuk dikuburkan secara layak.

Hal itu menyebabkan ibunya hampir gila dan mebuat Harun membenci dirinya sendiri yang hidup lebih lama dibandingkan Musa. Satu-satunya informasi yang bisa mereka dapatkan tentang kasus tersebut adalah kliping koran yang berbahasa Prancis.

Setelah masuk sekolah, Harun mulai mempelajari bahasa tersebut dan membacakan koran itu kepada ibunya. Namun karena kurangnya informasi yang ada di sana, Harun membesarkan hati ibunya dengan mengarang-ngarang cerita kalau Musa mati sebagai seorang martir.

Suatu hari mereka didatangi oleh seorang Prancis yang merupakan rekan lama dari pemilik rumah mereka sebelumnya. Karena sebuah insiden, Harun menembak orang Prancis itu dengan pistol tua peninggalan si tuan rumah dan menyebabkan Harun dipenjara.

Bagi ibunya, itu adalah balasan yang sepadan atas kematian Musa. Beberapa tahun kemudian, seorang wanita mendatangi mereka untuk mewawancarai keluarga Orang Arab yang dibunuh oleh Meursalut. Di sanalah Harun tahu ternyata pembunuh kakaknya telah menuliskan kisah itu dalam sebuah buku, yang sialnya hanya menampilkan Musa sebagai bagian kecil yang terkesan tidak penting.

Begitulah awal mulanya Harun tumbuh menjadi orang yang tidak percaya pada Tuhan. Dia menganggap kehidupan orang kecil seperti mereka bukan hanya tidak penting di mata orang-orang, melainkan juga di mata Tuhan.

Dia tidak hanya skeptis pada agama, melainkan juga membenci kehidupan munafik orang-orang beragama di Aljazair. Dia bahkan sempat berdebat dengan seorang imam, sehingga membuatnya dikucilkan oleh masyarakat sampai usia tuanya.

Di akhir buku, dia membayangkan dirinya memanjat menara masjid dan meneriakkan hujatan kepada Tuhan dan agama dengan pengeras suara, sehingga membuatnya ditangkap oleh massa dan dieksekusi dengan penuh sorakan kebencian; sebagaimana harapan Meursault sebelum dieksekusi.

Secara keseluruhan, di dalam buku ini Daoud memang bertujuan untuk menggugat pandangan Camus atas orang Arab, khususnya Aljazair yang dalam novel The Stranger masih menjadi wilayah koloni Prancis.

Penampilan sosok Musa yang hanya disebut sebagai Orang Arab, menurut Daoud adalah bentuk peremehan manusia Barat dalam memandang manusia lain yang dijajahnya. Bagaimana pun juga,

Orang Arab yang dibunuh oleh Meursault itu punya nama, punya keluarga, dan punya kisah hidup yang barangkali jauh lebih menarik dari kisah hidup Meursault.

Dalam hal ini, kita memang harus sepakat bahwa membayangkan Sisifus yang mendorong batu ke atas gunung itu bahagia adalah sebuah kekeliruan.

Penampilan sosok Musa yang hanya disebut sebagai Orang Arab, menurut Daoud adalah bentuk peremehan manusia Barat dalam memandang manusia lain yang dijajahnya


Di samping itu, gugatan Daoud juga tertuju pada kehidupan beragama, dalam hal ini tentu saja Islam, di Aljazair. Sebagai seorang ateis, Harun mengaku hafal seluruh isi Al-Quran. Atas dasar itu pula dia menyampaikan pandanganya atas surga yang digambarkan oleh kitab suci tersebut.

Pada perbincangannya di bar dengan mahasiswa yang menemuinya, Harun mengatakan: “... kau hanya akan diizinkan untuk menenggak minuman keras terbaik setelah mati, bukan sebelumnya. Itulah yang dikatakan oleh agama, saudaraku. Oleh karena itu selagi masih sempat, ayo minumlah. Karena setelah kamu mati, satu-satunya bar yang masih buka hanya ada di surga.”

Selain itu, Daoud juga menjelaskan secara alegoris tentang hubungan Musa dan Harun yang dalam Al-Quran—dan kitab suci agama abrahamik lainnya—adalah dua bersaudara.

Bukan hanya itu, dalam kehidupannya pun Daoud pernah dikecam dan mendapatkan fatwa pembunuhan oleh salah satu ulama di Aljazair, yaitu Abdelfattah Hamadache Zeraoui.

Dia dianggap telah murtad karena mempertanyakan Al-Quran dan Islam. Atas penistaan yang dituduhkan padanya, pada 8 Maret 2016 Daoud divonis tiga tahun penjara dan denda 50.000 dinar. Namun setelah mengajukan banding, hukuman itu dicabut oleh pengadilan.

Buku The Meursault Investigation adalah novel debutnya, dan barangkali adalah karya terbaiknya. Novel ini masuk ke dalam daftar 10 Buku Terbaik versi The New York Times dan Majalah Time. Bukan hanya itu, dalam sebuah ulasan singkat, The Guardian juga melakabkan novel ini sebagai sebuah karya klasik!

Info Buku:


Judul: The Mersault Investigation
Penulis: Kamel Daoud
Tahun Cetak: 2005
ISBN: 2015
Halaman: 143 halaman
Penerbit: Other Press